Header Ads

NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA

(Kisah Tentang Tokoh Al Namim)

Seri Belajar Aswaja

Si Al Namim berbisik pada seorang pemuda yang baru saja keluar dari pondok pesantren. “Kamu harus tau, ustadz yang mengasuh salah satu majelis ta’lim di lingkunganmu, adalah penganut ajaran sesat. Ia sangat berbahaya. Majelisnya selalu mengajarkan keburukan. Jika Kamu ingin menyaksikan kesesatan ustadz dan majelisnya itu, datanglah setiap malam Rabu ke markas mereka. Lihatlah ajaran dan tradisi mereka. Jangan lupa, gunakan pakaian tebal agar kamu tidak kedinginan kalau pulang larut.” Setelah itu, Al Namim mendatangi majelis ustadz yang dituduhnya sesat itu.

Tak bersua dengan sang ustadz, ia berdiskusi dengan beberapa muridnya. Al Namim pun memulai diskusi, “Majelis ini harus berhati-hati. Belum lama ini, aku bertemu dengan seorang pemuda lulusan pondok pesantren. Katanya, majelis ini ada unsur sesatnya. Banyak kedustaan di tubuh majelis ini yang diajarkan ustadz kalian. Baginya, darah ustadz dan pengikutnya halal dibunuh. Kalian harus bersiap-siap. Pemuda ini lulusan pondok pesantren yang keras. Anti keberagaman dan kesesatan. Banyak santri mereka yang melakukan aksi bom bunuh diri demi jihad membela kebenaran. Nah, aku dengar, pada malam kajian minggu ini, ia akan datang kesini dan beraksi. Lihat saja, jika ia menggunakan pakaian tebal, pasti ia membungkusnya dengan bom.”

Malam Rabu pun tiba, kajian rutin diadakan. Beberapa murid sang ustadz berjaga-jaga. Tak lama kemudian, pemuda lulusan pondok pesantren itu tiba, lengkap dengan pakaian tebalnya. Tanpa banyak menganalisa, murid-murid ustadz yang mengetahui ciri-ciri pemuda itu, langsung menyergap, mengeroyoki, ditarik ke area yang jauh dari kerumunan orang agar terhindar dari letusan bom. Sang pemuda yang dihujani pukulan merasa benar, dalam pikirannya terbesit ingatan yang disampaikan Al Namim. Akhirnya, si pemuda jatuh. Kesakitan merintih. Hingga akhirnya tewas di tempat. Keluarga si pemuda tentunya marah. Terjadilah peperangan antara keluarga dan pengikut majelis yang begitu brutal.

Begitulah Al Namim bekerja. Salah satu akhlak tercela yang mendatangkan bencana, walaupun ada kelebihan dalam akhlak lain. Inilah nila setitik yang merusak susu sebelanga. Kata Pak Kiai, orang yang paling dibenci Tuhan ialah orang yang berjalan ke sana kemari menyebarkan fitnah, ghibah, membuka aib, yang memecah belah di antara orang-orang yang bersaudara (saling mencintai), yang mencari kesalahan orang yang tidak bersalah. Lebih garang lagi, Pak Kiai penegaskan, orang yang membuka aib, menebar fitnah, dan ghibah adalah batu baranya neraka.

Al Namim mengandung arti mengadu domba atau memfitnah. Meski terkadang berita yang mengandung fitnah atau adu domba tersebut memiliki unsur kebenaran. Sederhananya, Al Namim adalah menyampaikan omongan seseorang tentang orang lain kepada orang lain itu. Berita itu benar, tetapi orang yang diberikan info itu tidak suka mendengarnya. Ia akan membenci orang yang mengumbar aibnya. Timbullah permusuhan di antara keduanya.

Kata Pak Kiai, Al Namim itu hakikatnya membuka rahasia, yang seharusnya kita tutupi. Orang tidak suka rahasia itu terbuka. Jika kamu mendengar pembicaraan, yang kamu tahu akan menyebabkan orang lain tidak senang kepada orang yang membicarakannya, sepatutnya kamu berdiam diri. Kamu hanya boleh memberitakan hal itu bila ada manfaatnya bagi ummat. Di dalam Al Namim itu ada ghibah, fitnah, gunjing, su’udzan dan semua prasangka-prasangka yang membahayakan.

Masih penjelasan pak Kiai, dahulu Mr. Al Namim disebarkan secara lisan, dari mulut ke mulut. Sekarang, ia berdampak lebih luas karena pelakunya telah menggunakan teknologi modern. Ada yang lewat media massa; surat kabar, radio, televisi. Ada juga yang menggunakan dunia maya; internet, facebook, google, tweeter, blog dan lain-lain.

Pak Kiai, dari semua berita, kapan ia akan menjadi Al Namim?

Pertama, berita itu berkenaan dengan perilaku yang tidak disukai oleh pelakunya bila diungkapkan kepada orang lain. Kalau narasumber katakan off the record, kemudian wartawan memberitakannya, maka si wartawan di sebut Mr. Al Namim. Privasi seseorang yang disampaikan pada khalayak tergolong sebagai Namim. Kedua, berita itu dapat menimbulkan permusuhan di antara beberapa pihak. Ceramah seorang ustadz dapat berubah menjadi Al Namim ketika ia menceritakan tentang kesesatan mazhab yang tidak disepakatinya. Dengan begitu, ia menaburkan kebencian kepada khalayak, sehingga mereka memusuhi pengikut mazhab itu.

Apa yang harus kita lakukan seharusnya, Pak Kiai?

Pertama; jangan menerima berita itu mentah-mentah. Ketahuilah man namma ilayka namma ‘anka (siapa yang melaporkan berita aib kepadamu, suatu saat ia akan mengumbarkan aibmu). Kedua; jauhilah mereka yang sering membuka aib-aib orang, karena kehadiran mereka menyebarkan laknat. Al Namim adalah pemutus silaturahim. Kehadirannya tak mendatangkan rahmat Tuhan dimanpun ia berada. Jagalah mulutmu dan sikapmu. Jangan ikut si Al Namim yang telah merubah jubah kedamaian majelis dan almamater cinta pondok pesantren yang digambarkan di atas, menjadi kebencian yang bermusuhan sepanjang masa. Bertabayyunlah.

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur Al Namim, (QS. AL Qalam; 10-11)
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul