Header Ads

Belajar Dari Negri Arab


Pemimpin negara Libia, Muammar Kadhafi, yang sudah menguasai negara yang kaya dengan minyak dan gas selama 42 tahun ini, akan merupakan sasaran berikutnya dari pembrontakan rakyat Arab sesudah jatuhnya presiden Tunisia, Ben Ali, dan presiden Mesir Husni Mubarak. Tetapi, berlainan dengan di Tunisia dan Mesir, kejatuhan Kadhafi akan disertai dengan terbunuhnya korban yang jumlahnya jauh lebih banyak dan cara-caranya yang jauh lebih biadab.

Kalau kita membaca kitab-kita Sejarah Arab, dalam konteks kepemimpinan, dapat kita simpulkan bahwa para Khalifah pasca Nabi Muhammad mengalami masa yang begitu sulit;
Abubakar di bunuh oleh musuhnya. Umar Bin Katab juga terbunuh. Usman mengalami nasib yang sama. Ali sebagai khalifah ke empat dan keluarganya juga terbunuh.

Lanjut, jika kita perhatikan raja-raja sekarang ini yang berkuasa naik takhta dengan membunuh pemimpin sebelumnya. Gadhafi naik takhta dengan terbunuhnya pimpinan sebelumnya. Husni Mubarak naik takhta, juga terbunuhnya Anwar Sadat. King Abdulah Aziz juga mengusir Emperium Turky dari Saudi atas bantaun Inggeris. Iran juga melakukan gejolak panas dan tumpahan darah rakyatnya lewat revolusi. Sadam Husen naik takhta juga terjadi pembunuhan pimpinan sebelumnya.

Umumnya sistem pemerintahan negara-negara Arab adalah sistem diktator. Bagi saya sistem pemerintahan negara-negara Arab bukanlah mengikuti sistem pemerintahan menurut Rasul dan ALLAH seperti tertulis dlm Al Quran QS 4:59.

Di Indonesia, peristiwa merebut kekuasaan dengan cara menjatuhkan kepemimpinan sebelumnya pun pernah terjadi. Sebut saja naiknya Soeharto setelah 'merebutnya' dari Soekarno. Gusdur, setelah memanfaatkan revolusi Indonesia 98. Megawati setelah Gusdur jatuh. Terakhir, SBY (meski terpilih dengan 'ceremony' yang demokratis) bisa saja akan jatuh dari kekuasaannya dengan cara-cara yang memalukan. Hal ini mulai terlihat dari gejolak dalam negri yang sangat bergelombang.

Berbeda dengan negara-negara yang memposisikan pemisahan agama dan negara, seperti yang terjadi di Amerika yang menggunakan Secular Demokration Sistem. Dimana pemerintah berlaku adil kepada semua rakyatnya, anti diskriminasi karena agama dan suku.

Pemerintah Amerika melindungi semua keyakinan agama dan tidak beragama. Luar biasanya ternyata masarakat Amerika dan Barat dapat hidup damai dan harmoni. Penggantian pemimpin berlansung dengan damai, tanpa pertumpahan darah rakyat. Itulah sistem pemerintahan yang dirahmati Tuhan Semesta Alam.

Pergolakan massa rakyat Mesir, Libia, dll merupakan bukti lebih yang gamblang lagi bahwa rakyat negara-negara Arab sedang memasuki era untuk memperoleh kebebasan berfikir dan menyatakan pendapat atau demokrasi. Inilah yang dituntut oleh rakyat Maroko, Aljazair, Libia, Tunisia, Mesir, Siria, Jordania, Bahrein, Yaman dll. Hal semacam ini merupakan kebangkitan besar-besaran dan meluas dari rakyat Arab di berbagai negara, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kiranya, bagi banyak kalangan di Indonesia, kasus perlawanan rakyat Libia terhadap Kadhafi bisa menimbulkan keheranan dan juga memancing berbagai pertanyaan. Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa seorang pemimpin yang mengagung-agungkan Islam selama 42 tahun bisa berobah menjadi “pemimpin” yang sangat dibenci oleh rakyatnya sendiri karena tindakan-tindakannya yang serba menindas kebebasan rakyat, termasuk membunuhi rakyatnya sendiri secara besar-besaran (genocide).

Kegagalan pemerintahan Kadhafi di Libia, ditambah dengan kegagalan pemerintahan Ben Ali di Tunisia serta pemerintahan Husni Mubarak di Mesir (serta kegagalan pemerintahan negara-negara Arab lainnya yang akan ditunjukkan di kemudian hari tidak lama lagi) adalah bukti bahwa sistem politik, sosial dan ekonomi, dan kebudayaan di banyak negara-negara Arab sangat membutuhkan perubahan, pembaruan atau perbaikan. Itu semua merupakan hal-hal yang patut menjadi renungan bersama bagi kita di Indonesia.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul