Header Ads

Budaya Sebagai Infrastruktur Penguatan Paham Keagamaan


Keberagamaaan, budaya dan semangat kebangsaan tidak bisa diceraiberaikan sebab ketiganya terhubung secara interkorelatif dan integral dalam hubungan vertikal - horizontal yang kokoh dan saling menopang satu sama lain. Sebagaimana struktur masyarakat Yatsrib yang dibangun oleh Rasulullah SAW, piagam Madinah secara jelas mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, keberaturan dalam hiterogenitas suku dan agama yang hidup secara berdampingan dan saling menguatkan sebagai ummatan wahidah min duuninnas, satu entitas masyarakat yang tunduk pada tata nilai yang satu dengan tetap dihormatinya hak-hak dasarnya masing-masing sebagai entitas budaya dan agama. Maka sebagaimana semangat tersebut, sejak awal kali Nahdlatul Ulama berdiri telah menegaskan sikap kebangsaannya yang tegas bahwa bangsa Indonesia adalah Darussalam (negeri yang damai), dan bukan Darul Islam (negara Ialam). Hadhratusyaikh KH. Hasyim Asy'ari memperkuat sikap tersebut dengan mengatakan bahwa Islam dan nasionalisme bukanlah dua kutub yang dapat dipertentangkan satu sama lain: hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman).

Hiterogenitas bangsa Indonesia dengan ragam bahasa dan tradisi lokalnya masing-masing adalah kekayaan yang melimpah yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT, dimana umat Islam tersebar di beragam kebudayaan tersebut dan hidup di dalamnya. Maka melangsungkan kehidupan beragama, tanpa harus tercerabut dari akar kebudayaan lokal masing-masing -- sejauh sebuah tradisi tidak bertentangan dengan syariat sebagaimana dicerminkan dalam pendekatan dakwah Walisongo -- adalah formulasi terbaik dimana keberagamaan, budaya lokal pada akhirnya dapat makin memperkuat rasa keterpautan kita sebagai ummatan wahidah hingga tidak mudah dicerai-beraikan oleh kekuatan-kekuatan lain yang menginginkan kegagalan kita sebagai sebuah negara kesatuan dengan Pancasila sebagai landasan dasarnya. Sementara sikap NU terkait hubungan Islam dan Pancasila sudah sangat terang sebagaimana termaktub dalam butir-butir Deklarasi Situbondo 1983.

Atas dasar itu maka dalam Harlah Nahdlatul Ulama yang ke 91 PBNU akan menggelar sejumlah acara dengan balutan tema budaya sebagai infrastruktur penguatan paham keagamaan. Kegiatan Pra-Harlah yang diselenggarakan Lesbumi PBNU diantaranya akan diisi dengan sejumlah pameran naskah-naskah dan keris Nusantara, Ngaji Sinema serta Diskusi Budaya.

Sumber: Fanspage Lesbumi PBNU
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul