Header Ads

My Name’s Syafieq, and I am Not Terrorist (Menolak Radikalisme, Menebar Kedamaian)


Menguatnya radikalisme keagamaan yang terjadi di Indonesia mutakhir, seolah menjadi pertanyaan utama, mungkinkah agama mendorong demokrasi, pluralisme dan hak asasi manusia? Radikalisme keagamaan makin menguat. Setidaknya ada tiga hal penting untuk melihat adanya tindakan radikalisme di tanah air. Pertama, aksi terorisme yang tak kunjung reda. Belum lama, BOM Buku yang semarak dan BOM Bunuh Diri di Cirebon, yang menunjukkan bahwa radikalisme berbasis agama merupakan salah satu tantangan serius bagi kehidupan yang damai, rukun dan anti-kekerasan. Sebab radikalisme tidak hanya membawa agenda perubahan yang mendasar, melainkan membawa agenda besar: menebarkan teror dan pembunuhan. Agama yang secara nyata menolak pembunuhan, tapi di tangan pemeluknya, pembunuhan selalu dijadikan dalil. Bom bunuh diri disamakan dengan ajaran kemartiran.

Kedua, upaya memberangus kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan menggunakan kekerasan. Penyerangan atas Jamaah Ahmadiyah dan penutupan tempat-tempat peribadatan, khususnya gereja, merupakan salah satu bentuk ancaman bagi hubungan antaragama yang selama ini bisa dikatakan membaik. Ikatan keindonesiaan yang begitu kuat dan tertanam sejak puluhan tahun, kini benar-benar terusik oleh ambisi sebagian kelompok untuk menyeragamkan pandangannya. Kebangsaan yang selama ini dijadikan salah satu pengikat atas keragaman agama, lalu berusaha untuk dirombak dan digantikan oleh semangat fundamentalisme dan radikalisme.

Klaim mayoritas telah memompa pemeluk agama untuk membenarkan segala aksi untuk memberangus kelompok lain dan agama lain yang berada dalam posisi sebagai minoritas. Bahkan pada titik tertentu, mereka menggunakan senjata "penyesatan" dan "pengafiran" untuk mencapai targetnya.

Keberhasilan kelompok radikal juga bisa dilihat sejauhmana mereka menguasai panggung lembaga keagamaan negara, utamanya setelah terbitnya fatwa pelarangan atas Ahmadiyah, Pluralisme dan Liberalisme. Fatwa tersebut menimbulkan kontroversi yang meluas hingga ke akar rumput, karena dikeluarkan oleh lembaga yang punya jaringan mengakar ke bawah. Namun, tetap saja, fatwa tersebut membuktikan bahwa pandangan keagamaan mayoritas menyisakan problematika sendiri. Artinya, sangat tidak menutup kemungkinan di masa-masa mendatang bila kelompok-kelompok minoritas akan mendapatkan perlakukan yang tidak adil, terutama dalam hal kebebasan beribadah dan kebebasan berkeyakinan.

Ketiga, Radikalisme di kalangan muda. Harus diakui, bahwa tindakan radikalisme tidak harus dibaca dalam konteks sekarang, tapi harus dibaca dalam konteks sepuluh hingga duapuluh tahun mendatang. Meluasnya radikalisme keagamaan di kampus-kampus umum dan organisasi kepemudaan menunjukkan bahwa penyemaian benih-benihnya mulai mekar. Di saat kampus-kampus keagamaan menampilkan wajah agama yang moderat, kampus-kampus umum malah menjadi tempat pembelajaran pandangan keagamaan radikalistik.

Ketiga fakta di atas menyatakan, bahwa di masa yang akan datang kita mempunyai agenda yang cukup berat, yaitu mengembalikan agama kepada habitatnya sebagai sumber nilai dan moral. Kelompok mayoritas yang selama ini diam harus menggunakan panggung yang tersedia untuk mengampanyekan wajah agama yang damai dan ramah. Jika tidak, maka akan terjadi perampokan besar-besaran (the great theft), yaitu kelompok radikal-ekstremis akan mengambil-alih posisi kalangan moderat. Kenyataan ini tidak hanya merugikan kalangan moderat, akan tetapi dampak yang terburuk adalah merugikan agama yang mengajarkan kasih-sayang, kedamaian, kedermawanan dan keadilan. Sebab meletakkan agama sebagai institusi yang ekstrem dan berwatak keras bisa dikatakan sebagai sikap otoriter. Karena itu, radikalisme merupakan sebuah fakta yang harus dipecahkan bersama, terutama dalam rangka menjaga indahnya ikatan kebersamaan dan kebangsaan yang sudah berlangsung sekian tahun.

Nah, tindakan radikalisme harus mendapatkan perhatian semestinya, terutama dengan cara memberikan peran yang lebih terbuka bagi kalangan moderat untuk menyebarkan pandangan keagamaan yang toleran, inklusif dan dialogis. Jika agenda ini tercapai, saya berani berucap “My Name’s Syafieq but am not terrorist”.

Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul