Header Ads

TABALBUL

Al Kisah, seorang pria paruh baya, bernama Zakaria. Ia adalah seorang peternak sapi di kampung kecil nan terpencil. Seperti biasa, bapak tua renta ini disetiap pagi hari membawa hewan ternaknya berkeliling sembari memberi makan. Dalam perjalanan, Zakaria bertemu dengan segerombolan anak muda, “Assalamu’alaikum, Pak Zakaria. Mau kemana pagi-pagi dengan Sapinya?” tanya salah seorang pemuda.

Tiba-tiba dengan cepat Pak Zakaria membantah, “Tidak, sapi ini tidak saya jual!”
“Maaf, Pak Zakaria, kami tidak menanyakan harga sapi itu.” Jawab pemuda yang penuh keheranan.

“Tidak, Saya tegaskan, Sapi ini tidak untuk dijual.”
Setiap pemuda mengklarifikasi, jawaban Pak Zakaria tetap sama. “Saya tidak menjual sapi ini.”

Merasa gerang dengan pemuda-pemuda yang dianggapnya melawan, Pak Zakaria langsung mengikat Sapinya dan kembali ke rumah. Sambil marah-marah, ia duduk di meja makan dapur untuk sarapan yang telah disediakan istrinya, Sabariyah.

“Ibu, kenapa sih anak muda jaman sekarang, banyak yang berani dengan orang tua. Mereka tidak santun. Sudah saya bilang tidak menjual sapi kita, tetap mereka menanyakan harganya. Sungguh keterlaluan mereka. Apa mereka tidak tahu tatakrama?” celoteh Pak Zakaria di depan istrinya.

Sabariyah, sang istri, nampaknya cukup bosan dengan ocehan-ocehan suaminya. Sabariyah tersinggung dan berucap. “Sudahlah pak, jangan marah-marah terus. Sambel pedas itu bukan ibu yang buat, tapi anakmu, si Qamariyah.” Tangkas sang Istri.

“Itu sudah, bapak udah katakan kepada pemuda-pemuda itu, Sapi kita hanya untuk diternak, tidak dijual. Mereka malah mengejar terus” sahut Pak Zakaria. “Iya Pak, Ibu tahu. Ibu udah bilang sama Qamariyah, kalau masakan buat bapak jangan kebanyakan pake sambel”

Si istri pun akhirnya memanggil si anak. “Qamariah, Qamariah. Kesini cepat.” Qamariah pun bergegas menghampiri kedua orang tuanya di ruang makan. “Coba kamu lihat” ungkap si Ibu. “Ayahmu dari tadi marah-marah. Ini karena kamu terlalu pedas membuat masakannya” lanjutnya.

Qamariyah, dengan santun menjawab, “Maaf Bu, tolong bilang sama bapak, bahwa Qamariyah belum siap untuk menikah”

***

Cerita di atas, jika dibawakan oleh seorang humoris, pasti akan menjadi cerita lucu. Saya pun yang mendengarkan langsung dari ceramah ayah pada tausiahnya, merasa tergelitik dan mendapat semacam pencerahan. Bagi saya, inilah potret bangsa kita hari ini. Diantara kita memiliki sifat sering saling salah sangka, Tabalbul.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul