Header Ads

Miskin Yang Dikroyok

Coba diperhatikan baik-baik, akhir-akhir ini, kebijakan sosial, politik dan ekonomi Indonesia, tak pelak akan muncul gambaran kaum miskin sebagai orang-orang yang terhina karena kemiskinannya dan kaum elit memproyeksikan gambaran ini sehingga ada di mana-mana dalam wacana budaya politik dan populer. Parahnya lagi, kebijakan publik pun mencerminkan gambaran yang sama.

Kenapa penguasa melancarkan serangan terhadap sistem tunjangan kesejahteraan? Ada apa dibalik retorika ini?

Jika Anda menganalisis dengan cermat, maka Anda akan menemukan bahwa kebijakan ini didorong oleh bisnis di Indonesia. Inilah sebabnya: “lingkaran bisnis” penting bagi ekonomi kapitalis. Di tahun 90-an, seorang ahli ekonomi mengamati bahwa apabila tingkat pengangguran tinggi, upah akan turun. Penyebabnya, jika banyak tenaga kerja yang bekerja, bisnis harus menanggapi tuntutan upah. Tetapi bila tingkat pengangguran tinggi, pemilik perusahaan tahu bahwa tenaga kerja bisa mereka dapatkan dengan upah yang lebih rendah. Maka pengangguran akan menurunkan upah, karena tenaga kerja rela dibayar berapa saja asal dapat bekerja. (ini yang disebut dengan periode “untung-rugi)

Apa hubungannya dengan tunjangan kesejahteraan?

Tunjangan kesejahteraan adalah salah satu cara menjaga pemasukan, dan berfungsi sebagai dinding pemisah antara bekerja dan menganggur. Maka tenaga kerja tidak lantas menerima kerja apa saja asal tidak menganggur. Saat mereka tidak sedang terdesak, saat mereka memiliki cadangan penghasilan, mereka menuntut upah yang lebih tinggi dari pemilik modal. Siapa yang akan mengira bahwa golongan paling miskin di antara kita, penerima tunjangan kesejahteraan, memperkuat dan menstabilkan gaji tenaga kerja?

Alasan inilah yang menyebabkan serangan pemilik modal terhadap program-program yang bisa menjamin pemasukan pendapatan. Mereka meminjam tangan agen-agen politiknya, dan dengan tangkas berlindung dibalik label “perbaikan tunjangan kesejahteraan”. Partai-partai pendukung bisnis besar ini bergabung dalam perang melawan kaum termiskin, didorong oleh konglomerat media bisnis besar, yang apada gilirannya mensubsidi bisnis-bisnis yang lebih besar. Kepentingan mereka dapat dirangkum dengan satu kata: MODAL.

Yang kita lihat, hal terburuk bagi masyarakat malah baik untuk usaha bisnis. Ketika banyak orang menganggur, keadaan itu disebut “baik untuk bisnis”.

Para pengangguran di seantero Prancis turun ke jalan-jalan, mengguncang pemerintahan neo-liberal dengan gelombang demonstrasi militan. Mobilisasi besar-besaran ini menunjukkan kekuatan gerakan golongan pengangguran. Usaha negara untuk mengurangi program tunjangan kesejahteraan di Prancis pun dapat dihadang. Pergerakan ini melompat dan melintasi perbatasan menuju Jerman, di mana demonstrasi terjadi lebih dari dua ratus kota.
Kita dapat belajar dari orang-orang Prancis. Mereka tidak ragu untuk bersatu dan memobilisasi kaum miskin dan pengangguran.

Mari bersatu. Jangan menunggu politisi yang berjuang. Mereka tidak ikhlas. 
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul