Header Ads

DIKABULKAN ATAU TIDAK, TERUS BERDO'A

Asyik berdiskusi di rumah pak kiai, tak lama kemudian ada seseorang mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum...” sapa tamu yang sepertinya bukan orang sekitar lingkungan sini. “Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh, mari, silahkan masuk!” jawabku. Sang tamu masuk sambil menjabat tanganku dan Pak Kiai. Tanpa panjang lebar, tamu tersebut langsung memperkenalkan diri dan menceritakan hajatannya kepada Pak Kiai.

Sepintas yang kutahu, dahulu, ia merupakan seorang konglomerat yang sukses. Hartanya berlimpah. Perusahaannya sangat terkenal. Kini ia menemui Pak Kiai terseok-seok, terlihat seperti mayat hidup. Wajahnya muram. Kekecewaannya begitu besar, sehingga tidak menyisakan sedikit pun ruang pada pori-pori mukanya untuk harapan. Ia kecewa pada bekas karyawan perusahaannya, karena tak serius dan banyak melakukan kesalahan yang berakhir pada kebangkrutan. Ia kecewa pada kolega-koleganya yang dulu mengelu-elukannya. Kini, tak seorang pun di antara mereka menegurnya. Mereka sibuk pada perusahaan baru mereka. Tak seorang pun memperhatikan kesehatannya yang memburuk. Ia kecewa pada perusahaannya. Hanya karena sakit, bukannya dibantu, ia justru digulingkan oleh karyawannya sendiri. Lebih dahsyat lagi, ia kecewa pada agamanya. Baginya, agama tak membantu mengatasi kesulitan hidupnya. Akhirnya, ia pun kecewa pada Tuhan.

“Pak Kiai” katanya. “Saya laksanakan shalat siang malam. Saya amalkan doa dan wirid. Saya hanya meminta Tuhan untuk membebaskan saya dari ketergantungan kepada obat. Saya bosan dengan pil, injeksi, atau obat-obat kimia lainnya. Saya bukan lagi seorang pengusaha kaya seperti dulu. Sekarang ini, saya harus mengemis kepada orang karena tergantung pada obat. Akhirnya orang sudah bosan melihatku. Sementara, biaya obat semakin mahal, saya telah menyengsarakan keluarga. Istri pun menggugat cerai. Cuma satu yang saya minta, ‘Tuhan, jika Engkau tidak mau menyembuhkan hamba Mu ini, maka bebaskanlah hamba dari ketergantungan pada obat’. Itu saja do’a saya. Namun hingga bertahun-tahun saya berdo’a. Tuhan tidak menjawab do’a saya. Mungkin do’a yang saya panjatkan tak dikabulkan karena dosa. Saya sadar, saya banyak dosa. Tapi siapa di antara kita yang tidak berdosa. Jika demikian, apa gunanya saya berdo’a, toh, do’a yang dipanjatkan tidak didengar apalagi dikabulkan.” Keluh si Tamu.

Pak Kiai menjawab dengan sederhana. “Banyak orang seperti kamu. Dari kecewa pada kehidupan, Tuhan pun jadi lampiasan kekecewaan. Orang miskin, kaya, pejabat hingga penjual tomat, ustadz, pendeta, mahasiswa, profersor dan seluruh lapisan masyarakat, jika sampai pada kejenuhan maka sampai pada kesimpulan; berdoa tidak perlu. Sebab, pertama; kesulitan hidupnya tak pernah selesai dengan do’a. Kedua; bila doa tidak dikabulkan karena dosa, sedang semua berdosa, apa perlunya berdo’a.”

“Sayangnya” masih penjelasan pak Kiai. “Semua lupa untuk memahami konsep do’a secara paripurna. Kebanyakan dari kita memandang do’a sebagai matera magis untuk mengendalikan alam semesta. Kamu harus tahu, Tuhan tidak dilihat sebagai kekuatan gaib yang harus tunduk kepada semua kemauamu. Jangan samakan doa dengan lampu Aladin dan Tuhan seperti Jin. Ketika kamu berdo’a, Tuhan harus keluar untuk bersimpuh di depanmu. ‘Apa yang tuan inginkan? Pasti Kukabulkan’. Begitu biasa lampu Aladin jika digosok. Jika seperti itu pemahamanmu tentang do’a. Maka tak heran, jika Tuhan belum mengabulkan kehendakmu, kamu pun marah pada-Nya. Kamu kecewa, dan segera membuang lampu Aladin itu.”

Waduh, penjelasan pak Kiai kepada Tamu tersebut secara tidak langsung menyentilku. Aku jadi teringat dengan ungkapan seorang ulama besar, Ja’far al-Shadiq, “Bila engkau ingin tahu di mana letakmu di sisi Tuhan, lihatlah mana letak Tuhan di hatimu.” Alangkah rendahnya manusia di mata Tuhan, bila ia memperlakukan-Nya layaknya seperti Jin untuk lampu Aladin. Kebanyakan manusia berdalih, do’a adalah ungkapan cinta. Namun, manusia (sebagian) hanya berdo’a kepada-Nya ketika ada keperluan. Akhirnya, manusia mencintai Tuhan karena ada keperluan.

Pak Kiai mengingatkan, “Belajarlah kamu dari seorang Nabi Zakaria a.s, yang setiap harinya terus berdo’a, tanpa kecewa, tanpa berhenti, apalagi marah kepada Tuhan. Ingatlah tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia Berkata ‘Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku Telah lemah dan kepalaku Telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku.’ Silahkan kamu lihat di QS. Maryam; 2-4”

Aku, Sang Tamu dan Anda, jika mencintai Tuhan dan Dia belum mengabulkannya (tanda cinta Tuhan terhadap apa yang kita rintihkan), berdo’alah terus, merintihlah terus di hadapan-Nya, Kekasih Kita semua. Allahu Syifa...
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul