Header Ads

BENARKAH INDONESIA ADALAH ATLANTIS YANG TENGGELAM

==
BENARKAH INDONESIA ADALAH ATLANTIS YANG TENGGELAM (II) ==

Atlantis: Labirin Dongeng Tak Berujung
------------------------------------------------
       Catatan Plato mengenai Atlantis ternyata telah menginspirasi sejumlah  imitasi parodik: hanya beberapa dekade setelah Timaeus dan Critias, sejarawan Theopompus dari Chios menulis mengenai wilayah yang disebut Meropis. Deskripsi wilayah Meropis  ini ada pada Buku 8 Philippica, yang berisi dialog antara Raja Midas dan Silenus, teman dari Dionysus. Silenus mendeskripsikan Bangsa Meropis, ras manusia yang tumbuh dua kali dari ukuran tubuh biasa, dan menghuni dua kota utama di pulau Meropis (Cos?): Eusebes (Εὐσεβής, "kota Pious") dan Machimos (Μάχιμος, "kota-Pertempuran"). Silenius juga melaporkan bahwa angkatan bersenjata sebanyak sepuluh juta tentara menyebrangi samudra untuk menaklukan Hyperborea, tetapi meninggalkan rencana ini ketika mereka menyadari bahwa bangsa Hyperborea adalah bangsa paling beruntung di dunia.

         Heinz-Günther Nesselrath menyatakan bahwa cerita Silenus merupakan jiplakan dari kisah Atlantis, untuk alasan membongkar ide Plato dengan tujuan untuk mengejek. Zoticus, seorang filsuf Neoplatonis pada abad ke-3, menulis puisi berdasarkan catatan Plato mengenai Atlantis. Sejarawan abad ke-4, Ammianus Marcellinus, berdasarkan karya Timagenes (sejarawan abad ke-1 SM) yang hilang, menulis bahwa Druid dari Galia mengatakan bahwa sebagian penduduk Galia adalah imigran dari kepulauan yang jauh. Catatan Ammianus dianggap oleh sebagian orang sebagai klaim bahwa ketika Atlantis tenggelam, penduduknya mengungsi ke Eropa Barat; tetapi Ammianus mengatakan bahwa “Drasidae (Druid) menyebut kembali bahwa sebagian dari penduduk merupakan penduduk asli, tetapi lainnya juga bermigrasi dari kepulauan dan wilayah yang  melewati Rhine" (Res Gestae 15.9), tanda bahwa imigran datang ke Galia dari utara dan timur, tidak dari Samudra Atlantik. Risalah Ibrani mengenai perhitungan astronomi pada tahun 1378/79, yang merupakan parafrase karya Islam awal yang tidak diketahui, menyinggung mitologi Atlantis dalam diskusi mengenai penentuan titik nol kalkulasi garis bujur.

             Francis Bacon tahun 1627 menulis novel, The New Atlantis, mendeskripsikan komunitas utopia yang disebut Bensalem, terletak di Lautan Pasifik di pantai barat Amerika. Bacon terinspirasi tulisan Thomas Moore berjudul Utopia Island, di mana Thomas Moore sendiri terinspirasi tulisan Plato, Republic. Karakter dalam novel yang ditulis Bacon ini memberikan sejarah Atlantis yang mirip dengan catatan Plato. Tidak jelas apakah Bacon menyebut Amerika Utara atau Amerika Selatan. Berikutnya, Isaac Newton pada  tahun 1728 menulis novel berjudul  The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended (Kronologi Keruntuhan Kerajaan-kerajaan Kuno), mempelajari berbagai hubungan mitologi dengan Atlantis.

        Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, beberapa sarjana Mesoamerika, dimulai dari Charles Etienne Brasseur de Bourbourg,  termasuk Edward Herbert Thompson dan Augustus Le Plongeon, menyatakan bahwa Atlantis berhubungan dengan peradaban Maya dan Astec.

        Pada tahun 1882, Ignatius L. Donnelly mempublikasikan Atlantis: the Antediluvian World. Karyanya menarik minat banyak orang terhadap Atlantis. Donnelly mengambil catatan Plato mengenai Atlantis dengan serius dan menyatakan bahwa semua peradaban kuno yang diketahui berasal dari kebudayaan Neolitik yang tinggi. Menurut Donnelly, ada kaitan antara Atlantis dengan Aztlan. Aztlan adalah tempat tinggal bagi leluhur suku Aztec. Donnelly menyatakan bahwa timur Karibia adalah lokasi bekas Aztlan, seperti yang ditunjuk suku Aztec. Ia pun berpendapat bahwa Atlantis dulunya berada di wilayah Karibia.

           Sepanjang akhir abad ke-19, ide mengenai legenda Atlantis digabungkan dengan cerita-cerita "benua hilang" lainnya, seperti Benua Mu dan Lemuria yang hilang. Helena Blavatsky, "Nenek Pergerakan Era Baru", menulis dalam The Secret Doctrine (Doktrin Rahasia), bahwa bangsa Atlantis adalah pahlawan budaya (kontras dengan  Plato yang mendeskripsikan mereka sebagai masalah militer), dan "Akar Ras" ke-4, yang diteruskan oleh "Ras Arya". Rudolf Steiner menulis evolusi budaya Mu atau Atlantis.

           Edgar Cayce, pertama kali menyebut Atlantis tahun 1923,  dan mengemukakan pendapatnya yang senada dengan Ignatius L. Donnely, bahwa lokasi Atlantis terletak di Karibia. Ia juga menyatakan bahwa Atlantis merupakan sebuah peradaban berevolusi tinggi yang pernah ada di masa kuno. Ia juga mendukung pernyataan Plato mengenai kekuatan perang Atlantis yang memiliki kapal dan pesawat tempur yang menggunakan perangkat-perangkat perang dengan memanfaatkan energi berbentuk kristal yang misterius. Cayce juga memprediksi bahwa Atlantis yang hilang ini akan muncul ke permukaan pada 1968 atau 1969.

        Telah diklaim bahwa sebelum era Eratosthenes tahun 250 SM, penulis Yunani menyatakan bahwa lokasi “Pilar-pilar Herkules” yang disebut Plato sebagai batas menuju Atlantis,  letaknya di Selat Sisilia. Namun  tidak terdapat bukti yang cukup untuk membuktikan hal tersebut. Menurut Herodotus (circa 430 SM), ekspedisi Finisi telah berlayar mengitari Afrika atas perintah firaun Necho, berlayar ke selatan Laut Merah dan Samudera Hindia dan bagian utara di Atlantik, memasuki kembali Laut Tengah melalui Pilar Hercules. Deskripsinya di Afrika barat laut menjelaskan bahwa ia melokasikan Pilar Hercules dengan tepat di tempat pilar-pilar Hercules berada saat ini. Kepercayaan bahwa pilar Hercules yang telah diletakkan di Selat Sisilia menurut Eratosthenes, telah dikutip dalam beberapa teori Atlantis.

           Konsep Atlantis menarik perhatian teoritisi Nazi. Pada tahun 1938, Heinrich Himmler mengorganisir pencarian di Tibet untuk menemukan sisa bangsa Atlantis putih. Menurut Julius Evola (Revolt Against the Modern World, 1934), bangsa Atlantis adalah manusia super (Übermensch) Hyperborea—Nordik yang berasal dari Kutub Utara (lihat Thule). Alfred Rosenberg (The Myth of the Twentieth Century, 1930) juga berbicara mengenai kepala ras "Nordik-Atlantis" atau "Arya-Nordik". Tampaknya, dongeng Plato tentang Atlantis, telah tumbuh dan berkembang menjadi jaringan dongeng-dongeng dari abad ke abad, sampai membentuk semacam labirin yang membingungkan dan sulit dicari jalan keluarnya. Fakta tentang Atlantis selalu berujung pada misteri tak terpecahkan.

Misteri Arkeologi Bawah Laut
-----------------------------------
           Tahun 1968, sekumpulan penyelam yang menyelam ke dasar laut  di kepulauan Bimini di sekitar Samudera Atlantik di gugusan Pulau Bahama, dalam perjalanan kembali, tiba-tiba seorang penyelam  menjerit kaget karena di dasar laut, ia  menemukan sebuah jalan besar. Beberapa penyelam secara bersamaan terjun ke bawah, ternyata memang ada sebuah jalan besar membentang tersusun dari batu raksasa. Itu adalah sebuah jalan besar yang dibangun dengan menggunakan batu persegi panjang dan poligon, besar kecilnya batu dan ketebalan tidak sama, namun penyusunannya sangat rapi, konturnya cemerlang. Orang menduga   itu  merupakan jalan kerajaan Atlantis.

      Awal tahun 1970-an, sekelompok peneliti datang di sekitar kepulauan Yasuel di  Samudera Atlantik. Mereka telah mengambil inti karang dengan mengebor pada kedalaman 800 meter di dasar laut, atas ungkapan ilmiah. Ternyata,  tempat itu memang benar-benar sebuah daratan pada 12.000 tahun silam. Kesimpulan yang ditarik atas dasar teknologi ilmu pengetahuan, begitu mirip seperti yang dilukiskan Plato. Namun, apakah di situ tempat tenggelamnya kerajaan Atlantis?

         Tahun 1974, sebuah kapal peninjau laut Uni Soviet telah membuat 8 lembar foto yang jika disarikan membentuk sebuah bangunan kuno bawah laut mahakarya manusia. Apakah ini dibangun oleh orang Atlantis?

         Tahun 1979, sekumpulan ilmuwan Amerika dan Perancis dengan piranti instrumen yang canggih menemukan piramida di dasar laut di lokasi “segitiga maut” laut Bermuda. Panjang piramida kurang lebih 300 meter, tinggi kurang lebih 200 meter, puncak piramida dengan permukaan samudera hanya berjarak 100 meter. Ukurannya lebih besar dibanding piramida Mesir. Bagian bawah piramida terdapat dua lubang raksasa, air laut dengan kecepatan yang menakjubkan mengalir di dasar lubang. Piramida besar bawah laut ini, apakah dibangun oleh orang-orang Atlantis? Pasukan kerajaan Atlan pernah menaklukkan Mesir, apakah orang Atlantis membawa peradaban piramida ke Mesir? Benua Amerika juga terdapat piramida, apakah berasal dari Mesir atau berasal dari kerajaan Atlantis?

         Tahun 1985, dua kelasi Norwegia menemukan sebuah kota kuno di bawah areal laut di “segitiga maut” luat Bermuda. Pada foto yang dibuat oleh mereka berdua, ada dataran, jalan besar vertikal dan horizontal serta lorong, rumah beratap kubah, gelanggang aduan (binatang), kuil, bantaran sungai dll. Mereka berdua mengatakan: “Mutlak percaya, yang kami temukan adalah Benua Atlantik! Sama persis seperti yang dilukiskan Plato!” Benarkah klaim itu? Yang disayangkan, piramida dasar laut segitiga Bermuda, berhasil diselidiki dari atas permukaan laut dengan menggunakan instrumen canggih, hingga kini belum ada seorang pun ilmuwan dapat memastikan apakah itu sebuah bangunan yang benar-benar dibangun oleh tenaga manusia, sebab mungkin saja sebuah puncak gunung bawah air yang berbentuk limas.

          Foto peninggalan bangunan kuno di dasar laut yang diambil tim ekspedisi Rusia, juga tidak dapat membuktikan di sana adalah bekas tempat kerajaan Atlantis. Setelah itu ada tim ekspedisi menyelam ke dasar samudera jalan batu di dasar lautan Atlantik Pulau Bimini, mengambil sampel “jalan batu” dan dilakukan penelitian laboratorium serta dianalisa. Hasilnya menunjukkan, bahwa jalan batu ini umurnya belum mencapai 10.000 tahun. Jika jalan ini dibuat oleh bangsa kerajaan Atlantis, setidak-tidaknya tidak kurang dari 10.000 tahun.

               Mengenai foto yang ditunjukkan kedua kelasi Norwegia itu, hingga kini pun tidak dapat membuktikan apa-apa. Satu-satunya kesimpulan tepat yang dapat diperoleh adalah benar ada sebuah daratan yang karam di dasar laut Atlantik. Jika memang benar di atas laut Atlantik pernah ada kerajaan Atlantis, dan kerajaan Atlantis memang benar tenggelam di dasar laut Atlantik, maka di dasar laut Atlantik pasti dapat ditemukan bekas-bekasnya. Hingga saat ini, kerajaan Atlantis tetap merupakan sebuah misteri sepanjang masa.

Bersambung.....
Oleh : K.Ng. H.Agus Sunyoto
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul