Header Ads

Isu Pluralisme Paling Penting Di Manado



Kerukunan Di Tengah Perbedaan Agama.

Fakta kerukunan agama di Manado bisa dilihat dari aktivitas sosial masyarakatnya yang bisa disebut sebagai “tempat pertemuan agama-agama” di Indonesia. Meskipun di Manado seluruh agama-agama besar ada atau tumbuh pesat, namun penduduknya sering bertemu satu sama lain dalam bentuk kerjasama di bidang agama, dan masing-masing membangun pengalaman bersama serta bekerjasama. Di kota ini, persaudaraan itu diselenggarakan karena semata dorongan dan keinsafan internalnya bahwa “semua agama sama” dalam kedudukannya sebagai ajaran kedamaian dan persaudaraan. Lebih jauh, dapat dikatakan, jika ditinjau secara psikologis dan kultural masyarakat di daerah ini mempunyai mentalitas yang menghargai lebih tinggi pada kehangatan hubungan kongkrit antar manusia daripada ekspresi nilai-nilai abstrak dari agama. Inilah apresiasi mendasar orang Manado terhadap agama dalam dimensi kehidupan keseharian mereka.


Kerukunan Di Tengah Perbedaan Etnik


Manado, sebagai ibu kota propinsi Sulawesi Utara, sudah bisa dibayangkan sebagai daerah bertemunya semua komponen masyarakat di daerah ini. Dari penghujung Gorontalo, Minahasa, Bolaang Mogondow dan Sangihe Talaud yang penduduknya 2,8 juta, seluruhnya terwakili dalam golongan warga Manado yang jumlahnya lebih 200 ribu orang. Meskipun kota ini tergolong kecil, tetapi dari ukuran kemajemukan sosialnya sangat luar biasa. Karena disamping penduduk asli Sulawesi Utara, di Manado juga terdapat perkampungan etnik lain, seperti kampung Arab, Kampung Cina, Ternate dan Kampung Islam. Bahkan di Minahasa, sebagai kontributor penduduk terbesar Manado, terdapat pula perkampungan khusus bernama kampung Jawa (mereka turunan Kyai Modjo)


Pendekatan Dakwah Multikultural oleh NU Di Tengah Keberagaman Agama dan Etnik Di Manado


Menyadari bahwa Manado merupakan daerah yang dihuni oleh beragam agama dan kebudayaan, NU menggagas sebuah metode dakwah yang turut berperan dalam merayakan keberagaman tersebut. Sebagai sebuah organisasi yang bergerak dibidang dakwah dan pendidikan, NU berkomitmen untuk “mencerdaskan” ummat dalam rangka menjaga stabilitas politik, kebudayaan serta kehidupan sosial setempat.

Oleh karena itu, demi mewujudkan kehidupan harmonis di tengah beragamnya masyarakat Manado, NU menggunakan konsep paradigma multikultural sebagai metode dakwahnya. 

Dakwah multikultural mampu memberikan pengertian secara konprehensif dan mendalam berkaitan dengan pesan-pesan agama yang disampaikan berkaitan tentang keniscayaan hidup berdampingan dengan seluruh element masyarakat. Metode ini juga senantiasa mampu memberikan kesan perdamaian sehingga membangkitkan semangat persaudaraan. 

Bukti bahwa metode dakwah multikultural yang diterapkan NU dalam menghadapi problem-problem pluralisme di Manado sangat efektif dapat dilihat dari perjumpaan dan kerjasama NU dengan komunitas agama dan etnik lainnya. 


Kekhawatiran dan Harapan Atas Isu-isu Perbedaan Agama dan Etnik Di Manado


Yang selalu menjadi kekhawatiran atas keberagaman yang terdapat di Manado adalah persoalan konflik SARA. Daerah tetangganya, seperti Ambon, Halmahera dan Poso pernah tercatat sebagai wailayah konflik beraromakan perbedaan agama dan etnik. Perbedaan agama dan suku di daerah-tersebut tidak lagi dipandang sebagai kekayaan kebangsaan, tetapi malahan telah dicurigai sebagai potensi penghancur yang mudah dipakai setiap saat.

Manado adalah wilayah yang telah lama tercatat dan bahkan mungkin masih dibayangkan bahwa konflik bakal terjadi di sini. Tetapi dalam faktanya, sekaligus menjadi harapan kami, hingga kini Manado tetap penuh suasana kedamaian dan kerukunan diantara warganya. Meskipun tetap mendapat imbas pengungsian serta isu-isu dari daerah yang rusuh, warga Manado tetap tangguh dari ancaman sosial, terutama karena faktor SARA. Sehingga tak berlebihan kalau Manado layak menyandang sebagai “monumen” pluralisme untuk Indonesia.


Taufik Bilfagih

Ketua Lesbumi NU Sulut


Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul