Header Ads

AKU INI HANYA KORBAN, KAWAN!


Ku buka mata, aku kembali sadar, saat ini aku hidup di zaman serba modern. Akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kehidupanku sangat mudah terpengaruh oleh bangsa lain. Segalanya serba instan. Aku tak menghitung hari lagi melainkan jam bahkan menit. Aku pun terobsesi untuk berlomba-lomba mengejar cita-cita yang ku idamkan. Orang tuaku tak hanya sibuk mencari kepentingan dunia, mereka juga sibuk mengkompetisikan anak-anaknya di sekolah-sekolah unggulan. Satu yang diingankan orang tuaku, agar anak-anaknya menjadi orang sukses.

Karena itu, semua terlihat bagaikan perlombaan. Orang tuaku pun mengikutinya. Ikut berlomba mengejar kedudukan dan karir. Berlomba mengejar peluang dan bisnis. Berlomba menyekolahkan anak-anaknya agar menjadi anak pintar. Bahkan, hari ini, kebanyakan sekolahpun turut berkompetisi untuk memintarkan siswa-siswi mereka dengan memberikan pelajaran sebanyak-banyaknya, sementara mereka lupa bahwa sebenarnya para murid belum memerlukan pelajaran yang begitu banyak.
Nampaknya, para orang tua, guru, ruhaniawan dan pengusaha secara tak sadar telah bersekongkol untuk menghasilkan bangsa yang berjiwa kerdil. Di usia yang masih dini, banyak para orang tua menyensor anak yang berani menyatakan hak-haknya, sehingga menghalangi anak untuk mengungkapkan dirinya. Aku pun melihat, para guru menghargai murid yang tidak mempersoalkan sistem pendidikan dan memperlakukan dengan keras bagi yang menentangnya. Diperparah dengan seringkalinya lembaga-lembaga agama mengajarkan kerendahan hati dan pengorbanan bukan karena keberanian membela diri.
Disadari atau tidak, kadang sadar namun sering terabaikan, bahwa kehidupan di dunia tidaklah sempurna, tidak ada yang abadi meski peradabannya semakin canggih dan modern. Dunia bukanlah tempat yang memuaskan manusia dengan maksimal, segala sesuatunya pasti memilki cacat. Oleh karenanya, terkadang orang tuaku terkena penyakit stress, penyakit karena sibuk memikirkan dunia, dan pusing memikirkan problem-problem yang terjadi.
Meski demikian, orang tuaku masih saja tak jera, bahkan mereka bertambah giat untuk terus saling berkompetisi menjadi orang yang menggapai sukses, tak terkecuali anak-anaknya diikutkan dalam kompetisi global tersebut. Tidak ada lagi waktu santai. Prinsip mereka, anak-anaknya harus memiliki masa depan yang gemilang, berapa pun ongkos yang harus dikeluarkan.
Seorang teman beranggapan, bahwa aku dan keluargaku adalah potret orang-orang sukses. Ia sibuk memandang kehidupan kami. Baginya, kalau tidak seperti kami berarti tidak suskes. Seolah kami lah makhluk paling sempurna dan bahagia dalam kehidupan.
Benarkah kami sebahagia itu? Apakah kami merasa seperti yang dipikirkan seorang teman di atas? Apakah kami juga merasa sudah berhasil dalam hidup ini? Bisa iya, bisa juga tidak.
Di era globalisasi, orang yang berkarir, bekerja atau ingin menekuni profesi apapun mendapatkan peluang baru di semua bidang. Berbeda dengan jaman dulu, karir seseorang ditentukan oleh latar belakang pendidikan dan profesi warisan orang tua. Sekarang, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memilih profesi apa saja, asalkan punya kemauan dan kemampuan. Nampaknya, kawan tadi tak memahami ini. Kenapa ia begitu menginginkan untuk menjadi seperti kami? Sudah begitu gagalkah temanku itu?
Kehidupan orang-orang terkenal, para pejabat, artis, orang-orang kaya, pebisnis ulung, orang-orang yang punya posisi “terhormat”, yang penampilannya memukau mata manusia, yang kendaraannya diingini setiap orang, yang kata-katanya hebat memikat adalah potret kehidupan yang menyilaukan, dan hal ini tak bisa dipungkiri. Harta yang begitu banyak, pangkat dan kedudukan yang begitu terhormat, kepopuleran yang begitu mempesona. Secara naluri, ingin dihargai banyak orang, dikenal orang banyak serta memiliki kecukupan harta adalah keinginan setiap manusia. Terus kenapa, apakah tak memiliki hal-hal tersebut dianggap gagal dan tak sepatutnya hidup?
Memang, jika dinilai secara lahiriah, orang-orang yang dianggap sukses itu telah menjadikan sang kawan merasa gagal karena tak dikenal banyak orang dengan berpenghasilan pas-pasan saja. Padahal belum tentu demikian dalam pandangan Tuhan.
Kawan, aku, orang tuaku serta orang-orang yang kau kira hidupnya ideal dan sukses itu adalah korban dalam kehidupan sosial. Kami disebut “timid souls” jiwa-jiwa yang kerdil. Kami tak kuasa menampilkan diri kami sesuai dengan yang dikehendaki. Kami diarahkan, kami dikendalikan, dan diatur oleh orang lain. Kami tak otentik. Mungkin, kami melakukan pekerjaan yang disenangi. Namun, kami memikul tugas apapun yang dibebankan orang lain kepada kami. Aku pun beranggapan, aku telah menjadi korban proses belajar sepanjang hidupku.

Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul