Header Ads

Dari Manado, 1000 Lilin Untuk Intan; Deklarasi dan Doa Lintas Agama


LESBUMI. Tendensi politik, sentimen agama, bahkan klaim kebenaran akhir-akhir ini kembali mengemuka. Dengan keadaan ini, beragam peristiwa yang mengancam kebhinekaan di tanah air terjadi begitu deras. Media diramaikan dengan informasi konflik perbedaan disana sini. Mulai dari ibu kota, hingga ke daerah-daerah. Ironisnya, kondisi demikian telah memakan korban nyawa. 

Problem Ahok dan sebagian Muslim di Jakarta benar-benar membuat rakyat se Indonesia bahkan dunia terkonsentrasi ke sana. Sedang hangat-hangatnya masalah ini, di Manado sekelompok orang (baca Minahasa-Kristen) turun ke jalan untuk mengkritik pembangunan masjid yang terdapat  di pusat kota. Kendati belakangan dikabarkan bahwa aksi tersebut bukan bertujuan pada pembongkaran masjid, namun santer terdengar dimana-mana bahwa demonstrasi itu bagian dari tanggapan kelompok mayoritas Manado atas intimidasi yang dilakukan kepada Ahok oleh mayoritas muslim ibu kota.

Terakhir, peristiwa menyayat hati, bom molotov meledak di salah satu gereja Kota Samarinda. Parahnya, sang pelaku adalah seorang muslim yang menggunakan pakaian berlafaskan kata jihad. Peristiwa ini menelan korban meninggal. Seorang bocah bernama Intan yang sedang melakukan ibadah bersama keluarga dan jemaat gereja. Alih-alih menuju rumah tuhan, Intan justru dipanggilNya untuk menetap dan tak kembali ke rumah orang tuanya. Kawan Intan yang lain, tengah berjuang masa-masa kritis karena luka parah yang diderita akibat bom.

Berangkat dari ragam peristiwa itulah, beberapa ormas kepemudaan lintas iman di Manado menggelar Aksi Refleksi  dengan tema “Deklarasi Kebangsaan Doa Bersama Lintas Agama dan 1000 Lilin Untuk Samarinda” pada Jum’at (18/11). Kegiatan yang diprakarsai oleh Pemuda GMIM, GP. Ansor Manado, Komunitas INGAGE Manado, GMKI, PMII, Gusdurian dan Lesbumi NU Sulut ini menjadi penanda bahwa Sulawesi Utara menjadi gerbong Indonesia Timur untuk merawat kebhinekaan dengan baik. 

Dalam kesempatan tersebut, semua elemen memberikan orasi pernyataan sikap serta penampilan seni musik. Rusli Umar, Ketua GP. Ansor Manado, dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi pengeboman gereja itu adalah tindakan teroris, bukan jihadis. “Teroris itu bukan Islam. Kami mengutuk keras perbuatan tersebut. Kami yakin dan percaya, Intan sudah berada di surga dan kami yakin teroris yang melakukan pemboman akan ke neraka” tegasnya. 


Sejak awal, Ansor adalah gerakan pemuda NU yang konsisten dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Di Manado sendiri, Ansor selalu membuat program menjaga gereja disaat perayaan natal. Bersama Bansernya, Ansor senantiasa terus mengawal perdamaian, baik dari tingkat pusat hingga daerah. Bahkan, dalam catatan sejarahnya, seorang pasukan Banser meninggal dunia karena menyelamatkan jemaat gereja dari letusan bom.

Selain Rusli, anak-anak muda NU lainnya juga ikut memberikan orasi pada malam deklarasi tersebut. Mardiansyah Usman, Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) NU Sulut, menyampaikan pernyataan sikapnya mewakili Lesbumi. Dalam orasinya, Mardiansyah menganggap bahwa peristiwa bom molotov di salah satu gereja Samarinda adalah wujud dari kecelakaan sejarah.

“Lesbumi adalah organisasi dibawah NU yang sejak dulu dan sampai kapanpun konsisten dan komitmen untuk menjaga tradisi kebhinekaan. Budaya gotong royong, tradisi saling menghormati bahkan semangat solidaritas antar golongan telah menjadi darah daging kita untuk berkehidupan di bumi persada ini” imbuhnya.

“Peristiwa meninggalnya Intan karena bom digereja Samarinda itu, adalah kecelakaan sejarah. Maka perkenankan Lesbumi mengajak kepada kita semua, pemuda lintas agama, lintas golongan, lintas budaya untuk menjadi pelaku sejarah baru yang dimulai pada malam hari ini. Kita mengutuk tindakan radikal atas nama agama. Kita akan menjadi mercusuar serta magnet perdamaian yang dimulai dari Sulawesi Utara untuk ditularkan ke daerah lain, Nusantara” Mardiansyah melanjutkan.


Perbedaan akan selalu menciptakan konflik. Ia akan terus ada dan selalu menjadi ancaman. Maka untuk menyelamatkannya, perbedaan harus dikelola dengan baik. Jika akhirnya kemudian konflik pun terjadi, maka harus ada upaya untuk menyelesaikannya. Kita bisa saja “berkelahi”, namun sedapat mungkin kita berdamai. Semoga Tuhan, menjaga kebersamaan kita.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul