Header Ads

Al-Qur'an & Fenomena Nikah Beda Agama.

Dipost di FB oleh Ust. Mohammad Monaqib 

Tadi pagi, di daerah Bintaro, saya menyatukan Alion,seorang Katolik dengan Liany, seorang muslimah dalam ijab-qabul. Sudah 6 tahun mereka taarrufan (bahasanya ikhwan-akhwat PKS). Bahasa sekulernya, pacaran. Cukup lama lho!
Bahkan pernah ada pasangan semodel, maksudku, muslimah-non-muslim, 25 tahun pacaran. Putus-nyambung, ganti pacar, tidak cocok, akhirnya kembali bersama. Minta saya ijab-qabulkan.Ya tetap masing2. nikah beda agama.
Begitupun Alion-Liany di atas. Setelah beberapa kali konsultasi, mereka memutuskan & membangun komitmen menikah dalam beda agama. Adakah yang salah? Mengapa saya membela &fasilitasi?
Menurut tafsir & ideologi keislaman yang saya miliki, ada 3 kebutuhan dasar & suci makhluk Tuhan, khususnya manusia: pertama: fitrah/butuh mitra-bahasa Arabnya zuwaj-hidup. Laki2 butuh prempuan.Begitupun sebaliknya. Kedua,penyaluran fitrah seks.Berat lho yang ini. Siapa yang tahan njomblo? Ketiga, rindu generasi penerus alias anak. Lucu & bahagia banget lho punya anak itu.
Sudah pasti saya paham al-Baqarah 2:221. Al-mumtahanah 60:10. Al-maidah 5:5. Bukan terjamahannya lho!Tapi pandangan para penafsir dari benerapa kitab tafsir almu'tabar. Juga al-fiqh ala almadzahib al arbaah. Sudah pasti Yusuf Qardawi,Ibn Katsir, Buya Hamka & Ustadz Quraish.
Nah, untuk dorongan 3 fitrah suci itu, agama apapun,,khususnya Semitik: Yahudi, Nasrani & Islam melarang "nembak" langsung. Bila dilakukan disebut zina. Besar dosanya. Semua agama punya pintu alias ritual.
Islam punya ijab-qabul.Nasrani punya sakramen atau pemberkatan. Begitupun Yahudi,Hindu,Buddha, Tao, Khong Hucu, Zoroaster & kepercayaan.
Fiqh Islam mengenal syarat-rukun. Syahadatain tidak perlu dipaksakan sebagai syarat. La ikraha fi al-din. Tak boleh ada paksaan & rekayasa dalam beragama. Ingat kan kasus Asmiranda. Heboh & amburadul kan?Maha benar Allah. Mukhlisina lahu al-din. Pilihan bebas & panggilan jiwa.
Ritual nikah beda agama itu, masing2 mendapat pengesahan secara ritual masing2 tanpa melanggar prinsip utama yang lain. Yang muslim dapat ijab-qabul dimana pasangannya tidak boleh dipaksa syahadatain. Begitupun saat blessing yang muslim/mah tak boleh melakukan apapun yang terlarang dalam Islam. Adil & fair kan&
Saya tidak mau menabrak prinsip dasar Islam. Nikahkan saja tanpa syahadatain. Lagian umat sudah overload. Bina saja yang ada biar bermutu& berkualitas. Biar tidak sekadar buih di tengah samudera.
Tidak ada jaminan nikah seagama bisa langgeng-bahagia-harmonis. Perbulan angka cerai di Pengadilan Agama Depok 250 pasangan. Jaksel 4.500/tahun. Jakpus 3.500/tahun. Jaktim 2.500/tahun. Itu di PA/KUA. Jabar itu 40 ribu/tahun. Sudah pasti semua pernikagan punya dinamika. Tentu nikah beda tak terkecuali. Yang dibutuhkan komitmen pada janji nikah.
Untuk sakinah-mawaddah-warahmah suami-istri butuh prinsip2 universal. Kasih-sayang,setia, saling hormati, saling percaya, saling bantu jadi pengiman yang baik-benar. Itu saja. Tentu yang ideal nikah itu seiman-seagama.
Jadi, bila ada yang bermaksud luhur, berkomitmen jadi pasangan suami-istri dan tidak mau kumpul kebo, seks bebas, sekalipun beda agama, tidak ada jalan lain kecuali pernikahan.Dinamika sudah pasti dinikmati & dipanggul bersama. Ayo siapa takut?!
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul