Header Ads

Saptawikrama Lesbumi Jadi Pembahasan Mukerwil PWNU Sulut

Dalam sidang komisi pembahasan tentang program kerja pada Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) PWNU Sulut ke VIII, Lesbumi NU Sulut melalui ketuanya, Taufik Bilfagih, memberikan opsi untuk menambahkan poin penting dalam mengelola program kerja yang berkaitan dengan strategi kebudayaan. Menurutnya, dari semua agenda gerakan yang tersusun di draft sama sekalli tidak membahas orientasi gerakan NU Sulut yang berbasis pada seni dan budaya. Padahal sebagai organisasi keagamaan yang menjaga tradisi, NU harus memiliki visi gerakan kebudayaan untuk menyongsong masa depan Nusantara, khususnya di wilayah Sulawei Utara.

“Dalam persidangan komisi nanti, yang dibahas pada komisi B hanya tentang Keagamaan, Pendidikan, Kesehatan, Sosial dan Kependudukan serta Ekonomi dan Pertanian. Sehingga itu, kami dari Lesbumi mengusulkan agar ada poin khusus yang harus dibahas terkait agenda strategi kebudayaan” Ungkap Taufik.

Usulan ini ternyata mendapat respon positif dari pimpinan maupun peserta musyawarah. Ulyas Taha, selaku ketua sidang akhirnya mengetuk palu terkait disetujuinya penambahan poin tersebut. “Kita sepakati ya. Namun kami berharap, Lesbumi NU Sulut, berkenan dapat merumuskan yang tersusun dalam draft tentang strategi kebudayaan itu” ucap Ulyas yang juga sebagai Kepala Kantor Kemenag Bitung.

Ditanya lebih jauh tentang rumusan tentang program kebudayaan, Taufik menyampaikan bahwa point-point tersebut telah termaktub pada konsep Saptawikrama yang dilahirkan oleh PBNU Lesbumi. “Kita tidak repot lagi untuk menyusun program kerja berbasis kebudayaan. Sebelumnya Lesbumi PBNU telah menyusun 7 strategi kebudayaan atau yang diistilahkan Saptawikrama. Nah, kita hanya akan memasukkan konsep itu sebagai acuan gerakan NU di Sulawesi Utara. Jadi, ini bukan hanya menjadi agenda Lesbumi melainkan semua komponen di NU baik ditingkat pusat hingga daerah.” Taufik menjelaskan

“Kita juga berharap, di daerah lain, khususnya ditingkat wilayah, turut memasukkan strategi kebudayaan dalam musyawarah kerja wilayah mereka. Bahkan, hemat saya, Saptawikrama pun harus dibahas dalam forum Muktamar NU” Tutup Taufik.

Saptawikrama merupakan konsep gerakan kebudayaan yang tujuan utamanya adalah untuk menjaga ummat, khususnya jamiyah nahdliyah dari lajunya gempuran globalisasi. Berikut adalah ketujuh poin tersebut;

  1. Menghimpun dan mengosolidasi gerakan yang berbasis adat istiadat, tradisi dan budaya Nusantara.
  2. Mengembangkan model pendidikan sufistik (tarbiyah wa ta’lim) yang berkaitan erat dengan realitas di tiap satuan pendidikan, terutama yang dikelola lembaga pendidikan formal (ma’arif) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).
  3. Membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya Islam Nusantara secara ontologis dan epistemologis keilmuan.
  4. Menggalang kekuatan bersama sebagai anak bangsa yang bercirikan Bhinneka Tunggal Ika untuk merajut kembali peradaban Maritim Nusantara.
  5. Menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhnineka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.
  6. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan gerakan Islam Nusantara.
  7. Mengutamakan prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global. (adm)

Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul