Header Ads

LANTANG SUARAKAN SEGALA TUNTUTAN

Aku, memimpin rombongan organisasi kepemudaan menuju ke majelis Pak Kiai. Rencananya, besok kami akan melakukan aksi turun ke jalan untuk menuntut pemerintah yang korup. Mafhum, Indonesia sedang didera krisis ketidak-percayaan yang sangat tinggi. Penguasa semakin dzalim. Partai pengusung anti korupsi justru pencetak koruptor. Dan Pak Kiai, selalu kami jadikan penasehat sebelum kami melakukan aksi. Beliau sangat peka’ terhadap realitas sosial. Beliau memotivasi sekaligus memberikan nasihat-nasihat penyejuk agar tidak terlalu berlebihan dalam menyuarakan aspirasi rakyat.



Selain meminta arahan, kami pun berharap agar Pak Kiai mengizinkan beberapa santrinya untuk kami ajak turun ke jalan. Beliau menyetujui. Tiba-tiba salah seorang santrinya berucap, “Maaf Pak Kiai, Saya tidak ikut. Untuk masalah seperti ini, saya memilih diam. Bukankah Pak Kiai pernah mengutip ajaran agama, lebih baik diam, karena diam sebagai pengendalian diri.”



Mendengarkan ucapan Si Santri, yang terkesan religius dan ‘sedikit’ ke-kanan dalam berpandangan, Pak Kiai pun menegur, “Ada diam yang baik. Ada pula diam yang dosa.” Mendengar ucapan Pak Kiai tadi, perbincangan tentang rencana aksi terhenti sejenak. Aku langsung mengejar pernyataan Pak Kiai. “Pak Kiai, bisakah dijelaskan kepada kami, diam yang dosa itu seperti apa?”. “Sebagaimana tidak semua berbicara berdosa, tidak semua diam berpahala. Tidak semua diam emas. Ada juga diam yang sampah dan menyembunyikan kebusukan.” Tegas Pak Kiai.



“Bisa diperinci Pak Kiai!”



“Silahkan kalian perhatikan. Kali ini saya akan menjelaskan ada empat macam diam yang dosa. Pertama; kalian diam ketika kemungkaran dilakukan terang-terangan di depan kalian. Istri yang berbuat maksiat di depan kalian, dan kalian diam (begitu juga istri diam ketika melihat kalian yang maksiat). Tuhan melaknat itu. Bani Israil yang diam atas kedzaliman dan penindasan penguasa, adalah sebuah kedzaliman. Sebab, kedzaliman tidak akan terjadi tanpa kerjasama antara yang mendzalimi dan yang didzalimi. Dengan diam, orang yang tertindas mendukung pelestarian penindasan. Diamnya seluruh bangsa atas penindasan penguasa adalah tonggak utama kedzaliman.



“Kedua; diam itu dosa jika berkenaan dengan informasi yang diperlukan masyarakat. Kanjeng Nabi saw pernah bersabda, Jika seorang alim (pemilik informasi) ditanya, lalu ia (diam) menyembunyikan informasinya itu, ia akan dibelenggu dengan belenggu api neraka. Kalau kalian punya ilmu, terus tidak mengajarkannya; kalian tahu arah jalan, namun tidak memberikan petunjuk; kalian melihat ada kebusukan namun tidak melaporkannya, maka kalian termasuk orang yang akan dibelenggu di api neraka. Lihat saja mereka yang membuat surat palsu MK. Serentak mereka berkelit. Tidak ada yang mengaku. Begitu juga kasus Bank Centuri yang hingga kini tak jelas nasibnya akibat banyak dari mereka yang tersangkut menyembunyikan informasi. Begitu juga mereka yang diam terkait peristiwa penculikan aktivis di masa orde-baru. Semua diam mereka itu adalah dosa. Lebih tegasnya, ketika ulama, pendeta, cendikiawan dan orang-orang pintar diam melihat kerusakan besar di negeri ini demi kepentingan sesaat, mereka ikut bertanggung jawab jika negeri ini bobrok.



“Ketiga; diam yang dosa adalah tidak mau berbicara selama tidak berkaitan dengan keuntungan dirinya. Dulu, ada seorang yang punya tipe seperti ini. Banyak orang bergejolak ketika hutan terbakar, kemarau panjang, banyak yang kelaparan. Ia diam. Ketika rakyat resah, jutaan orang kehilangan pekerjaan karena krisis keuangan, jutaan bayi mati karena kekurangan gizi. Ia pun diam. Begitu ia dihadapkan pada persoalan gaji dan tunjangannya sendiri, ia angkat bicara. Segera setelah tuntutan kenaikan gajinya dipenuhi, ia sunyi kembali. Ada juga seorang aktivis. Ia bersuara keras, vokal, dan kritis. Di mana-mana ia menjadi singa mimbar. Orator, ya, setiap aksi ia selalu berorasi dengan fasih. Tiba-tiba suaranya hilang. Ternyata ia kini sudah menduduki jabatan yang basah di tengah-tengah orang yang dahulu dikecamnya. Rupanya suara kerasnya itu hanya suara keledai, suara yang keluar karena lapar. Sesungguhnya suara yang paling buruk adalah suara keledai?



Keempat; diam itu dosa, ketika kalian tidak mengakui kesalahan yang kalian lakukan. Kalian melakukan kesalahan yang amat-amat merugikan masyarakat. Orang banyak meminta pertanggung-jawaban kalian. Kalian diam. Kalian menjadi lautan yang isinya tidak terlihat. Kalian menjadi patung yang kaku, tanpa ekspresi. Begitu kalian menemukan kambing hitam, kalian berteriak dengan suara yang mengalahkan halilintar. Nah, inilah yang terjadi di bumi pertiwi kita. Terlihat saling mengkambing-hitamkan. Anas, Nasharudin, SBY, Demokrat, KPK, dan mereka yang hangat diperbincangkan, tidak meminta maaf atas kekisruhan, malah saling lempar batu.”



Mendengarkan uraian dari pak Kiai. Sang Santri yang tadinya akan diam, justru bangkit dan berteriak, “Ayok, mari kita turun, kita bersuara dengan lantang. Menolak kedzaliman.” Karena Santri ini agak ke-kanan, ia menutup dengat kalimat “Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar.”



Kepalkan, tinjumu ke awan, nyanyi budaya pembebasan.



Rapatkan, barisanmu kawan, hancurkan segala penindasan.



Yuk semua, turun ke jalan lantang suarakan, segala tuntunan.



Hancurkan, feodalisme, militerisme, dan kapitalisme.



Jangan ragu ayo bersatu, yakinlah rakyat, pasti menang
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul