Header Ads

Be Mr. Clean, Sudahkah Anda?

Sang ustadz berorasi di mimbar;
“Hai kalian para penguasa. Berbuat adil lah kalian. Hindarilah berbuat dzalim. Jangankan berbuat dzalim, jika terbesit saja niat untuk berbuat dzalim, penguasa akan menimbulkan kerusakan di dunia. Buah-buahan yang manis akan segera berubah menjadi kecut. Tanah yang subur berganti menjadi kering-retak. Langit tak lagi menghantarkan hujan, tapi menyebarkan asap kering. Bersandarlah pada penguasa yang Agung. Tuhan, ya Tuhan sebagai Penguasa Semesta Alam yang Adil. Penguasa-penguasa di bumi baru sah bila ia mengikuti sifat Raja Langit dan Bumi...”

Seorang pemuda tiba-tiba berteriak;
“Oh, Ustadz. Apa yang harus diikuti? Sifat yang mana?”

Dengan fasih sang ustadz menjawab:
“Penguasa di bumi harus memiliki beberapa kriteria agar berbuat adil. Pertama, penguasa harus menyukai dan memelihara kesucian. Ia berusaha untuk hidup lurus, tidak mencemari kehormatan dirinya dengan hal-hal kotor. Ia tidak berkata kotor dan tidak bertindak kotor. Semua yang dilakukannya tampak seperti air yang bening. Stelah menjaga kesucian dirinya, ia berusaha mensucikan lingkungan di sekitarnya. Ia membasmi kekotoran para pejabat di bawahnya, tanpa membeda-bedakan mereka berdasarkan keakraban atau kedekatan dengan dirinya. Ia harus bergelar Mr. Clean, berarti juga bersih secara moral, yang tidak terlibat dalam dan tak suka pada kolusi dan korupsi.

Kedua, penguasa itu harus memelihara keselamatan dan perdamaian di seluruh penghuni alam. Ia harus memiliki komitmen untuk mensejahterahkan dan membahagiakan semua makhluk Tuhan. Ia harus menjadi mentari yang mengirimkan sinarnya kepada semua penduduk bumi, yang tinggi dan yang rendah, yang besar dan yang kecil. Ketiga, penguasa harus menjamin rasa aman. Dihadapannya semua orang merasa tentram. Di samping kesejahteraan, penguasa berusaha menegakkan keamanan dan ketertiban. Penguasa yang beriman berusaha agar setiap orang dapat hidup sebagai manusia yang layak, tidak terancam oleh penindasan dari pihak yang lebih kuat.

Keempat, penguasa sejati adalah sebagai pelindung, pengayom, pengawas. Ia adalah panutan semua orang. Petunjuknya dijadikan pedoman bukan hanya oleh menteri yang tidak punya kemampuan. Kelima, sang penguasa orientasinya dipercaya dan diterima oleh rakyatnya. Ia harus merepresentasikan kekuasaan negara yang tak bisa digoncangkan oleh kepentingan segelintir orang. Ia harus diterima secara sah sebagai kekuatan pemaksa tertinggi dalam negara.”

Salah seorang penjabat interupsi;
“Mohon maaf ustadz. Bukankah hal itu sudah umum. Kriteria yang Anda sebutkan tadi anak SD pun sangat mengetahuinya. Bagi saya, tidak ada yang spesial dari tausiah Anda”.

Sang ustadz membalas;
“Apakah Anda sudah berbuat demikian?”

Si pejabat terdiam bisu. Ia menengok kiri kanan. Sepertinya ia merasa malu. Karena si pejabat itu sedang ramai dibicarakan didaerahnya sebagai penguasa yang gagal memimpin.

Ustadz melanjutkan;“Sudahkah Anda mensucikan diri Anda? Menjaminkah Anda dihadapan rakyat dan Tuhan bahwa Anda jauh dari korupsi dan kolusi? Adakah situasi damai di wilayah yang Anda kuasai? Adakah rasa aman? Anda sudah melindungi, mengayom bahkan mengawas? Orang disekitar Anda mempercayai Anda? Anda menjamin tidak terjebak dengan kepentingan segelintir orang? Sudahkah Anda lakukan itu semua? Tak usah Anda mengucilkan kriteria-kriteria yang Anda anggap “murahan” itu, sementara Anda sendiri tak sanggup melakukannya. Siapapun Anda, mulai dari penguasa tertinggi hingga penguasa diri sendiri, kerjakanlah amaliah tadi. Agar kita tidak membuat delima rasa kecut.”

Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul