Header Ads

"Situs Biting, Jejak Kerajaan Islam Lamajang"


Situs Kerajaan Lamajang di Dusun Biting, Dsa Kutorenon, Kec.Sukadana, Kab.Lumajang sudah lama diketahui masyarakat sekitar. Namun sebagai obyek penelitian ilmiah, Situs Biting baru dibicarakan oleh J.Magemen pada tahun 1861 yang itu artinya, bukan J.Magemen penemu situs Biting, melainkan J.Magemen adalah orang yang meneliti pertama situs Biting.
Pada tahun 1920 A. Muhlenfeld warga Belanda mulai melakukan penggalian dan pendokumentasian Situs Biting. Tidak ada yang mengetahui, kenapa hasil penelitian A. Muhlenfeld tidak dipublikasi secara besar-besaran seperti hasil penemuan dalam penelitian situs-situs lain. Sejak A.Muhlenfeld tidak ada lagi peneliti Belanda yang meneliti situs Biting, sampai pada tahun 1982 Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang melakukan proses rekronstruksi dan penggalian kembali. Proses itu sendiri dilakukan berdasarkan hasil laporan dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Kegiatan yang didukung penuh oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dilakukan lebih serius. Hal ini dibuktikan dengan adanya 11 tahap proses penelitian dan penggalian yang dilakukan sejak 1982 hingga 1991. Dari hasil penelitian awal itu berhasil dibuktikan adanya sisa-sisa dinding benteng serta struktur bangunan dari bata dan temuan fragmen wadah gerabah serta fragmen keramik yang berasal dari abad 14-20 masehi.
Keberadaan Situs Biting yang secara arkeologis sudah menyuguhkan banyak data artefak, telah diakui meski tingkat validitas referensinya belum tinggi. Yang pasti, sumber dari prasasti Mula-Malurung yang menyebutkan bahwa salah seorang puteri Nararya Seminingrat gelar abhiseka Sri Prabhu Wisynuwarddhana yang bernama Nararya Koirana yang dirajakan di Lamajang, menunjuk pada kebenaran dengan tergalinya situs Biting yang merupakan bekas reruntuhan sebuah kerajaan besar. Itu sebabnya Situs Biting disebutkan sebagai sebuah situs arkeologis peninggalan Kerajaan Lamajang yang tersebar di atas kawasan seluas 135 hektare. Bangunan yang paling mengesankan adalah bekas tembok benteng dengan dengan panjang 10 kilometer, lebar 6 meter dan tinggi 10 meter.
Kawasan Situs Biting ditafsirkan sebagai sebuah kawasan ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin Prabu Arya Wiraraja yang dikelilingi oleh benteng pertahanan dengan tebal 6 meter, tinggi 10 meter dan panjang 10 km. Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 1982-1991 menunjuk bahwa kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektar yang mencakup 6 blok/area yang meliputi blok Keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha.
Dalam naskah Negara Kretagama, kawasan ini disebut “Arnon” dari kata kata Kawi Renu-an (pasir, debu). Pada perkembangan abad ke-17 disebut Renon dan seterusnya jadi desa Kutorenon. Lafal Kutorenon yang disingkat Ketonon, dalam cerita rakyat identik dengan tempat yang terbakar. Nama Biting sendiri merujuk pada kosa kata Jawa Kuno bernama “Benteng” karena daerah ini memang dikelilingi oleh benteng yang kokoh.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul