Header Ads

NGA-LAH, NGA-LIH dan NGA-MUK

Dalam sejarah Jawa khususnya pada era Majapahit tidak dikenal terminologi "kalah". Pada masa itu falsafah yang diyakini sangat berkarakter agresif, yakni "joyo" vs "praloyo/phalastro" yang berarti "Menang atau mati/musnah". Tidak heran jika kemudian kerajaan ini mampu mengekspansi sampai ke wilayah-wilayah yang sangat jauh. Demikian juga sebaliknya, berbagai konflik perebutan kekuasaan pun kemudian mampu mencabik-cabik kerajaan ini dengan cepat sebelum akhirnya benar-benar runtuh "sirna ilang kertaning bhumi" dan mulai digantikan oleh masa kerajaan Islam Demak.
Istilah "Ngalah" justru baru dikenalkan oleh gerakan spiritual budaya dalam dakwah Walisongo. Kata "Ngalah" bukanlah berasal dari akar kata "Kalah" melainkan "nga-Allah" atau menuju Allah. Jika "Ngalas" berarti menuju alas (hutan), "Ngawang" menuju awang2 (angkasa) maka "Ngalah" berarti menuju Allah (berserah diri kepada Allah). Para Auliya mengajarkan akhlaqul karimah dan ajaran-ajaran tauhid yang dengan sangat mudah melekat pada kehidupan masyarakat awam sehari-hari, seperti sifat sabar dan tawakkal dalam ajaran "Ngalah" tersebut.
Falsafah ini yg selanjutnya menjadi "trilogi aksi" dalam budaya masyarakat Jawa dan umumnya bangsa Nusantara: "Ngalah-Ngalih-Ngamuk".
Pertama-tama yang dilakukan adalah mengutamakan sikap mengalah (ngalah). Kalau diagresi maka lebih memilih menghindari benturan (ngalih). Tapi kalau terus menerus ditekan dan ditindas maka akan dapat memicu amuk (ngamuk). Namun demikian, dalam situasi "Ngamuk" ini yang perlu diwaspadai adalah efek sampingnya: "Ngawur". :)
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul