Header Ads

Bangsa Carut Marut

“Saya berharap, bangsa ini secara keseluruhan melakukan tobat besar-besaran, yakni kembali ke jalan yang lurus, meninggalkan perilaku berbangsa yang dimurkahi Tuhan.” Pak Kiai tiba-tiba nyeletup. Ternyata beliau baru saja beranjak dari depan TV. Maklum, tayangan yang ditontonnya memperlihatkan carut-marutnya bangsa. Ada pejabat pemboros, ada polisi todong pistol kepada rakyat, ada pencuri sandal yang diintimidasi, ada rakyat yang beringas, ada pelajar tawuran dan ada-ada saja lainnya.



“Situasi buruk seperti ini mengingatkanku pada syair yang ditulis Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keimanan hanya tinggal pemikiaran, yang tak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik tapi tak berakal. Ada orang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yang khusu’ namun sibuk dengan kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya banyak berkarat. Ada yang banyak menangis tapi kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tak member teladan. Ada pelacur yang tampil jadi figure. Ada yang berilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang bodoh tak tahu diri. Ada yang beragama tapi tak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tak berTuhan. Lalu diantara itu semua, dimana aku berada?” Baca Pak Kiai.



“Jika demikian, apa yang mesti dilakukan, dan maksud dari tobat besar-besaran bagaimana, Pak Kiai?” Tanyaku. “Pertama, kita harus mendaftar dosa-dosa yang kita lakukan sebagai bangsa. Kita harus menyadari bahwa di samping dosa-dosa individual, seperti merampas hak orang, kita juga terlibat dalam dosa-dosa kolektif. Kita sudah menjadi bangsa berdarah dingin. Kita tidak tersentuh dengan derita anak bangsa kita yang dipancung di negeri orang tanpa peradilan, pengadilan, dan keadilan. Kita juga sudah menjadi bangsa yang penakut. Kita belajar untuk tidak berbicara yang benar. Kita mengembangkan keterampilan bahasa yang menyembunyikan realitas pahit dalam kemasan manis. Paling parah dari semuanya, kita menjadi bangsa pencinta dongeng. Apa saja cerita yang dibuat oleh penguasa melalui pidatonya, betapa pun tidak masuk akalnya, menjadi keyakinan kita.



“Kedua, agar tobat besar-besaran kita diterima Allah, kita harus melanjutkannya dengan membuat pengakuan. Pengakuan adalah syarat utama tobat. Dengan pengakuan, kita bergerak dari wujud yang rendah ke wujud yang tinggi.” Jelas Pak Kiai.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul