Header Ads

Ada Syetan Di Wajah (Nya)

(Seri Belajar Aswaja)

Belum lama ini, aku mendatangi Pak Kiai. Seperti biasa, pembahasan kami tentang ilmu sosial, politik, ekonomi, yang dibungkus dengan teks-teks keagamaan. Tiba-tiba Handphoneku berdering –jujur ini adab yang tidak baik dariku, karena bunyi telpon yang memotong pembicaraan. Tak kuangkat. Langsung kusilent (redam suara HP). Sempat terlihat di layar HP tertera nama Alidien. Kawan se kampus namun tak begitu akrab. Terngiang dalam benakku sepertinya dia mau menagih janjiku untuk melanjutkan diskusi dengannya. Minggu lalu aku bertemu di Kantin kampus, berdiskusi hingga debat kusir. Mungkin aku lebih unggul dalam debat minggu lalu. Makanya minggu ini dia tantang lagi. Tentunya ia makin matang dalam diskusi.

Tersadar dalam lamunan, Pak Kiai menegur, “Siapa yang telpon? Kenapa nda diangkat?”. Segera kujawab “Maaf, Pak Kiai. Tadi yang telpon kawan kampus. Tapi nanti akan saya telpon jika majelis kita udah selesai”. Bukannya membiarkan, Pak Kiai justru bertanya terus tentang kawan tadi. Beliau sambil melihat jam dinding. Dan berkata “Jika ada seseorang yang menghubungi atau memberi kabar pada saat ini, maka semua berita yang ia sampaikan adalah dusta. Dan ia pun punya penyakit tidak baik dalam jiwanya.” Saya terkejut. Bukan pada cara pak Kiai yang demikian – karena beliau memang menguasai ilmu falaq, semacam ilmu laduni yang dapat menafsirkan sesuatu di luar kemampuan manusia umum. Terkejut karena orang yang beliau maksud, sepengetahuanku adalah orang rajin ibadah.

“Tapi pak Kiai”, sanggahku “Kawan saya ini adalah orang yang rajin ibadah dan sangat shalih”. Mendengar keteranganku, Pak Kiai meminta untuk menunjukkan wajah kawan tersebut. Kebetulan, di HP-ku tertera fotonya pada daftar kontak. Secepatnya kuperlihatkan pada Pak Kiai. Beliau tampak fokus. Seolah ada penglihatan berbeda. “Kamu telah memperlihatkan gambar seseorang yang tampak di wajahnya sentuhan setan.” Tegas Pak Kiai. “Sebagai informasi tambahan saja, orang ini dan kelompoknya membaca Al Qur’an, tetapi bacaan mereka hanya sampai pada tenggorokannya saja. Mereka terlepas dari agama, seperti terlepasnya anak panah dari busurnya. Jika orang seperti ini tidak ada, maka pastilah umat di muka bumi ini tidak akan pecah. Tap sudahlah. Saya takut jadi membicarkan aib orang lain. Yang jelas, dalam kaca mata bathiah melalui disiplin ilmu, saya peringatkan kepada kamu agar berhati-hati dengan mereka.” Jelas Pak Kiai.

Ada beberapa hal yang kujadikan pelajaran dari keterangan Pak Kiai. Pertama; ini adalah simbol agar aku tidak boleh dengan mudah terpesona melihat kesalihan dalam ibadat seseorang. Tidak jarang kesalihan seperti itu menyembunyikan kepribadian yang tercela. Ia menjadikan kesalihan sebagai kosmetik untuk menghias wajahnya yang bercacat. Orang yang dipuji sebagai orang salih itu ternyata merasa diri paling utama, paling benar, dan paling baik dari orang-orang sekitarnya.

Kedua; ibadah ritual hanyalah wajah lahiriah dari keberagamaan orang. Ia adalah bagian eksoteris yang mudah dilihat, karena itu, mudah dimanipulasi untuk memberikan kesan yang diharapkan. Dengan ibadah ritual, seseorang dapat memperoleh keuntungan sosial (sebut saja, mengumpulkan dana untuk kegiatan agama, tetapi sebenarnya untuk diri sendiri), atau politik (yang satu ini bisa dilihat pada teks suci Al Qur’an: Celakalah orang-orang yang shalat, yang lalai dalam shalatnya, yang ingin dipandang dan enggan memberikan pertolongan,-- Qs: Al Ma’uun; 4-7).

Ketiga; inti keberagamaan seseorang adalah akhlaknya. Ritualitas ibadat seseorang ditetapkan sebagai pengantar agar memiliki akhlak yang mulia. “Kalau kamu shalat (ibadat ritual) tapi akhlak masih busuk (Galil Adab), maka kamu jauh dari Allah,” sepintas tambahan dari Pak Kiai.

Aku termenung. Kembali melihat gambar wajah sang temanku tadi. Di kepalanya terlihat sebuah tanda hitam bekas sujud-sujudnya dalam shalat. Jika benar yang dilihat Pak Kiai melalui ilmu kasyafnya, maka tanda hitam di kepala sang Kawan adalah simbol sentuhan setan. Wuiiih... menakutkan. Meski demikian, undangan diskusinya kuturuti.

Ya Allah... ampuni hambaMu, hindari dari kebencianMu. Berikan kesempatan hamba bertobat sebelum ajal menjemput. Sungguh tidak ada yang pantas dibanggakan dari hamba, selain mendapat ridhaMu. Wallahu ‘alam bi shawab...
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul