Header Ads

Membincang Fiqih NUsantara, Mengawali Tahun Baru Hijriah 1437 H

Dalam Islam, terdapat nilai-nilai yang berdimensi fundomental sebagai aturan dasar bagi penganutnya dalam mengamalkan ajarannya. Nilai tersebut diistilahkan dengan sebutan fiqih. Aturan ini muncul dan berkembang seiring dengan pengamalan Islam itu sendiri. Ketika Islam diamalkan pada masa Rasulullah SAW dan Sahabat, di situ juga berkembang regulasi Islam untuk mengamalkannya. Demikian pula ketika masa tabiin, tabi’ al-tabiin, fiqih dijadikan sebuah pedoman untuk mengamalkan Islam.

Fiqih, pada masa pada masa tersebut, masih teraktualisasikan dalam alam realitas empiris, belum menjadi sebuah khazanah kajian ilmu pengetahuan. Ia masih menjadi sebuah teks ajaran Islam yang diamalkan sesuai pemahaman saat itu, serta bersifat normatif dan praktis sesuai dengan kebutuhannya.

Berangkat dari keadaan demikian, akhirnya pun fiqih bernuansa arabisme. Arabisme yang dimaksud adalah Fiqih diwujudkan dalam ruang lingkup orang Arab ketika mengimplementasikan ajaran Islam. Selain itu, pada masa seperti inilah praktik pengamalan Islam lebih menitikberatkan kepada penanaman akidah dan kesadaran kepada keberagamaan Islam, di banding kepada dimensi-dimensi praktik formalitas keagamaan termasuk di dalamnya adalah bidang fiqih. Sehingga nuansanya kelihatan dominan aspek aqidah dan ubudiyah.

Bagaimana dengan Fiqih Nusantara? Pada masa penyiar Islam awal (wali songo), masa kolonialisme, masa kebangkitan pasca kemerdekaan, masa orde baru dengan gencarnya arus modernisasi sampai masa milinium sekarang ini, Fiqih Nusantara semakin terlihat. Hampir disetiap periode, Islam di Indonesia dipraktikkan begitu dinamis dengan nuansa keindonesiaan yang begitu kental.

Sebut saja perpaduan antara tradisi masyarakat nusantara dengan ajaran Islam itu sendiri, mulai dari kejawen, Hindu, Budha dan lain sebagainya. Ini adalah identitas masyarakat Nusantara sebelum Islam sebagai agama formal masuk ke Indonesia. Pada fase ini, fiqih harus “bernegosiasi” dengan realitas kultur yang ada. Kondisi semacam ini para muballigh menyiarkan Islam dengan pendekatan kultural, agar Islam bisa dipahami dan diamalkan secara sederhana tanpa meninggalkan ajaran Islam yang asasi. Artinya pilihan fiqih yang diterapkan oleh para penyiar Islam kala itu juga fiqih-fiqih moderat yang dapat bersanding dengan budaya Nusantara.

Bagaimana kita akan mempelajari lebih jauh tentang Islam Nusantara?
Ikuti Diskusi Reguler; Fiqh Islam Nusantara bersama DR. Ahmad Rajafi.
Hari/Tanggal: Rabu/ 14 Oktober 2015
Jam : 15.00 s/d Selesai
Tempat : Kantor PWNU SULUT
Kampung Islam
Diharapkan kehadiran Sahabat2.

Hormat Kami,
Taufik Bilfagih, S. Sos. I, MSi
Ketua.

Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul