Header Ads

Ramadhan, Ajang Refleksi atau Komersialisasi Agama ?


Dari waktu dua belas bulan yang Allah ciptakan, ada satu bulan yang paling istimewa yaitu bulan Ramadhan. Bulan bagi umat Islam sebagai sarana pendidikan untuk melatih diri menahan hawa nafsunya, dan merupakan sarana yang efektif dalam meredam masyarakat dari hedonisme. Melalui Ramadhan dapat menumbuhkan kepekaan serta kesetiakawanan sosial.

Kehadiran bulan suci Ramadhan merupakan anugerah terbesar, bagi umat Islam. Selain menjadi moment yang tepat dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan, Ramadhan juga menjadi ajang menumbuhkan kepekaan serta kesetiakawanan sosial. Seperti melaksanakan tarawih berjamaah, merupakan moment berharga bagi seorang Muslim untuk bersilaturahmi sekaligus ajang konsolidasi internal terkait masalah hidup dan kehidupan dalam beragama maupun bermasyarakat.

Kehilangan Esensi

Bulan yang telah disakralkan dalam Al-qur’an ini jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dapat melahirkan semangat pergerakan (jihad) seorang Muslim yang tangguh dalam menuntaskan pelbagai polemik keberagamaan dan kebangsaan. Akan tetapi, jika hanya sekedar untuk ”penyedap rasa" beragama, maka yang terlihat hanyalah sebuah pemandangan indah yang tertutup kabut hitam tebal, distorsi.

Dalam bahasa GUS MUS, seakan-akan kita hanya menunggu datang dan perginya Ramadan, lalu setelah itu kembali kepada kesibukan lain yang biasa kita lakukan di sebelas bulan yang lain. Seakan-akan kita menghormati Ramadan hanya pada Ramadan. Kita berpuasa, menahan diri, hanya pada Ramadan. Termasuk berakrab-akrab dengan keluarga pun hanya pada Ramadan.

Penyimpangan seperti inilah yang tengah melanda masyarakat kita karena agama hanya diekspresikan dari kulit luar dan tidak melihat esensinya, sedangkan subtansi spiritualnya terlupakan. Alih-alih berbicara spiritualitas, akhir-akhir ini spritualitas keberagaman kita diperlihatkan melalui berbagai media, seperti elektronik (televisi) maupun
media cetak (koran).

Peristiwa dalam mediaisasi spiritualitas kebergamaan ini merupakan ajang pengkaburan nilai esensi agama. Dikatakan sebagai sosok Muslim yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi hanya ketika berada di depan kamera. Setelah itu, kembali dari tangan-tangan manusia itulah terjadi “perusakan” agama. Demikian halnya dengan para penonton, gerakan-gerakan spiritual yang ditayangkan di layar kaca hanya dijadikan hiburan tanpa memahami sebagai moment komersialisasi beragama. Pada saat yang sama, industri perfilman mengambil kesempatan untuk menggali keuntungan besar-besaran (project moment) pada bulan yang diturunkannya kitab suci umat Islam. Hal ini terlihat dari kesibukan para produser dan insan-insan pertelevisian serta para pemilik PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadan

Sepintas, meski film-film spiritual dikatakan untuk memberi pencerahan dan khazanah bagi umat Islam, akan tetapi, jika diteliti lagi, kita akan menjumpai beberapa kejanggalan, alur cerita yang tidak rasional, penulisan skenario yang terkesan terburu-buru, dan penafsiran agama yang membuat umat terikat simbol-simbol formal tanpa pemaknaan mendalam atas pesan-pesan kemanusiaan. Dalam konteks ini, nalar kapitalistik beragama telah mengaburkan dimensi spiritualitas. Dengan kata lain, telah terjadi komersialisasi spiritual dalam beragama, yang menimbulkan hilangnya makna esensi agama dalam mencerahkan kehidupan manusia.

Bagi Muhammadun AS, Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDeS) Jakarta, tragedi komersialisasi beragama yang kini sedang marak ditimbulkan oleh beberapa hal. Pertama, masih terjebak dalam keberagamaan formalistik. Keberagamaan yang mengalir dalam urat nadi hanya "pemanis". Beragama menjadi khusyuk hanya dalam sesaat atau bahkan hanya mengikuti tuntutan lingkungan. Seandainya tidak ada bulan Ramadhan, seolah kita tidak akan menonton hal-hal yang bersifat religius. Maka tak heran jika pasca-Ramadhan, kita akan kembali seperti semula. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) serta segala kejahatan kemanusiaan lain akan semarak lagi. Pada saat itu Ramadhan sebagai bulan yang dialamatkan Allah sebagai bulannya umat Muhammad, akan tercabik-cabik. Yang tersisa hanya puing-puing ibadah temporal yang tak memberi nilai dan daya beragama secara revolusioner.

Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas kapitalistik. Berbagai industri media dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk menayangkan program-program dakwah, dengan semua artis manggung di TV dengan pakaian islami.

Menghadapi realitas pelik ini, masih menurut Muhmmadun, perlu dibangun kembali nalar keberagamaan yang sedang tercabik-cabik. Yakni bagaimana kita menghadirkan kembali makna substantif agama dan meluruskan kembali makna dan nilai spiritual yang terkandung dalam tayangan sinetron itu. Respiritualisasi ini agar kita tidak terjebak ke dalam sinyalemen Rasulullah, "berapa banyak amal yang berwujud amal akhirat tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek dan berapa banyak amal yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena niat yang baik". Hadis itu mengindikasikan Ramadhan harus disambut dengan ibadah, bukan dengan gegap gempita melalui berbagai kegiatan yang tidak berkaitan langsung atau tidak langsung dengan Ramadhan. Salah mengartikulasi dan menginterpretasi puasa, hanya akan menghasilkan rasa lapar dan dahaga.

Jika demikian, mampukah Ramadhan menghambat laju hedonisme, jika kenyataanya dewasa ini masyarkat kita masih terkesan menjadikan agama sebagai “pemanis” semata? Sekali lagi, jika ibadah puasa di bulan Ramadhan dilakukan dengan maksimal, maka hasil yang kita dapatkan adalah bangkitnya jiwa seorang Muslim yang tangguh dalam menyelesaikan problem keberagamaan dan kebangsaan.

Semoga kita adalah bagian dari insan muslim yang beribadah secara kaffah, dan tiak terjebak pada simbol-simbol yang justru membingungkan kita dalam melaksanakan rutinitas keberagamaan. Wallahu’alam...
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul