Header Ads

Juara MTQ Itu Utusan SMP Kristen

Alkisah, seorang remaja muslim tinggal disebuah desa. Ia tumbuh besar dilingkungan keluarga yang sangat taat dalam menjalankan ajaran agama. Ayahnya tokoh agama setempat. Kakeknya apalagi, ulama yang disegani tidak hanya di desa itu, bahkan orang-orang kota pun turut memberi penghormatan baginya. Ayah kakeknya, seorang tokoh agama yang memiliki kharismatik dan jadi panutan ummat. Dari sini, bisa disebut, si remaja tadi adalah keturunan para ulama.

Sang remaja merupakan pribadi yang patuh dan sangat rajin beribadah. Ia cerdas. Punya suara merdu, apalagi jika melantunkan ayat-ayat al Qur’an. Biasanya, seorang pria yang mampu membaca al Qur’an secara fasih dibarengi kemampuan melantunkan dengan irama yang asik didengar, ia disebut Qori’ – kalau wanita, Qori’ah.

Desa tempat ia tinggal, 100 % warganya beragama Islam. Desa tersebut didirikan oleh Kakeknya yang ulama itu. Kendati tidak ada peraturan yang melarang non muslim untuk bermukim, tetap saja hingga puluhan tahun tidak ada satupun seorang atau sekeluarga selain muslim yang berdomisili. Apa karena penduduk desa tersebut menolak kehadiran pemeluk agama lain? Apa karena paham agama mereka sangat fundamental, radikal bahkan ekstrem?

Tidak. Justru penduduk setempat sangat terbuka bagi kelompok agama lain. Pemahaman agama mereka tidak sempit. Bahkan mereka memiliki kesadaran tentang pentingnya menghargai komunitas yang berbeda. Oleh sang ulama, mereka diajarkan nilai-nilai agama yang sangat peka’ terhadap sesama manusia. Tidak peduli apa sukunya, apa agamanya, apa warna kulitnya.

Dalam keseharian mereka, penduduk desa tersebut sering berinteraksi dengan warga desa-desa tetangga, yang notabene beragama Kristen. Interaksinya beragam. Mulai dari kegiatan ekonomi, agenda ceremonial, hingga tradisi saling berkunjung antar desa. Relasi seperti ini menjadi pemandangan yang tak asing bagi warga di daerah itu.

Terus, kenapa desa yang ditinggali si remaja itu tidak “bisa” dimukimi oleh warga yang bukan beragama Islam? Jawabannya sederhana. Desa tersebut berada di daerah pesisir. Mayoritas penduduknya menjadikan laut sebagai lahan mencari nafkah hidup. Nelayan. Sementara, desa tetangganya (yang dihuni orang Kristen tadi), berada di daerah “daratan”. Mereka terbiasa mencari nafkah dengan bertani. Sehingga, menjadi warga pesisir laut, bukan pilihan yang tepat.

Terlepas dari alasan apapun terkait tidak “bisa”nya orang bukan Islam untuk tinggal di desa itu, pada dasarnya tidak ditemukan adanya penolakan oleh warga setempat bagi kehadiran “orang lain”. Toh, ternyata dalam catatan sejarah desa itu, penduduk tetangga (umat Kristen) lah yang berharap kepada Sang Ulama dan keluarganya untuk mendirikan desa tersebut.

Kembali kepada si remaja. Ia masih duduk dibangku sekolah menengah. Di jamannya, bangunan sekolah di desanya belum ada. Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ia dan anak-anak seusianya, harus berangkat ke desa orang Kristen untuk belajar di sekolah. Juga, di desa tempatnya sekolah saat itu belum memiliki bangunan sendiri. Mereka masih menggunakan rumah ibadah orang Kristen (gereja) untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar.

Selain berada di desa Kristen dan belajar di dalam gereja, lembaga sekolah itu pun bernama SMP Kristen. Dapat dikatakan, Si remaja benar-benar hidup pada realitas yang unik. Di desanya ia hidup bersama orang Islam, nelayan (orang laut). Sementara mengenyam pendidikan di desa orang Kristen yang petani (orang darat). Alhasil, kehidupan tersebut mendidiknya menjadi pribadi yang pluralis. Ia mampu beradaptasi di lingkungan dengan segenap perbedaan yang sangat mencolok.

Oleh karena kecerdasan, ia dikagumi bahkan disegani oleh kawan-kawannya, baik yang Kristen atau Islam. Guru sekolah, selalu mengandalkan ia untuk berperan jika ada kompetisi cerdas cermat, lomba lari (ia lincah dan cepat), hingga lomba pidato. Pribadinya unik. Ia pun diterima oleh lingkungan yang sesungguhnya tidak seiman dengannya.

Nah, suatu ketika, si remaja – yang qori’ itu, mengikuti lomba membaca al Qur’an, MTQ. Perlombaan ini digelar oleh pemerintah kecamatan. Sekolahnya yang Kristen itu mengutusnya untuk menjadi peserta. Dengan bekal suara bagus serta bacaan ayat suci yang fasih, ia keluar sebagai juara I. Hebohnya, ketika diumumkan pemenang pada lomba MTQ itu, MC (master of ceremony) berucap, “Para hadirin, juara I untuk lomba membaca alqur’an ini, diraih oleh Saudara Muhsin (si remaja tadi- red), utusan SMP Kristen Tatengesan”. Hadirin pun memberikan applaus sembari tersenyum merasa unik, karena sekolah Kristen memenangkan lomba MTQ.    

Muhsin, keluarganya, kawan-kawannya, gurunya, desanya, desa tempat sekolahnya, orang-orang yang memberi applaus pada pengumuman pemenang lomba MTQ dan seluruh komponen yang berada di lingkungannya, adalah entitas manusia yang mampu dengan kesadaran mereka untuk mengelola pluralism. Saling mengisi, selalu berkomunikasi, bahkan sering berinteraksi tidak membuat keimanan mereka tergadaikan. Mereka hanya menjalani apa yang disebut dengan pluralisme kewargaan. Sebuah sistem kehidupan yang menerima dan menghargai keragaman dengan upaya bekerja bersama orang atau kelompok lain demi mencapai kebaikan bersama. Hanya itu.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul