Header Ads

Ada Puasa di Setiap Agama Sebuah Tradisi Menuju Inklusifitas



Walhasil, dengan beraneka ragam tujuan, dan didorong oleh motivasi yang berwarna, puasa dilakukan – demi kesehatan, pengendalian diri, mengurangi berat badan, memperlambat proses penuaan, bahkan ingin memperoleh kecantikan. Namun sejak awal sejarah kemanusiaan puasa lebih dikenal sebagai ajang gerakan spiritual. Sikap menahan diri dari segala kebutuhan biologis jasmani, dianggap sebagai bentuk aktualisasi diri terhadap Sang Maha Tinggi. Puasa juga disimbolkan sebagai bentuk pembebasan dari pasungan sifat kebinatangan manusia yang menghambat ruang gerak menuju Tuhan.

Semenjak jaman dahulu hingga sekarang, hampir semua agama dan aliran filsafat keagamaan menganjurkan bershaum untuk tujuan penyucian jiwa. Seperti aliran filsafat Yunani_Romawi kuno, Pythagorean, berpendpat bahwa puasa merupakan cara untuk meraih kembali sifat dasar hakikat manusia. Shaum (puasa) bagi para elit agama Hindu dan lainnya merupakan agenda rutin. Khususnya untuk mempersiapkan diri dalam memasuki upacara-upacara ritus keagamaan. Demikian halnya dengan tradisi klasik agama-agama di Cina. Chai (ritual puasa fisik), yang kemudian dimodifikasi oleh aliran Cina Taoisme menjadi Hsin Chai (puasa jiwa) yang merupakan ajaran khusus.

Agama Budha-pun ada tradisi puasa. Walau Siddha Gautama (“Mbahnya” Budhisme) menganjurkan moderasi dalam praktek puasa, tidak sedikit para Budhisme (pengikut Budha) yang melakukan puasa pada hari-hari biasa (makan sekali dalam sehari), dan puasa penuh pada awal dan pertengahan bulan. Pada masa mutakhir, Budhisme banyak yang berpuasa empat kali sebulan sebagai bentuk intropeksi diri.

Dalam tradisi Mesir Kuno, para “ulama”-nya berpuasa setiap kali menerima pesan-pesan Tuhan. Hal ini karena puasa dianggap dapat mempertajam fungsi indra dan menjernihkan rasio, sehingga tabir kebenaran mudah tersingkap.

Masyarakat “kuno” atau lebih dikenal dengan sebutan masyarakat “primitif”, berpuasa guna mendapatkan sesuatu yang magis (kekuatan gaib) agar dapat mengatasi kebiadaban alam lingkungannya. Bagi mereka, objek-objek alam sangat mempengaruhi terjadinya malapetaka. Untuk menghambat “kebrutalan” objek-objek alam inilah maka puasa berkala dilakukan. Selain itu, mereka juga percaya bahwa kekuatan-kekuatan “iblis” sering menyelinap ke jiwa manusia melalui makanan. Dengan demikian agar terhindar dari godaan ‘syetan’ mereka pun berpuasa sebagai bentuk penyucian jiwa dan alat untuk mempersatukan hubungan mereka dengan Yang Maha Kuasa.

Meski bukan karena motivasi keagamaan, pada moment-moment tertentu puasa dijadikan sebagai ajang peningkatan moralitas dan budi luhur. Bagi yang berpuasa seperti ini biasanya bertujuan untuk melampaui tingkat moralitas rata-rata anggota masyarakatnya. Dan puasa yang demikian pernah dilakukan oleh Mahatma Gandhi ketika ia memprotes aksi kekerasan yang melanda masyarakatnya.

Agama Yahudi, Kristen dan Islam, juga menjadikan puasa sebagai media standar untuk mengekspresikan kedekatan, kecintaan, permohonan rahmat dan ampunan dari Sang Khalik. Dalam bahasa Islamnya, shaum mengantar kepada maghfirah (pengampunan dosa), rahmah (anugerah rahmat) dan al-barqah (mendapatkan keberkahan) sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi Muhammad Saw.

Orang-orang Yahudi berpuasa dalam tiga kesempatan. Pertama, persiapan untuk melaksanakan tugas keagamaan. Kedua, pada saat-saat berduka. Ketiga, mereka berpuasa dalam rangka bertobat dan mendekatkan diri pada Yahweah, khususnya dalam suasana menghadapi kesulitan. Namun, agama Yahudi hanya mewajibkan berpuasa bagi kaumnya sehari dalam setahun, yakni pada hari Taubat. Pada umumnya jama’ah Yahudi tidak meninggalkan kewajiban ini. Dan dalam tradisi mereka, puasa Senin-Kamis pun dianjurkan, sebagaimana sunnah Rasul Saw dalam agama Islam.

Dalam agama Kristen, tradisi puasa dilakukan karena mengikuti jejak Isa a.s yang melaksanakan puasa selama 48 hari di Sahara sebagai betuk pendekatan diri kepada Tuhan. Isa a.s menganjurkan kaumnya berpuasa dengan hati yang tulus dan dibarengi sikap mengingat Tuhan dan berbuat kebajikan.

Sementara dalam Islam, puasa bertujuan untuk memperoleh ketaqwaan (al-Baqarah; 183). Tujuan tersebut dapat tercapai hanya dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Sabda Nabi Saw: “Betapa banyak yang berpuasa namun hanya merasakan lapar dan dahaga saja”. Hampir sama dengan apa yang dianjurkan Isa a.s “Berpuasalah dengan hati tulus dan dibarengi dengan sikap mengingat Tuhan dan berbuat kebajikan.”

Sebagaimana yang dipaparkan di atas, tentang tradisi puasa yang merupakan milik setiap agama (meski tidak semua agama dan aliran kepercayaan kami sebutkan), maka kita harus mampu menunjukkan apresiasi terhadap siapa saja yang bershaum. Sikap apresiatif, sekurang-kurangnya dengan menahan diri untuk tidak secara terbuka dan sengaja membagkitkan rasa lapar dan dahaga orang yang telah melaksanakan ibadah puasa tersebut. Di samping itu kita juga harus mengkatualisasikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam puasa sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul