Header Ads

Cerita Mimpi

Beberapa daerah di Indonesia sedang ditimpa kemarau panjang. Tanaman sudah menguning. Dan hewan-hewan sudah kurus kering. Sebagian daerah laksanakan proram membuat hujan buatan. Bupati/Walikota menghimbau kepada para tokoh agama untuk berdo’a, bahkan mengadakan shalat Istisqa, memohon kepada Tuhan agar hujan segera diturunkan. Ketika datang waktu berkhutbah, seorang tokoh ulama berdiri di mimbar. Aneh sekali, ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci dan tubuhnya berguncang. Ia turun, dan Pak Bupati naik. Seperti ulama, Bupati pun terpaku di mimbar. Ia tiba-tiba bisu. Akhirnya ia pun turun.

Mimbar kosong. Tak seorang pun berani menggantikan Bupati. Setelah hening beberapa lama, sebagai pemuda, saya tampil. Setelah membaca tahmid, shalawat dan salam, dengan fasih, saya menyampaikan nesihat. Yang pertama kali saya beri nasihat adalah Bupati. Menurut saya, semua bencana terjadi karena kezaliman penguasa. Penguasa sudah tidak dapat lagi mendengar jeritan orang banyak. Penguasa terasing dari lautan rakyat dalam sebuah pulau yang dihuni hanya oleh para penjilat, tukang cari muka. Bupati sudah kehilangan pandangan pada keadaan yang sebenarnya. Tuhan murka. Tuhan ingin menunjukkan bahwa kesalahan seorang pemimpin mengakibatkan derita jutaan umat manusia.

Mendengar ucapan itu, saya kira Bupati dan “sebangsanya” akan menangkap atau memenjarakan saya. Ternyata bupati tak sanggup menahan air matanya. Sementara itu, para pendengar yang lain ketakutan. Nampaknya, mereka yakin saya sedang berbicara untuk terkahir kalinya. Mereka mengira, jika beruntung, saya dapat mengisi sisa hidup di penjara yang pengap. Biasanya orang seperti saya akan segera kehilangan seluruh hidup. Melihat bupati menangis, saya justru melanjutkan khutbah, alias orasi. “Bila penguasa bumi sudah ada rasa takut, maka akan ridhalah penguasa langit.” Belum selesai kalimat yang saya ucapkan, hujan turun dari langit, makin lama makin deras. Penguasa langit tampaknya sudah ridha.

Inilah saya, pemuda yang berani bersuara ketika semua orang mulutnya terkunci. Saya adalah seseorang yang mengisi mimbar dengan bebas, ketika tak ada lagi orang berani berdiri di mimbar itu. Saya bernyanyi sendiri, betapapun fals dan anehnya lagu itu.

Menjadi vokalis tidaklah gampang. Kalau suara saya sumbang, saya tak dapat menya-lahkan siapapun. Saya bertanggung jawab sepenuhnya atas apa pun yang terjadi di panggung. Jika tarian saya jelek, saya tak dapat mengatakan lantai berlompat-lompat. Saya juga harus mengeluarkan suara lebih keras. Di atas itu semua, saya harus melepaskan ketergantungan pada dukungan kawan-kawan sekelompok (seperti dalam grup Band, boy Band, paduan suara dan semacamnya).  Saya bernyanyi sendiri. Prinsip saya, apa pun jenis “binatang” yang membungkam mulut semua orang, tetap akan ada ada suara yang terdengar. Ya, itu sauara saya bernyanyi sendiri. Tapi sayang, ini hanya cerita mimpi.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul