Header Ads

Bangkrut

Mengecam, menuduh, korupsi, menghaburkan uang rakyat dan menumpahkan darah adalah bagian dari perbuatan zalim. Pada doktrin keagamaan, orang yang berbuat demikian akan datang pada hari akhirat dengan membawa shalat, puasa, dan hajinya. Ia adalah orang shalih, Muslim yang setia menjalankan ibadah-ibadah ritual. Namun, ketika ia diadili Tuhan, pada tangannya bergelantungan orang yang pernah dizaliminya. Mereka menuntut apa yang tidak dapat mereka tuntut dahulu di dunia. Di situ, ada nelayan kecil yang selalu dikalahkan dalam pengadilan, rakyat kecil yang ditahan tanpa kesalahan, anak kecil yang dipenjara hanya karena sandal jepit, atau petani yang tanahnya tergusur karena kalah bertarung.



Pelaku kezaliman itu pastilah orang ternama atau orang besar. Bahkan biasanya punya kedudukan strategis di ruang publik. Dengan kekayaannya, ia bisa seenaknya menggusur siapa saja, membunuh siapa saja, atau menyiksa siapa saja. Ia selalu lolos dari hukum, apalagi ia terkenal salih. Ia berungkali naik haji dan umrah. Ia taat berpuasa. Ia rajin shalat malam.



Kira-kira, mungkinkah ada orang zalim yang taat beribadah? Atau, mungkinkah orang taat beribadah berbuat zalim? Tidakkah dzikir yang dilakukannya akan menghambat tangannya untuk menganiaya orang lain? Bukankah sujud malamnya akan melembutkan harinya dalam melihat derita orang lain? Atau ini hanya pertanyaan retoris semata?



Sebenarnya, yang jadi pertanyaan bukan soal mungkin dan tidaknya terjadi, melainkan kenapa bisa terjadi? Nah, biasanya orang berbuat zalim karena “jiwanya sakit.” Ia kehilangan kemampuan untuk berempati (kemampuan untuk “merasakan ke dalam” perasaan orang lain. Kita mencoba melihat dunia bukan dari kaca mata kita saja, tetapi juga dari kaca mata orang lain, sehingga kita mampu memahami dan menggunakan perspektif orang lain).



Ketika kita berbuat zalim, kita tidak dapat merasakan kepedihan mereka yang (dalam keadaan tak berdaya) menyerahkan hasil kerja keras mereka. Kita tidak menduga bahwa orang yang kita zalimi merintih karena kehilangan hak-hak yang dicintainya. Kita hanya merasakan kebahagiaan memperoleh apa yang kita sebut “keuntungan.” Pada hari akhirat, keuntungan itu ternyata adalah kerugian besar. Di sana, kita akan merasakan kepedihan dengan menyerahkan hasil kerja keras kita di dunia kepada mereka. Ketika itu, kita mulai mengerti empati. Tetapi sayang, sudah terlambat, disaat itu, kita BANGKRUT!
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul