Header Ads

Menulis-Belajar: Budaya (Menulis) Budaya

                “Menulis adalah bekerja untuk keabadian...”
                (Pramoedya. A. Toer)

       Seiring berjalannya waktu, kata – kata bisa saja lupa dalam ingatan manusia yang khilaf, namun tidak demikian dengan tulisan. Menulis adalah salah satu cara untuk merawat ingatan serta buah pikiran seseorang, sekalipun ia telah lama tiada, raga telah hilang binasa. Karyanya akan terus saja hidup lewat orang per-orang yang membacanya, mengartikan narasi – narasinya, dan lalu bertindak atasnya. Mungkin jika benar, seperti inilah maksud Pram dalam kalimat pembuka di atas ; “Menulis adalah bekerja untuk keabadian..”

     Pada masa awal pergerakan di Indonesia, menulis adalah senjata. Menulis semacam mesin agitator-propagandis pembakar semangat perjuangan bangsa untuk keluar dari keterjajahan dan hidup menjadi bangsa yang mahardika (bebas). artinya, menulis tidak hanya berupa kerja keabadian, jauh pada itu, ia merupakan kerja – kerja pengabdian. Pengabdian kepada nasib sebuah bangsa, indonesia adalah saksinya.

     Dewasa ini, menulis sebagai sebuah budaya mulai devisit dan kehilangan ‘nilai’ (moral-sosial). Akhir – akhir ini, menulis mulai diartikan sebagai ‘profesi’ dengan buah pikiran sebagai komoditi. Walhasil, menulis menjadi semacam kegiatan jual – beli ; ada uang ada barang, ada uang ada ‘Tulisan’. Selain itu, oleh karna arus teknologi dan informasi yang begitu kuat, nuansa menulis mulai tereduksi dan mengalami penyempitan peran. Menulis hanya sebatas kebutuhan eksistensi diri dan berburu popularitas semu dengan ruang media sosial sebagai panggung penampilan di dunia maya. dulu, Aku Berpikir Maka Aku Ada, sekarang,Aku Menulis ‘Status’ maka Aku Ada!!!.  

    Tak bisa dipungkiri pula modernitas perlahan namun pasti telah menghantam sendi – sendi kehidupan, meninabobokan dan memberangus pelan-pelan unsur kreatifitas orang – orang. diganti dengan nalar ‘efektifitas’ dan ‘efisiensi’ ; semua serba gampang, tidak lagi berpikir ‘keras’. Ini diungkapkan bukan dalam konsepsi penyakit anti asing yang akut (Xenophobia), tetapi paling tidak ini menjadi pengingat minimal kepada penulis sendiri yang lagi sedang belajar – berkembang ke depan.   

     Kebiasaan menulis sebagai bagian dari belajar harus segera dimulai. Dan budaya menulis budaya antara lain ialah kerja menghidupkan tradisi menulis, bukan ‘mencari hidup’ dari menulis dalam tafsiran nilai profit semata - mata. Budaya Menulis budaya, dapat pula diartikan sebagai cara membiasakan menulis setiap cipta, karsa dan rasa manusia baik yang bermukim pada masa lalu, hari ini, dan akan datang.   

Biarkan Budaya Menulis Dirinya.

      Nusa Jawa Silang Budaya I ; Batas – Batas Pembaratan, Adalah buku yang ditulis oleh Lombard menggunakan latar konteks sewaktu pemerintahan Hindia-Belanda masih bercokol di Indonesia dan dengan pulau jawa sebagai sentral lintasan silang budaya. dalam buku itu, Lombard menggambarkan bagaimana barat datang membawa macam ragam budaya berupa kebiasaannya, gaya hidup (life-Style) hingga seni arsitektur bangunan ala barat – belanda. Selain itu, dijelaskan pula bagaimana barat memakai peran bahasa daerah untuk menafsir kitab suci (Injil) guna kepentingan penyebaran agama (zending). oleh Lombard itu menjadi awal dari cikal bakal ‘orientalisme’ di Indonesia. “dahulu orang mencari yang asing, namun perlahan sekarang orang mulai mencari yang asli”. yang asli mulai digali kembali, dipelajari, dan pada batas – batas tertentu akhirnya ‘dikooptasi’. lewat bukunya Lombard kembali bicara.   

       Kata – kata Lombard dalam bukunya di atas ibarat martil yang memukul lonceng keras – keras hingga membangunkan setiap hidup yang mati suri dari sikap waspada, bahwa sudah sejak lama orang telah sadar  yang asli itu begitu penting dan penuh arti, bukan seperti sekarang ini, dimana keaslian seringkali menjadi sasaran justifikasi kolot dengan pelabelan kuno - ketinggalan jaman yang seolah lekat. Tanpa sadar, disaat kita semua sibuk mengejar mencari yang asing, saat bersamaan kita telah meninggal-lupakan yang aslikeaslian itu antara lain, Budaya sendiri.

      Keaslian seperti budaya yang ada bukan hanya ditulis kembali, lebih daripada itu, bagaimana menghadirkan budaya dalam bentuk yang benar – benar apa adanya, tidak dikurangi atau ditambah – tambahkan. tidak dimodifikasi dan dibumbui dengan kepentingan – kepentingan yang merusak keasliannya. Karena sepakat atau tidak, dalam dunia sekarang ini, batas beda antara yang asli dan asing semakin sempit, terkadangasing malah mendominasi yang asli dan budaya ditampilkan tidak lagi murni.

     Bagi penulis, sejatinya biarkan budaya menulis dirinya sendiri, menulis dari tradisi - tradisinya, bicara dari bahasa – bahasanya, menari dari  tarian - tariannya, dan beradab dari adat – istiadatnya. Biarkan dia menulis dari lahir dan berkembangnya disini, menulis dirinya dari konteks ke-disini-an bukan dari mana – mana, bukan dari barat hingga terbaratkan, bukan pula dari arab hingga menjadi arab. Jika bagi Pram menulis adalah bagian dari kerja untuk keabadian maka menulis budaya adalah cara kita mengabdi, merawat ingatan akan kesadaran identitas dan mengabadikan budaya sendiri.

so, menulislah…

Salam!        

Cat :
*Orientalisme adalah istilah yang merujuk pada peniruan atau penggambaran unsur – unsur budaya timur di barat oleh para penulis, desainer, dan seniman.
*Tulisan ini ditulis dengan asumsi bahwa para pembaca telah memahami lebih dulu beda budaya dan kebudayaan dalam makna umum.

Sekelumit catatan singkat dari orang – orang biasa,
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul