Header Ads

Menjadi Muslim, Tidak Harus Jadi Orang Arab


Gus Dur pernah melontarkan satu pertanyaan menggelitik, “kita ini orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia ataukah orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam?” pertanyaan ini sepintas tidak problematik, tetapi apabila kita cermati, termuat dua paradigma yang bertolak belakang dalam mengimplementasikan Islam di bumi nusantara ini. Pertanyaan ini dilontarkan Gus Dur ketika sebagian orang Islam Indonesia marak menggunakan identitas Arab dengan maksud meneguhkan identitas keislamannya. Untuk menjadi Muslim, seseorang harus menggunakan identitas Arab atau melebur seperti orang Arab, mulai dari cara bicara yang kearab-araban, berjenggot dan berjambang lebat, berpakaian jubah, bercadar, hingga cara makan dan apa yang dimakan oleh orang Arab pun dijadikan model keislaman. Dengan identitas itu, dalam benak mereka, seolah-olah Islam itu Arab dan Arab itu Islam.

Muslim yang berpeci hitam, bersarung, berziarah kubur, memperingati tujuh hari, empat puluh hari, dan seratus hari dari kematian leluhurnya, meski tidak pernah absen mentaati rukun Islam dianggap tidak lebih saleh dan tidak lebih Islam ketimbang mereka yang serba Arab itu. karena simbol, tradisi, dan pakaian yang mereka kenakan dianggap bukan identitas Islam, bid`ah dan sesuatu yang merusak kemurnian Islam. kalaupun diakui Islam, keislaman mereka disebut Islam sinkretis, yakni Islam campuran antara Islam murni dengan budaya lokal setempat.

Islam murni (puritan) dalam pandangan mereka adalah Islam sebagaimana dijalankan Rasulullah SAW selama hidupnya di Arab pada abad ketujuh masehi. Demi menjaga kemurnian ajaran Islam, penganut Islam di manapun diharuskan meniru dan mengikuti Islam masa rasulullah dengan keseluruhan budaya dan tradisi kearabannya saat itu.

Jika islam model ini yang diikuti, maka yang sesungguhnya terjadi adalah arabisasi, pengaraban dunia. Jika Islam adalah arabisasi, maka Islam tentu bersifat lokal, temporal, dan bernuansa politis (sebab kata Arab adalah konsep politik). Jika Islam bersifat lokal, temporal, dan bernuansa politis, maka tentu bertentangan dengan misi utama Islam yang rahmatan lil alamin, menebarkan cinta kasih kepada seluruh umat manusia dan segala ciptaan tuhan di alam semesta.

Kelompok ini tidak bisa membedakan mana Islam yang universal dan abadi, shalih li kulli zaman wa makan, dapat diterapkan dimana dan kapan saja, dengan Arab sebagai ekspresi budaya dan tradisi setempat yang sifatnya temporal, kondisional, dan situasional, yang jelas-jelas bukan bagian dari ajaran Islam. akibatnya dengan mudah mereka mencampuradukkan Islam dengan Arab, menjadikan Arab sebagai prototype ideal keislaman, dan dengan gampang menuduh “sesat”, meyimpang, tidak Islami dan sejenisnya kepada kelompok yang berbeda dengan mereka.

Selain itu adalah imposible mem-photo copy Islam masa Rasulullah pada saat sekarang dan di tempat yang sama sekali berbeda dengan budaya Arab. Kebudayaan arab sendiri dan sejumlah tempat ibadah yang disucikan umat Islam di Arab, seperti Ka`bah, masjidil haram, tempat lempar jumrah, padang arafah, mina, Muzdalifah kini telah berubah drastis ketimbang masa rasulullah dulu karena perkembangan tekhnologi dan kebutuhan manusia sekarang. Apakah hal itu disebut “sesat”, “menyimpang”, bid`ah, dan keluar dari Islam karena mengubah dan berbeda dengan praktik Islam masa Rasulullah SAW?

Inilah keresahan Gus Dur yang melalui pertanyaan kritisnya yang penulis kutip pada awal tulisan. Islam serba Arab itulah paradigma “orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia”. Identitas dasarnya adalah “Islam” (yang dalam pandangan mereka adalah Arabisme). Untuk menjadi Islam, Indonesia dengan seluruh kebudayaannya harus di-arab-kan. Jika Indonesia tidak bisa diarabkan, maka mereka membuat identitas keislaman sendiri secara eksklusif di dalam sistem kebudayaan Indonesia.

Kebalikan dari cara pandang diatas adalah paradigma “orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam”. paradigma ini memandang Islam bukan Arab, melainkan nilai-nilai dan ajaran-ajaran universal kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan, kerahmatan, kesetaraan dan persaudaraan yang dilandasi wahyu ketuhanan dan tauhid. Ajaran-ajaran dan nilai-nilai ini dapat diterapkan di mana dan kapan saja. Selain ibadah, semuanya dapat dilakukan sesuai dengan budaya setempat. Islam dalam paradigma ini sangat mengapresiasi budaya lokal, tradisi lokal, dan kearifan lokal, bahkan berpendapat bahwa al-`adatu muhakkamah (adat/tradisi dapat dijadikan hukum). Menjadi muslim, tidak harus Arab. Dengan serba budaya lokal sekalipun, seseorang bisa menjadi muslim sejati. 
(M Rahman / Wakil Ketua PW Lesbumi NU SULUT)                  
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul