Header Ads

Teknologi Nusantara Juga Unggul



Selain ilmu-ilmu agama, matematika dan mengembangkan sistem kalender Jawa, ilmu astronomi dan bahkan nujum juga berkembang di jaman Walisongo, misalnya saja primbon. Primbon tidak dikenal sebelumnya di jaman Majapahit. Hitungan berdasarkan primbon ini berkembang dan dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa bahkan hingga saat ini.


Selain itu dalam bidang teknologi, teknik metalurgi (pengecoran logam) juga berkembang sangat pesat. Jaman majapahit keris yang digunakan cirinya berbentuk lurus, tapi di era walisongo mulai dikenal keris dengan luk (lekuk). Jadi keris dengan luk ini tergolong keris jenis baru.

Teknologi metalurgi zaman Majapahit sudah mampu melakukan pengecoram meriam. Saat ini terdapat meriam buatan Majapahit tahun 1380 M yang masih tersimpan di Metropolitan Museum Newyork, USA. Kita malah tidak memilikinya. 

Penggunaan meriam-meriam tersebut di jaman Majapahit adalah lebih diperuntukkan bagi upacara-upacara seremonial kerajaan seperti upacara penyambutan, misalnya menyambut raja datang, perkawinan keluarga raja dan aebagainya (bisa dibaca di Kidung Wijaya Krama).

Pada jaman walisongo meriam dikembangkan dengan ukuran lebih besar dan diperdagangkan sebagai kelengkapan militer. Pusat pengecoran meriam-meriam tersebut berada di Jepara dan sebagian lagi di Palembang. Yang mengembangkan meriam jenis ini adalah adik dari Raden Patah yang bernama Raden Husain (Kusen) Adipati Terung.

Kisah tentang kemajuan teknologi perang ini tampak dalam cerita kedatangan Portugis untuk pertama kalinya di Nusantara, dimana meriam-meriam sudah dikenal diproduksi di Nusantara: 

Ketika Malaka diserang pertama kali pada bulan Juli 1511 oleh Portugis yg dipimpin Alfonso de Albuquerque (1453-1515) yang hendak membebaskan anak buahnya. Anak buahnya tersebut menulis sebuah surat dan memperingatkan de albuquerque agar tidak mendekati benteng Malaka dan melakukan penyerangan, karena benteng Malaka sudah dilengkapi dengan ribuan meriam ukuran besar yang didatangkan dari Jawa. Saat itu benteng Malaka diperkuat sekitar 20 ribu tentara bayaran dari Jawa. De albuquerque tidak yakin dengan kesaksian tersebut dan memutuskan mendekati Malaka untuk melakukan penyerangan. Walhasil ratusan meriam Malaka pun menyalak dan banyak kapal dari pasukan de albuquerque akhirnya rusak dan sisanya memilih mundur. 

Dalam catatan Portugis, pada akhirnya Portugis berhasil menembus benteng Malaka pada serangan kedua (23 agustus 1511) dengan cara mengirim mata-mata dan menyogok 500 orang prajurit bayaran dari Jawa dengan bayaran lebih tinggi untuk perpihak pada Portugis, dengan hanya satu tugas: untuk tidak menyerang kapal Portugis saat mendekat. 

Malaka pun kemudian berhasil dikuasai oleh tentara Portugis. Mereka berhasil merampas 2000 meriam ukuran besar dan 3000 meriam ukuran kecil, total ada 5000 buah meriam. Catatan ini dibuat oleh Portugis. Indonesia malah tak punya catatan mengenai hal ini.

Setelah dikuasainya Malaka oleh Portugis, Adipati Unus dari Demak pun berusaha menyerang Malaka dengan menggunakan meriam, tapi mengalami kegagalan. Lalu disusul oleh berbagai kerajaan seperti Aceh, Siak, Kampar dan terakhir koalisi militer Ratu Kalinyamat beserta kerajaan-kerajaan di Palembang untuk secara periodik menyerang Malaka. Maka Portugis pun tidak pernah berani menginjakkan kaki baik di Sumatra maupun Jawa karena memperhitungkan kekuatan dan teknologi kerajaan-kerajaan nusantara ketika itu.

Pada tahun 1522 armada Portugis yg dipimpin Fransisco de Sa pernah berusaha mendarat di Sunda Kelapa (Jakarta), namun mampu dihadang oleh Fatahillah (oleh lidah portugis berbunyi Falatehan). Armadanya Portugis itu mampu dihancurkan dan sisanya kembali. Kemudian Portugis berencana akan meakukan pendaratan/serangan kedua, namun kelasi-kelasi armada mereka sudah kehilangan kepercayaan diri serta merasa ketakutan, sehingga justru berbalik memberontak. Rencana pendaratan kedua itu pun gagal total.

* Keterangan: 
Ini adalah gambar meriam buatan Jepara dengan simbol "kuku Pancanaka" yang merupakan kekuatan Bima yang luar biasa, dan juga merupakan lambang kuno Lingga Yoni yg tidak terkalahkan. Meriam era Majapahit berukuran lebih kecil.

[ Sumber: KH. Agus Sunyoto ]
https://www.facebook.com/LESBUMI.official
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul