Header Ads

Sindrom Pupa Vs Ahli Majang

Dus, di sekitar saya, banyak orang-orang yang “korup” karena kekayaan. Banyak orang yang salih pada masa kesempitan, berubah menjadi orang salah pada masa kesempatan. Ketika rezekinya banyak, mereka tidak punya waktu untuk beribadat; tidak jarang, bahkan mereka melakukan maksiat. Sang kawan, ketika menjadi aktivis di kampus, ia tidur di masjid, karena tidak sanggup membayar sewa kos. Di masjid itulah sebagian besar malamnya dihabiskan dalam dzikir. Setelah menjadi direktur perusahaan, ia sering berkunjung ke tempat hiburan dan menghabiskan sebagian besar malamnya di situ. Sang kawan tadi, ketika menjadi aktivis kampus yang kekurangan duit, ia terkenal “vokal” mengkritik kebijakan yang menindas rakyat. Setelah memegang posisi yang basah, ia bungkam. Uang yang bisu dapat meluruskan orang yang bengkok. Uang yang bengkok juga telah membuat orang lurus menjadi bisu. Alhasil, mereka yang dimaksud terserang Sindrom Pupa (semacam penyakit pura-pura lupa).



Suatu ketika, Pak Kiai membangun mushalla di lingkungan desa kecil tanah kelahirannya. Di mushalla itu, terdapat tempat terbuka di ujungnya yang diberi semacam naungan. Oleh Pak Kiai, tempat itu diberi nama Majang (Markas Para Pejuang). Di situlah tinggal jama’ah yang miskin atau perantau yang datang dari jauh dan tak punya sanak saudara. Mereka hidup sangat sederhana dan seringkali menderita lapar. Malam-malam terkadang pak Kiai mengundang sebagian mereka untuk makan malam bersamanya, dan sebagian besar yang lain bersama warga desa setempat.



Sebagai santri Pak Kiai, saya diberi tugas untuk mengumpulkan sedekah dari santri lainnya dan diserahkan kepada Ahli Majang. Warga desa lainpun sekali-kali diminta Pak Kiai untuk mengerimkan makanan kepada Ahli Majang. Dengan segala kemiskinannya, Ahli Majang terbukti menjadi santri pilihan yang belajar ilmu kepada Pak Kiai. Merekalah yang paling rajin menghadiri majelis Pak Kiai. Siang hari mereka berpuasa. Malam hari mereka ruku’ dan sujud. Waktu-waktu luangnya mereka pergunakan untuk berdzikir. Ketika berdakwah ke luar daerah, merekalah yang paling dahulu dibawa Pak Kiai ke medan juang.



Dari “pesantren” Majang inilah keluar Muhammad Iqbal, seorang pejuang Islam yang menegakkan kebenaran; Kang Panjul, penebar panji-panji kesalehan; Mustaqim, pengembara yang terus mencari jalan lurus; Nanjaya Amirullah, yang mendapat gelar sang penabur kedamaian; Al Riauan, musafir kelana yang disegani orang sekitar; Muhammad Ali, yang digelari Pemelihara Rahasia Sang Kiai; Zulkifli Puasa, pemilik suara emas dalam melafadzkan ayat suci; Arafah, pemilik gelar al arif billah; Irawan, diberi gelar sayyidul sufi; Al Hamzat, ahli anotomi tubuh manusia; Kang Hardi, yang diberi gelar Al Shabirin; Al Kindi, sang penentu kebijakan; dan lain-lain.



Kepada merekalah pada suatu hari Pak Kiai datang. Dengan ramah beliau menyapa mereka, “Apa kabar kalian pagi ini?” Serentak mereka menjawab, “Baik, Pak Kiai?”



“Hari ini kalian dalam keadaan baik. Bayangkan apa yang terjadi pada kalian jika pagi hari kalian makan pada satu wadah dan sore harinya pada wadah yang lain?”



“Pak Kiai, apakah dalam keadaan demikian kami masih menjadi hamba Allah?”



“Benar.”



“Sumpah, dalam keadaan apapun, kami akan tetap menjalankan apa yang seharusnya delakukan sembari mengharap ridha Allah. Mohon kami dibimbing Pak Kiai!”



Para Ahli Majang mengajarkan kita untuk tetap istiqamah dalam keadaan apapun. Mereka tak pernah berhenti untuk terus mengkampanyekan kebenaran. Disaat kering maupun basah, mereka selalu lantang suarakan segala kebajikan. Ketika melihat saudara-saudaranya tertimpa musibah, mereka bergegas untuk membantu. Dalam keadaan kaya maupun payah, ketika mereka mendengar bahwa pemerintah membuat kebijakan yang keliru dan menindas rakyat lain, segera mereka berkoar untuk mengkritik penguasa.



Berbeda dengan mereka yang terkena Sindrom Pupa. Dalam keadaan miskin, mereka menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Justru kalau mereka kaya, mereka mengalamai degenerasi secara spiritual, alias pura-pura lupa apa yang harus menjadi tugas dan kewajibannya. Merekalah yang rajin ke masjid ketika miskin. Merekalah yang mempunyai banyak waktu untuk berkhidmat kepada umat ketika belum memiliki jabatan basah. Merekalah yang sering bersilaturahmi dengan sanak saudara dan tetangga, sebelum bisnis mereka maju. Merekalah sekelompok manusia yang sering bertengkar, saling menjegal dan saling fitnah ketika organisasi mereka mendapat kucuran dana besar.



Kawan, ketika kau kekurangan, berdo’alah supaya digabungkan dengan Ahli Majang. Jika kau Kaya, berhati-hatilah dengan Sindrom Pupa.





Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul