Header Ads

BANGSA DAN NEGERI YANG LEBAY DOT COM

Mas, Mba, Kawan, Bapak atau Ibu, siapapun Anda, terutama yang benar-benar warga Indonesia, tentu pernah mengetahui, menikmati bahkan menjalani kehidupan ‘error’ di negeri ini. Tentu Anda mafhum, bahwa pada periode sebelumnya, secara ekonomis kita diancam masa depan kelabu, kalau kita tak mau menyebutnya tragedi yang dahsyat. Kita dihantui perasaan takut. Kita atau anak kita bisa sewaktu-waktu hilang, diculik orang-orang bertopeng. Siapa yang menjamin keamanan kita, kalau begitu keluar rumah, sebuah atau bahkan beberapa buah pistol ditodongkan ke bagian tubuh kita yang vital? Seorang aktivis HAM tidak melapor kepada petugas keamanan, ketika orang-orang bertubuh besar mengikutinya dari belakang. Ia memilih naik ke taksi  dengan cepat, dengan sedikit menggunakan kecerdasan.

Lalu, masih pada periode suram itu, apa yang dapat dilakukan rakyat kecil? Mereka sering menyaksikan rekan-rekan mereka dibuang ke sungai, digantung di pohon, atau dibenamkan di laut. Para pelakunya misterius, walaupun diketahui secara rahasia, rahasia umum. Mereka bukan saja merasa tidak aman. Mereka juga sadar bahwa mereka hanyalah makhluk yang bisa dihabisi kapan saja. Bila kesadaran ini bergabung dengan perut lapar (krisis ekonomi), kekuatan menuju perubahan akan muncul. Akhirnya, kombinasi perasaan takut dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia tersebut menciptakan reformasi.

Kita, generasi hari ini, apakah harus bersyukur? Saya tidak tahu. Tapi keadaan buruk itu tidak saya sukai. Kasusnya, mungkin awan kelabu itu sudah kita lewati. Namun akhir-aknir ini Indonesia sedang dihiasi dengan situasi yang beda kulit tapi sama isinya dengan masa-masa suram itu. Kita khawatir, anak yang disekolahkan terlibat tawuran. Anak gadis yang diharapkan belajar, justru menyimpan benih manusia dalam rahim di luar waktunya. Jadi pedagang kaki lima dihantui dengan perasaan yang takut dikejar-kejar Sat Pol PP. Pajak yang di bayar justru habis ditelan para koruptor. Aparat berwajah sipil tapi masih bermental militer. Alhasil, mengerikan.

Siapa yang di tunggu? Reformasi jilid II? Ah, hanya bunyi-bunyian. Mereka yang berteriak pada pembentukan reformasi sebelumnya juga hari ini duduk manis di kursi-kursi panas. Ada juga yang sembunyi di “ketiak” penguasa. Media tidak independen. Semua berafiliasi dengan politisi, partai politik dan bahkan penguasa. Korupsi merajalela bahkan berjama’ah. Tokoh ulama yang gerah dengan korupsi bikin somasi agar para maling uang negara itu dihukum mati. Aktivis mudanya bilang, “Jangan. Karena koruptor di Indonesia berjamaah. Kalau di matikan, kita sulit mencari akar mata rantainya”.

Ah, lembaga penegak hukum sibuk kelahi. POLRI-nya lebay, KPK-nya cengeng. Para pendukung mereka reaksioner. Seolah-olah seakan-akan. Betul kata Almarhum KH. Zainuddin Mz. “Di jaman Orde Lama, korupsi berada dibawah Meja. Di jaman Orde Baru, Korupsi berada di atas Meja. Nah, hari ini, jaman reformasi, Meja-nya pun dikorupsi...” Huh... Capek deh.... Terus, gue harus bilang WAOW getuh??? 
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul