Header Ads

Negeri Totabuan Dalam Bayang-Bayang Bogani

LesbumiNU; Diskusi rutin Pusat Studi Masyarakat Muslim Minahasa (PS-MMM), membahas buku Negeri Totabuan Dalam Bayang-Bayang Bogani; Lanskap Budaya, Perilaku Politik, dan Kekuasaan Orang Mongondow karya Irawan Paputungan, Kamis (26/01). Kajian kali ini menghadirkan langsung penulis buku tersebut untuk menjadi pematik diskusi. 

Dalam mukaddimah pembahasan, Irawan menyampaikan hasrat penelitian tesisnya yang kemudian dibukukan tersebut sebagai sebuah upaya melakukan pembacaan secara kritis terhadap eksistensi kebudayaan Mongondow. Baginya, terasa seperti miris jika dikatakan bahwa budaya dan adat istiadat Mongondow tidak termasuk dalam catatan sejarah Nusantara, khususnya sejarah-budaya Sulawesi. "Kalau bicara Sulawesi Utara, kita selalu terjebak pada konotasi Manado dan Minahasa. Padahal ada Mongondow yang secara teritorial berada di kawasan wilayah ini." Sahut Irawan.

Putusnya mata sejarah itu, dewasa ini, bahkan sejak daerah Bolaang Mongondow (Bolmong) berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat jarang ditemukan perhatian putra daerah jika tidak dikatakan pudar untuk melakukan kajian dan pendalaman atas entitas masyarakatnya. 

Ketika gelombang arus desentralisasi semakin menguat, Bolmong segera menentukan sikap dengan memekarkan wilayah. Usaha pada arah pembangunan ke arah lebih baik itu tidak sia-sia. Penetapan pemekaran daerah kabupatan Bolmong akhirnya disahkan. Pengesahan itu tidak berarti bahwa masalah di daerah lalu beres dengan sendirinya. Justru sebaliknya, pengesahan itu mewariskan tanggungjawab dan menambah beban baru, khususnya dalam hal konfigurasi sosial dan kekuasaan simbolik yang diperankan Guhanga dan elite politik di daerah. 


Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul