Header Ads

Post Hegemony XIX: Ulama Tak Bertuah, Umat Islam Mayoritas Jadi Lemah Tak Berdaya

Dalam Kajian Ahad Pagi di Pesantren Sufi bertema “Resolusi Jihad”, Asrory Khudi yang mewakili santri mahasiswa mempertanyakan kebijakan Guru Sufi yang melarang para santri untuk hadir dalam aksi “tolak Ahok”, “hukum Ahok”, “seret penghina al-Qur’an ke pengadilan” yang digelar di berbagai masjid Jami’ di berbagai kota besar. Atas dasar alasan apa Guru Sufi melarang aksi perlawanan dan penghujatan terhadap calon gubernur beragama Kristen itu? Apakah pimpinan pesantren sudah berpikiran liberal? Ataukah Guru Sufi sudah menerima upeti?

Tidak menjawab pertanyaan Asrory Khudi, Guru Sufi malah mengutip sebuah hadits prediktif yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda mengenai bakal datangnya jaman di mana umat Islam dijadikan rebutan oleh umat lain seperti makanan diperebutkan. Sewaktu sahabat-sahabat bertanya, apakah saat itu jumlah umat Islam kecil? Rasulullah Saw menjawab,”Justru saat itu jumlah umat Islam sangat banyak, tetapi seperti buih di laut yang dijadikan permainan gelombang.” Sahabat-sahabat yang penasaran bertanya,”Kenapa bisa seperti itu, wahai Rasulullah Saw?”

“Mereka terjangkiti penyakit jiwa al-Wahan,” jawab Rasulullah Saw.

“Apakah yang dimaksud al-Wahan itu, ya Rasulullah Saw?” tanya sahabat belum faham.

“Penyakit cinta dunia dan takut mati,” sahut Rasulullah Saw tegas.

Para santri termangu-mangu berusaha memahami. Beberapa jenak kemudian, Asrory Khudi bertanya,”Mohon maaf, Mbah Kyai, apakah hubungan korelasional antara sabda Rasulullah Saw dengan larangan Mbah Kyai untuk demo melawan Ahok?”

“Sekarang ini, adalah penggenapan tanda-tanda jaman yang sudah diramalkan Rasulullah Saw,” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Maksud penggenapan tanda-tanda jaman yang bagaimana, Mbah Kyai?”

“Jaman ketika manusia dijangkiti penyakit jiwa al-Wahan sebagaimana diramalkan Rasulullah Saw, saat ini sedang terjadi, o anak-anak cerdas lagi cerdik,” kata Guru Sufi sambil ketawa.

“Mohon pencerahan, Mbah Kyai, kami belum faham sebenar-benar faham,” sahut Asrory Khudi.

“Tidakkah engkau menyaksikan dengan terang, bagaimana umat Islam yang mayoritas di negeri ini dijadikan rebutan oleh orang-orang bukan muslim seperti makanan diperebutkan?” kata Guru Sufi dengan suara ditekan tinggi.

“Benar Mbah Kyai, suara umat Islam yang mayoritas di Indonesia, termasuk dalam pilgub di ibukota Jakarta, memang sedang diperebutkan seperti makanan dijadikan rebutan. Tapi apa hubungannya dengan kelemahan umat Islam? Bukankah dengan keberhasilan mengerahkan massa puluhan ribu itu menunjukkan bahwa umat Islam kuat?”

Guru Sufi ketawa. Sebentar kemudian ia berkata,”Ketahuilah, o anak-anak cerdas berkualitas, bahwa sejak jaman Rasulullah Saw hidup yang dilanjut para sahabat, tabi’it, tabi’in, ulama salafus sholeh hingga jaman akhir ini, belum pernah ada ulama yang menyampaikan aspirasinya dengan didukung massa berjumlah puluhan ribu. Ibarat “idu geni”, ludah api, setiap ucapan ulama yang benar selalu diliputi “tuah”, wibawa, charisma yang menggetarkan. Qul al-haqqq walau kaana murron! Sampaikan Kebenaran sekali pun pahit. Ulama selalu menyampaikan kebenaran seorang diri. Sebab ulama, yang adalah jama’ dari alim, adalah pengejawantahan dari Dia – Al-‘Aliim. Begitulah, saat Mbah Kyai Hasyim Asy’ari memfatwakan bahwa tindakan melakukian seikerei – membungkuk ruku’ ke arah utara untuk menghormati Tenno Heika adalah haram karena sama dengan melakukan kemusyrikan – mengguncangkan seluruh negeri Indonesia yang diduduki Jepang. Saat Mbah Kyai Hasyim Asy’ari memfatwakan fardu bagi jihad membela tanah air, negeri ini pun gempar. Fatwa beliau menjadi Resolusi Jihad yang menjadi pemicu pecahnya Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Itulah, Mbah Kyai Hasyim Asy’ari disebut sebagai ulama yang benar-benar ulama yang setiap ujar dan ucapannya mengandung “tuah” yang menggetar hati siapa saja yang mendengarnya.”

“Ooo begitu ya Mbah Kyai,” sahut Asrory Khudi diikuti santri mahasiswa yang manggut-manggut, “Berarti, ulama yang menyampaikan fatwa dengan didukung puluhan ribu massa itu sejatinya ulama yang sudah tidak memiliki “tuah” dalam ujar dan ucapannya. Hmmm, faham kami, Mbah Kyai.”

“Itulah yang aku katakan, sekarang ini ramalan Rasulullah Saw menjadi kenyataan. Umat Islam mayoritas tidak berdaya menghadapi satu orang bukan muslim. Bagaimana mungkin, di negeri yang mayoritas dihuni umat Islam, sebuah pengerahan massa besar-besaran dilakukan hanya untuk menentang satu orang bukan muslim. Ini gila. Ini yang disebut Friedrich Nietzsche dengan istilah eine umwertung aller werte: semua nilai jungkir balik!” kata Guru Sufi dengan suara rendah.

“Iya Mbah Kyai, ngeri saya menyadari itu,” sahut Asrory Khudi lemas.

“Ulama tidak bertuah,” tukas Husni Mubarok.

“Macan kertas!”





Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul