Header Ads

MENGHARGAI YANG SALAH, MENGAPRESIASI YANG BENAR

Seri Belajar Aswaja

Manakah yang benar: qunut atau tidak qunut? NU atau Muhammadiyah? Anas Urbaningrum atau Nazarudin? Sunni atau Syi’ah? Dia atau Kamu? Demokrat atau Golkar? PMII atau HMI? Boleh Ziarah Kubur atau Bid’ah? Andi Nurpati atau Mahfud MD? Lembaga ini atau Lembaga itu? Jaksa Penuntut Umum atau Pengacara? Siapa yang benar, TKI-nya kah atau Majikannya? Sitemnya atau orangnya? Pemerintahnya atau rakyatnya? Rabitah Alawiyah atau Berantas Alawiyyin Gadungan? Imam ini atau imam itu?

Meski pertanyaan-pertanyaan di atas bersifat dualistis, namun tetap saja pilihannya bisa banyak, yang penting ialah mana pilihan untuk diambil. Ini sebagai simbol bahwa memilih bukan sekedar selera, seperti memilih Nasi Goreng Solaria atau Nasi Goreng Mas Hardi, pilihan bagi pertanyaan di atas adalah sebuah tantangan untuk diperdebatkan. Sebab, pilihan tersebut akan menentukan sikap dan perilaku kehidupan seseorang. Dalam sejarah kehidupan manusia, perseteruan menjadi akhir dari perdebatan-perdebatan itu.

Biasanya, pilihan yang diambil akan menggiring pada pembatasan dalam persaudaraan, perkumpulan bahkan perdamaian. Ada kawan, ada lawan. Seideologi dan “kafir”. Ada minna ada Minhum. Ada Minut ada Minsel. Ada kalian dan ada Kami. Ada Asli ada Palsu.

Saya, oleh karena mempertimbangkan imbas dari pertanyaan-pertanyaan itu, berusaha mencari jalan keluar. Sebagian kawan yang lain menganggap tak ada masalah. Ada juga yang berkata; kembalilah kepada Kitab suci dan sunnah Nabi, kembali kepada UUD 1945, kepada AD/ART, kepada Peraturan Organisasi, kepada adat istiadat, kepada sejarah, dan” kepada-kepada” lainnya. Biasanya, tips seperti ini mudah diucapkan daripada diterapkan. Bukankah pertanyaan-pertanyaan di atas juga mengajak untuk kembali kepada “kepada-kepadanya” itu?

Ada dua pilihan penting. Pertama; menganggap semua benar. Si ini atau si itu, yang ini atau yang itu, sama-sama memiliki kebenaran masing-masing yang perlu dihargai dan diapresiasi. Sebab, untuk memilih ini atau itu hanya bersifat perkiraan. Tidak mutlak. Sehingga semua berpotensi benar –bagi yang sangat prinsipil menambahkan beberapa kata; benar bagi keyakinannya masing-masing. Pilahan kedua, semua salah kecuali satu. Selain sebagai pilihan, hal ini juga merupakan sebuah prinsip. Bagi yang berprinsip seperti ini, tidak ada ada kebenaran selain yang mereka yakini. Yang lain “sesat”, keliru, neraka, laknat dan lain sebagainya. Mutlak.

Jika Anda memilih pada prinsip pertama, maka Anda akan terdidik menjadi seorang yang berpikir dan berjiwa besar, terbuka, menghargai perbedaan pendapat. Sedang jika Anda terjebak pada pilihan kedua, Anda menjadi ekslusif, tekstualis, menakutkan, anti keberagaman, radikal dan menolak perbedaan bahkan merasa paling benar. Bukankah kebenaran itu hanya satu, yaitu kebenaran dari Tuhanmu. Janganlah kamu termasuk orang-orang ragu (QS. Al Baqarah ; 147).

Yang salah pasti ada, dan kesalahan harus ditebus. Namun, merasa paling benar dan menyalahkan kesalahan yang lain adalah sebuah kesombongan. Sehingga itu penting sekali untuk bersikap arif. Menghargai yang salah dan mengapresiasi yang benar. Dengan hikmah, baik, santun dan apabila terjadi perdebatan maka diselesaikan secara bijaksana.

Wallahu ‘alam bi shawab.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul