Header Ads

Belajar Ramadhan

Percakapan Ringan Saya dengan Aba



Saya:

Aba, kenapa Ramadhan dipilih Allah sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an?



Aba:

Ramadhan dipilih sebagai bulan turunnya Al Qur'an karena bulan ini merupakan simbol kesempurnaan penciptaan manusia.



Saya:

Maksudnya, Aba?



Aba:

Coba kita lirik dalam ilmu Matematika. Ketika ilmu ini menentukan bahwa bilangan terakhir dalam angka-angka yang ada, yakni angka 9 (sembilan). Kemudian setelah itu angka tersebut akan kembali ke angka nol (0), sesungguhnya hal ini sangat berkaitan erat dengan hakikat Ramdhan yang diturunkannya Al Qur’an sebagai simbol kesempurnaan penciptaan manusia.



Allah menciptakan Ramadhan sebagai bulan yang kesembilan. Setelah itu kita akan bertemu dengan hari fitrah. Jika dicocokkan dengan proses penciptaan manusia, selama di alam rahim kita pun berada selama sembilan bulan. Kemudian diusia ke sembilan bulan di alam rahim tersebut, Allah menyempurnakan penciptaan-Nya dengan melahirkan manusia ke alam dunia dalam keadaan fitrah. Bisa dikatakan, angka sembilan merupakan angka unik sekaligus angka puncak perjuangan.



Saya:

Beberapa riwayat menyebutkan, bahwa Lailatul Qadar itu berada pada sepuluh hari terakhir Ramdhan dalam tanggal-tanggal yang ganjil. Itu maksudnya bagaimana, Aba?



Aba:

Benar. Ada hadits yang menyebutkan demikian. Bahwa Nabi Muhammad saw diakhir-akhir Ramdhan lebih meningkatkan ibadahnya. Beliau beri’tikaf. Bahkan lebih spesifik disebutkan, beliau “semacam mencari” pada malam-malam ganjil. Lebih jauh bagi Aba, istilah ganjil tidak hanya terjebak pada bilangan-bilangan tanggal atau waktu. Orang yang menemukan lailatul qadar adalah orang yang merasa dirinya sedang “ganjil”. Ganjil di sini dapat diartikan sebuah keadaan “lain”. Ada perbedaan dari hari-hari sebelumnya dengan peristiwa malam ia menemukan lailatul qadar. Sehingga itu, lailatul qadar pun bisa ditemukan pada malam-malam genap. Lailatul qadar adalah malam hening. Dimana suasana batin seseorang dalam keadaan yang sulit diterjemahkan.



Akan tetapi, perlu ditekankan, bahwa seseorang akan menikmati lailatul qadar ketika ia telah memuluskan kehidupan yang baik selama sebelas bulan sebelumnya. Sehingga Aba berpendapat, hanya orang dengan ibadahnya yang baiklah yang akan berjumpa dengan malam mulia dari seribu bulan. Tak heran, puasa (segala ibadah) di bulan Ramadhan hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkualitas (beriman).



Bersambung...

g
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul