Header Ads

Rekayasa

Banyak di antara kita yang mudah ditipu, tetapi sulit disadarkan bahwa kita ditipu. Bukti-bukti yang menunjukkan penipuan malah dipertahankan untuk menunjukkan kebenaran. Salah satu teknik menipu yang paling efektif adalah membuat cerita. Cerita menjadi kerangka berpikir kita untuk memandang dan menafsirkan dunia. Biasanya ia disebut “rekayasa sosial,” yakni kerangka teori untuk meletakkan berbagai peristiwa yang disaksikan. Terkadang, teori semacam ini akhirnya menjadi mitos dan ideologi.



Dalam dunia politik, penguasa yang korup (pencuri negara, kekayaan, atau kemenangan) selalu menipu kita dengan cerita. Masih ingat pada rezim Orde Baru, penguasa membuat cerita tentang kejahatan PKI. Semua hal yang buruk (memfitnah, membuat kerusuhan, mengadu-domba, merekayasa, menyiksa dengan kejam) dinisbatkan kepada PKI. Siapa saja yang bersuara menuntut hak-haknya, maka dengan cepat ia akan dituduh PKI. Buruh yang demonstrasi menuntut apa yang menjadi haknya didalangi PKI. Setiap orang yang membela rakyat kecil dan menyuarakan keberanian disebut PKI.



Akhirnya, suatu ketika, ada seorang Kiai yang membela rakyat kecil, terdengar ungkapan, “Tidak, dia bukan Kiai, karena PKI tidak mungkin beragama.” Bagaimana menjelaskan hal semacam ini? Dengan cepat kita mengambil kesimpulan: telah terjadi penyusupan PKI pada kalangan umat beragama. Kita memberi nasihat: Hati-hati bahaya PKI. Orde Baru anti PKI; tetapi kita menemukan tokoh Orde Baru yang memfitnah, merekayasa, atau mengadu domba. Kita tidak menyalahkan Orde Baru. Kita berkata bahwa ada praktik-praktik PKI.



Ketika hari ini, partai penguasa yang diceritakan sebagai kelompok anti korupsi, santun, cerdas dan bijak, dikemudian hari beberapa anggotanya terbukti korupsi, memfitnah dan berbuat tidak adil, maka kita (yang sudah dicuci otak untuk mempercayai penguasa) akan berucap, “Ada konstelasi besar yang akan menumbangkan pemerintahan hari ini. Banyak media yang berafiliasi dengan partai lain yang ingin merusak citra penguasa. Dus, ini jangan kita ikuti. Tidak mungkin partai yang santun akan berbuat salah.”



Salah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kota yang melarang rakyat kecil berjualan BBM, kemudian mendapat kritik dari elemen masyarakat, kita justru menuduh elemen tersebut provokator. Dalam benak kita, tidak mungkin pemerintah akan menyengsarakan rakyat, segala kebijakannya untuk kepentingan rakyat.

Lain halnya dengan peristiwa sebuah komunitas yang dituduh sesat, fasik, tukang maksiat. Pemimpin kelompok itu dianggap pemalsu nasab, bukan dari keturunan orang baik. Pada suatu waktu diketahui bahwa komunitas tersebut mendakwahkan hal-hal baik, berakhlak baik, dan menjaga diri dari perbuatan yang merugikan banyak orang. Keturunan pemimpin kelompok ini terbukti sebagai pekerja sosial, memiliki kearifan dan kejujuran yang mulia. Kejadian ini seharusnya menyadarkan orang bahwa kelompok dan keturunan pemimpinnya tidak seperti yang digambarkan para “perekayasa.”



Tetapi, kebanyakan dari kita yang telah tertipu, akan berkata, “Hati-hati dengan mereka. Mereka pandai berpura-pura. Akhlaknya yang baik hanyalah cara halus untuk menjerumuskan kita ke dalam kesesatan. Keturunan mereka tidak tercatat dibuku-buku sejarah. Mereka itu hanya memanfaatkan kita untuk kepentingan mereka.”

Saya pun berpikir untuk terus berupaya lari dari tipuan-tipuan semacam itu.



Satu-satunya cara untuk menghindarkan tipuan ialah membuang kebiasaan untuk mudah percaya kepada orang, hanya karena orang itu berstatus tinggi. Kita harus melatih berpikir kritis, terutama setelah terlalu lama kita dijejali dengan doktrin-doktrin yang tidak boleh dipertanyakan. Kita harus mengubah mitos bahwa orang baik adalah orang yang patuh tanpa kritis.



Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul