Header Ads

NAMAKU, MUHAMMAD SAW

Aku lahir di tengah bangsa yang menjadikan kedzaliman aturan hidupnya. Orang kaya memeras orang miskin. Orang kuat menindas orang lemah. Orang pandai memintari orang bodoh. Hukum telah digantikankan oleh kekuatan otot.

Sejak kecil aku menyaksikan budak-budak yang diperlakukan lebih dari binatang. Mereka dipaksa bekerja dengan upah sekadar makan saja. Jika salah seorang di antara mereka melarikan diri, kemudian ditemukan majikannya, berbagai siksaan akan diterimanya. Aku tentu melihat kesedihan dan ketakutan pada wajah para budak. Karena itulah, ketika aku berdoa, aku membayangkan diriku sebagai budak yang dihempaskan di hadapan sang majikan.

Sejak ditinggalkan orang tuaku, aku akrab dengan derita. Aku tahu kelemahan posisi anak yatim dan orang miskin di tengah masyarakat yang ganas. Kehormatan seperti ini dicampakkan; penderitaan mereka dinafikan; tangisan mereka dibungkamkan. Karena itu, setelah aku diangkat menjadi Nabi oleh Allah, aku mengecam orang yang menaniaya anak yatim. Bagiku, tangisan anak yatim mengguncang Arsy. Aku pun memperingatkan orang kaya yang mengabaikan kesengsaraan orang miskin. Ku tegaskan pada umatku, tidaklah orang miskin lapar dan telanjang, kecuali karena ulah orang-orang kaya. Ketahuilah, Tuhan akan mengadili orang kaya seperti itu dengan pengadilan yang berat dan menyiksa mereka dengan siksa yang pedih.

Sejak muda, aku menyaksikan penguasa yang menyalahgunakan kekuasaannya. Aku melihat kekuasaan selalu bersamaan dengan kezaliman. Begitu geramnya aku dengan kezaliman para penguasa, sebagai utusan Tuhan aku bersabda pada ummatku “Jauhilah pintu-pintu penguasa dan kaki tangannya. Karena, orang yang paling dekat dengan penguasa dan kaki tangannya adalah yang paling jauh dari Tuhan”. Namun, aku pun memuji penguasa yang adil. Sebab, di antara yang dilindungi Tuhan pada hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, adalah penguasa yang adil. Penguasa adalah bayangan Tuhan di bumi. Dengan kekuasaannya orang lemah dilindungi dan orang tertindas dibela.

Ingin kutegaskan, aku adalah penentang kezaliman. Aku akan membasminya. Kezaliman seorang suami terhadap istrinya, kezaliman orang tua terhadap anak atau anak terhadap orang tua, majikan terhadap buruh, bahkan manusia terhadap binatang. Aku sangat marah ketika mendengar sebagian sahabatku memukuli istri-istrinya. Di Arafah, pada haji wada’, aku menyampaikankhutbah terakhir. “Wahai manusia, dengarkan pembicaraanku dan renungkan baik-baik. Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada istri-istri kalian. Kalian tidak memiliki mereka dan mereka tidak memiliki kalian.”

Berbuat zalim adalah merampas atau menghilangkan hak orang. Menteror adalah menghilangkan hak untuk memperoleh rasa aman. Menyiksa secara fisik adalah merampas hak orang lain untuk memelihara keselamatan dirinya. Membungkam dengan kekerasan adalah mencabut hak orang untuk menyatakan pendiriannya. Mengambil harta orang lain dengan tidak halal adalah memberangus hak miliknya. Semakin banyak yang dirampas, makin banyak orang yang menjadi korban, makin zalimlah pelakunya. Karena perbuatan zalim itu hanya berlangsung bila tidak ada perlawanan kepadanya, membiarkan kezaliman juga termasuk kezaliman.

Inilah aku. Namaku Muhammad Saw, dalam risalahku, tidak akan henti-hentinya berjuang menegakkan keadilan. Aku bukan hanya mengutuk kezaliman, aku juga mengecam orang-orang yang apatis terhadap kezaliman. “Barang siapa yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan. Bila tidak sanggup, ubahlah dengan lidah. Bila tidak sanggup juga, ubahlah dengan hati. Tetapi, yang terakhir itu adalah iman yang paling lemah.”
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul