Header Ads

NU Dan Kebudayaan Pesantren

NU itu organisasi lslam berlatar tradisi dan etnik yang holistik, yang mengakomodasi aneka ragam disiplin ilmu agama dengan aneka macam pengaruh universalnya. Meski fiqih sangat dominan, namun ilmu tashawwuf, manthiq, kalam, falak, filsafat, bahasa, politik, tarbiyyah, ekonomi, pertanian, kesenian, kebudayaan, dan lain-lain tetap diakomodasi. Belum ada organisasi keagamaan yg seluas dan sebesar NU dlm mengakomodasi aspirasi umat beragama.
Kenapa NU tidak gampang menuduh sesat dan mengkafirkan orang? Itu karena pertimbangan aspek-aspek lain selain fiqih, seperti kalam, tashawwuf, politik, budaya dan lain-lain.
Kenapa NU yang lahir dan tumbuh dari dan di pesantren-pesantren yang terletak di pedesaan, yang dianggap primitif, lokal, kuper dan ndeso bisa berkarakter sangat toleran terhadap keragaman dan perbedaan? Karena ilmu-ilmu yang berkembang di pesantren adalah ilmu-ilmu yg dikembangkan oleh ulama dari berbagai bangsa dan negara, yg dalam memaknai sesuatu saling berbeda tetapi disatukan oleh semangat yg sama dalam ijtihad. Silahkan dibaca kitab Abi Najah yg disusun Syekh Khalid Ashari; Akhlaq wal Wajibah karya Al-Maghriby; Bidayatul Mujtahid karya lbnu Rusyd; Shahih Bukhari oleh Al-Bukhari; Durusun Nahwiyah oleh Hafni Bek; Alfiyah oleh lbnu Malik; ljma'ud Dziroyah oleh al-lmam Suyuthi; Jauharo Tauhid oleh lbrahim al-Baqani, dll kitab karya An-Nawawi, As-Samarqandy, Al-Bashrawi, as-Sukandary dan sebagainya.
Jadi dilihat dari aspek keilmuan, pesantren sudah global karena asal keilmuannya dari bermacam- macam bangsa dan negara. Ini tentu sangat berbeda misalnya dngan golongan Wahabi yang sangat fanatik dengan ulama Nejd seperti lbnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Bin Baz dan lain-lain ulama badui asal Nejd, yg tak segan mengkafirkan siapa pun yg beda faham.
Nah, dalam hal sejarah, meski memiliki sumber data sangat melimpah, faktanya pesantren sangat lemah akibat dominasi kolonial melalui sekolah-sekolah. Itu sebab, Lesbumi berkepentingan untuk ikut berjuang keras demi membangun paradigma, dogma, doktrin, dan mitos baru keilmuan sejarah dengan epistemologi yg bersifat emic, yang dapat diterima oleh dunia ilmu pengetahuan. 
Insya Allah, dengan demikian sisa-sisa pandangan jahiliyah warisan kolonial akan dapat kita kalahkan. Sudah saatnya kita menghunus pisau ilmu untuk mengupas kulit palsu yg membusukkan sejarah aspal ciptaan kolonial, yang diperdagangkan musuh-musuh lslam untuk meneruskan kolonialisme di Nusantara.

(Narasumber: KH. Agus Sunyoto, Ketua Lesbumi PBNU)
Sumberhttps://www.facebook.com/LESBUMI.official/
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul