Header Ads

Pesantren, Sistem Pendidikan Asimilatif Nusantara

Proses penyebaran Islam di Indonesia tercata sejak perempat akhir abad ke-7 Masehi, yakni saat kekuasaan Ratu Simha di Kerajaan Kalingga di Jawa sebagaimana diberitakan sumber-sumber Cina dari Dinasti Tang. Namun Islam kurang diterima baik, karena orang Arab (tazhi) yang datang di Kalingga menimbulkan tindakan tidak simpatik yang mengakibatkan kaki putera mahkota Kalingga dipotong (Groeneveldt, 1877).

Selanjutnya, bermunculan pandangan-pandangan teoritik seputar masuknya Islam di Indonesia. Pertama-tama, sejumlah sarjana Belanda seperti C.Snouck Hurgronje dan J.P.Moquette yang meyakini Islam datang ke Indonesia dari India selatan atau Gujarat. S.Q. Fatimy (1963) menolak teori ini dengan mengajukan data sejarah yang menyatakan bahwa pada abad ke-10 Masehi, terdapat migrasi suku-suku dari Persia ke Indonesia yaitu suku Lor, Yawana dan Sabangkara. Orang-orang Lor mendirikan pemukiman yang disebut Loram dan Leran, sedang suku Yawana dan Sabankara tinggal di Sumatera. Terdapatnya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatallah di Leran, Gresik, adalah bukti kebenaran berita tersebut.
Seperti S.Q. Fatimy, Marrison menolak teori India terutama Gujarat. Pasalnya, pada saat Islamisasi Samudera Pasai hingga raja pertamanya wafat pada 1297 M, Gujarat masih Hindu. Marrison berasumsi bahwa Islamisasi di Nusantara dibawa oleh saudagar-saudagar dari Coromandel. Sarjana Belanda yang lain seperti R.A.Kern, R.O. Winstedt, Bousquet, Gonda, dan Schrieke mendukung teori yang menyatakan bahwa Islam disebarkan dari Bengal. Sementara sarjana lain, termasuk sarjana Indonesia, meyakini Islamisasi Nusantara berasal langsung dari Arabiyah.
Lepas dari perbedaan teori asal-usul penyebaran Islam di Indonesia, pada akhir abad ke-13, tepatnya tahun 1292 M, Marcopolo yang kembali dari Cina lewat lautan dan singgah di kota Perlak, mencatat bahwa di Perlak sudah ada pemukim muslim Cina maupun Persia dan Arab sedang penduduk pribumi Perlak masih memuja batu, pohon dan ruh.
Tahun 1386 M penduduk muslim Cina di Kanton, Yangchou dan Chanchou melakukan eksodus ke selatan akibat kebijakan kaisar pertama dinasti Ming, Shu Yuan Zhang. Mereka menghuni pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatera. Mereka yang berpangkalan di pantai timur Sumatera, terutama di Palembang, dipimpin Liang Tau Ming, Cheng Po-ko, Chen Tsui, Shi Chin Ching. Antara 1405-1433 dalam tujuh kali muhibah, Laksamana Cheng Ho mengunjungi negeri selatan dan mmenemukan komunitas Cina Muslim dan timur tengah di Bandar-bandar pelabuhan pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatera. Namun seperti migran-migran sebelumnya, ajaran Islam kurang diterima penduduk pribumi. Historiografi Melayu dan Jawa mencatat terjadinya migrasi penduduk muslim terbesar yang berlangsung antara tahun 1446 – 1471 M, yaitu ketika negeri Campa terlibat perang dan dikalahkan oleh Vietnam. Penduduk muslim Campa lari ke selatan dan menghuni pantai timur Sumatera dan pantai utara Jawa. Sebagian malah berkumpul dengan penduduk muslim Campa yang tinggal di ibukota Majapahit sejak 1430-an. Gelombang migrasi penduduk muslim Campa inilah yang diketahui paling besar peranannya dalam proses Islamisasi di Indonesia, karena Islam dikembangkan lewat adat-istiadat dan lembaga pendidikan pesantren.
Islamisasi Lewat Pesantren
Historiografi Jawa Kitab Musarar Babon saka ing Rum menceritakan bahwa Sultan Algabah dari negeri Rum mengirim 20.000 keluarga muslim untuk mengislamkan Jawa. Tetapi banyak si antara mereka yang tewas terbunuh dan hanya sisa 200 orang. Sultan Algabah mengirim lagi 2000 keluarga, tetapi semuanya tewas terbunuh juga. Sultan Algabah marah dan mengirim para ulama sakti yang memiliki karomah, untuk menanam tumbal agar Jawa bisa dijadikan hunian umat Islam. Salah satu di antara ulama itu dikenal dengan nama Syaikh Subakir. Meski sebagian besar sejarawan menganggap cerita dalam Kitab Musarar Babon saka ing Rum itu karya khayal yang sumber-sumbernya banyak dijadikan rujukan dalam menyusun Jangka Jayabaya, namun nama kuno Algabah bukanlah khayal karena nama toponim Algabah kita dapatkan sebagai nama distrik Algabas di tepi Sungai Ural di Kazakhtan yang bermuara ke Laut Kaspia (The Penguin Map of Europe On A Conic Projection, 1985).
Catatan historiografi Jawa ini menunjukkan betapa sulitnya proses Islamisasi di Jawa. Namun seiring kehadiran penduduk muslim Cina pada abad ke-13 dan akhir abad ke-15 serta kehadiran penduduk Campa pada pertengahan abad ke-15, gelombang Islamisasi berlangsung sangat cepat, terutama pada perempat akhir abad ke-15 saat Islam didakwahkan oleh Wali Songo. Salah satu proses Islamisasi yang dilakukan Wali Songo adalah melalui asimilasi budaya dan pengambil-alihan lembaga pendidikan Syiwa-buddha yang disebut Dukuh, yang dipadukan dengan pendidikan Asrama Buddhis dan Padhepokan Kapitayan, menjadi system pendidikan Pondok Pesantren. Hal itu memungkinkan terjadi, karena nilai-nilai yang dianut di lembaga pendidikan Syiwa-buddha yang disebut Dukuh tidak bertentangan dan bahkan memiliki kemiripan dengan ajaran Islam. Sejumlah kemiripan nilai-nilai Syiwa-buddha di Dukuh dengan ajaran Islam, ringkasnya sebagai berikut:
Ajaran Gurubhakti
Lembaga pendidikan Syiwa-buddha yang menganut sistem asrama, bertujuan mendidik siswa agar memiliki pengetahuan mendalam tentang kehidupan terutama dalam pengetahuan keagamaan. Sedang lembaga pendidikan yang mendidik calon pendeta disebut Dukuh, yang bermakna tempat pertapaan. Di lembaga pendidikan Syiwa-buddha itu ditetapkan aturan-aturan ketat yang memiliki kemiripan dengan ajaran Islam.
Naskah-naskah berjudul Silakrama, Tingkahing Wiku dan Wratisasana yang berasal dari era Majapahit, memuat tatakrama siswa di dalam menuntut pengetahuan di Dukuh. Di dalam tatakrama itu, ada bab yang menyinggung tentang Gurubhakti yang berisi tatatertib, sikap hormat dan sujud bakti yang wajib dilakukan para siswa kepada guru ruhaninya. Para siswa, misal, tidak boleh duduk berhadapan dengan guru, tidak boleh memotong pembicaraan guru, menuruti apa yang diucapkan guru, mengindahkan nasehat guru meski dalam keadaan marah, berkata-kata yang menyenangkan guru, jika guru datang harus turun dari tempat duduknya, jika guru berjalan mengikuti dari belakang, dan sebagainya. Ketundukan siswa kepada guru adalah mutlak karena guru adalah pengejawantahan Sang Mahaguru, yaitu Syiwa sendiri.
Gagasan guru dalam Silakrama mencakup tiga (triguru), yaitu orang tua yang melahirkan (guru rupaka), guru yang mengajarkan pengetahuan ruhani (gurupangajyan) dan raja (guruwisesa: gagasan ini kita, sampai sekarang masih temukan dalam masyarakat muslim di Madura yang mengenal konsep bapa-babu-guru-ratu – pen). Yang paling beroleh penghormatan dari ketiga guru itu adalah gurupangajyan, karena gurupangajyan telah membukakan kesadaran kedua untuk mengenal kehidupan di dunia dan akhirat hingga mencapai moksha.
Yamabrata
Selain gurubhakti, naskah Silakrama mengatur tatakrama seorang siswa dalam menuntut pengetahuan yang disebut Yamabrata. Yang dimaksud yamabrata adalah aturan yang mengatur tatacara pengendalian diri, yaitu meliputi prinsip hidup yang disebut ahimsa (tidak menyakiti, tidak menyiksa, tidak membunuh), menjauhi sifat krodha (marah), moha (gelap pikiran), mana (angkara murka), mada (takkabur), matsarya (iri dan dengki), dan raga (mengumbar nafsu). Di dalam naskah Wratisasana disebutkan lima macam yamabrata yang mencakup ahimsa, brahmacari, satya, aharalaghawa, dan asteya.
Prinsip ahimsa secara umum dimaknai tidak menyakiti dan tidak membunuh. Seorang wiku harus memiliki sifat kasih sayang terhadap semua makhluk. Tetapi dalam Silakrama ditegaskan bahwa seorang wiku (siswa ruhani), boleh melakukan himsakarma (qishash), yaitu membunuh atau menyakiti orang jahat yang berlaku kejam terhadap dirinya dalam usaha bela diri. Tetapi himsakarma tidak boleh dilakukan terhadap penjahat yang sudah tertangkap dan tidak berdaya. Wiku yang disiksa, ditindas, dianiaya, dipukuli, dicaci-maki, harus membalasnya secara setimpal.
Yang disebut brahmacari, dalam kehidupan masyarakat Hindu adalah bagian dari caturasrama, di mana seorang siswa calon pendeta atau calon seorang penuntut dharma mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan berdasar tingkatan dan tatacara hidup, yaitu brahmacari, grhastha, wanaprastha, dan bhiksuka. Seorang brahmacari dalam tatanan masyarakat Jawa Kuno terbagi atas tiga golongan, yaitu Suklabrahmacari, yaitu yang tidak berhubungan seksual dengan perempuan sejak kecil (tan parabi sangkan rare), Sawalabrahmacari, yaitu yang menikah hanya sekali seumur hidup (tan parabi muwah), dan Trsnabrahmacari, yaitu yang beristeri lebih dari satu tetapi paling banyak empat isteri.
Disebutkan di dalam Silakrama, bahwa seorang wiku harus bersifat satya yaitu jujur, tidak bicara kotor (wakparusya), ucapannya tidak menyakitkan hati, tidak memaki, tidak menggerutu dan menyumpahi, tidak berdusta (ujarmadwa). Satya juga bermakna taat dan setia melakukan brata yang terkait dengan makanan, minuman, tatacara berpakaian, tempat tinggal, hingga perhiasan yang disebut sebagai satyabrata.
Di antara isi satyabrata yang sangat mirip syariat Islam adalah yang menyangkut halal dan haramnya makanan (tan bhaksanan) dan minuman (apeya-peya), di mana seorang wiku diharamkan memakan: daging babi peliharaan (celengwanwa), anjing (swana), landak, biawak, kura-kura (kurma), badak (warak), kucing (kuwuk), tikus, ula, macan, kukur (ruti), kalajengking (teledu), kera (wre), rase, tupai (wut), katak (wiyung), kadal (dingdang kadal), hewan melata, burung buas (krurapaksi), burung gagak (nilapaksi), lalat (laler), kepinding (tinggi), kutu (tuma), ulat atau cacing tanah (bhuhkrimi), dan sebagainya. Seorang wiku tidak boleh memakan makanan yang tidak suci (camah) atau menjijikkan dan diragukan kesuciannya. Selain makanan, seorang wiku juga wajib menghindari minuman keras yang memabukkan seperti arak, nira, anggur, brem, ciu.
Seorang wiku dalam berpakaian pun harus mengikuti aturan, seperti menggunakan kain yang dilipat pada dada kanan (sampet), memakai kain pembalut bagian atas (wedihan) dan bagian bawah (dodot) tubuh, berikat pinggang (masabuk), memakai kopiah besar (aketu agung), berdestar (adastar), memakai surban (abebed sirah), boleh bergundul (amundi), membawa untaian biji tasbih (aksamala), berbedak wangi (abhasma).
Niyamabrata
Niyamabrata tak jauh beda dengan yamabrata, yaitu pengendalian diri. Tetapi niyamabrata memiliki makna tingkat lebih lanjut. Silakrama menyebut, niyamabrata bukan saja melarang wiku marah tetapi sudah pada tingkat tidak suka marah (akrodha). Secara ruhani, siswa selalu ingin berhubungan dengan guru (gurususrusa), memohon kebersihan batin (sausarcara), mandi tiap hari mensucikan diri (madyus acuddha sarira), bersembahyang memuja Syiwaditya, melatih menyemayamkan Tuhan di dalam hati (maglar sanghyang anusthana), berdoa (majapa), dan mahoma. Di dalam ilmu tasauf, yamabrata dan niyamabrata dapat dibandingkan dengan takhalli (usaha membersihkan diri dari nafsu-nafsu rendah -pen) dan tahalli (menghiasi diri dengan sifat-sifat Tuhan-pen) sehingga seorang penempuh jalan ruhani tercapai tajalli (penyingkapan diri-pen) beroleh pencerahan mengetahui Kebenaran Sejati.
Awaharalaghawa
Aharalaghawa adalah bagian dari niyamabrata yang bermakna tidak berlebihan. Ini dalam konsep Jawa disebut Madya — ora ngaya lan ora ngangsa – tidak berlebihan dan tidak melampaui batas (di dalam Islam disebut wasathan – pen). Aharalaghawa, lebih dimaknai makan tidak berlebihan (tidak makan jika tidak lapar dan makan pun tidak boleh kenyang), memakan makanan suci, membatasi makan daging (bhogasarwamangsa), bersyukur dengan makanan yang dimakan (santosa), tidak rakus (wubhuksah), tidak malas dalam menjalankan kewajiban (apramada).
Bagian akhir sesudah aharalaghawa adalah asteya, yaitu tidak mengikuti hasrat hati untuk memiliki hak milik orang lain bahkan terhadap hak binatang sekalipun. Silakrama menyebut, jika seorang wiku mengambil milik orang lain tanpa ijin (panyolong-nyolongan), mencuri (malinga), mengutil (angutil), menadahi hasil kejahatan (anumpu), merampok (ambegal), melakukan tindak kriminal (corah), merampas (angalap), berkawan pencuri (amitra maling), meminjam tidak mengembalikan (anyelang drewyaning sanak tan pangulihaken), utang-piutang dengan bunga (rna-rni), berjudi (ajudi), dan perbuatan nista lain, maka ia akan jatuh martabat dan kehormatannya (panten). Wiku yang panten akan dikucilkan, tidak boleh dilihat (tan wenang tinghalana) dan tidak boleh diajak bicara (sabhasanen).
Berdasar uraian di muka, jelaslah bahwa naskah Silakrama yang menjadi pedoman pendidikan seorang wiku (calon pendeta Syiwa-buddha) menunjukkan kemiripan dengan pedoman pendidikan di dalam pesantren-pesantren tradisional Islam, di mana aspek pendidikan lebih dititik-beratkan kepada pembentukan watak dan budi pekerti siswa-siswa yang ditandai oleh lulusan-lulusan berwatak mulia, cerdas, berbudi pekerti luhur, jujur, tidak membenci, suka menolong, menjalankan ‘syariat’ dengan baik, selalu bersyukur dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.
Bertolak dari kemiripan-kemiripan ajaran Syiwa-buddha dengan Islam – sebagaimana tertulis dalam naskah Silakrama dan Tingkahing Wiku dan Wratisasana – para ulama di era Wali Songo tidak mengalami kesulitan di dalam membumikan Islam di Jawa. Salah satu usaha yang tampaknya dilakukan oleh ulama-ulama era Wali Songo adalah mengembangkan jumlah asrama dan dukuh (tempat tinggal para wiku) ke berbagai Thani (sebutan desa di era Majapahit – pen). Yang paling jelas menyisakan legenda dan mitos pembangunan dukuh-dukuh ini adalah tokoh Syaikh Lemab Abang atau Syaikh Siti Jenar, yang diketahui membangun puluhan dukuh bercitra caturbhasa mandala yang dinamai Lemah Abang (tanah merah), Lemah Putih (tanah putih), Lemah Ireng (tanah hitam), dan Ksiti Jenar (tanah kuning). Sejumlah desa di sekitar makam Walisongo, seringkali menunjuk keberadaan Dukuh yang menandakan di tempat itu pernah terjadi proses pendidikan peralihan dari Dukuh ke pesantren.
Tampaknya, melalui pengembangan asrama dan dukuh-dukuh yang semula merupakan tempat bermukimnya para siswa dan wiku, ajaran Islam dapat berkembang di tengah masyarakat. Sebab semakin banyak dukuh dan semakin banyak orang menjalani kehidupan sebagaimana seorang wiku, ajaran Islam yang mirip tatanan Syiwa-buddha bagi wiku itu semakin berkembang luas di tengah masyarakat. Itu sebabnya, kelahiran Islam tradisional yang khas dari lembaga pendidikan tradisional Dukuh yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren sangat akrab dengan istilah-istilah lokal keagamaan Syiwa-buddha yang ‘membumikan’ istilah-istilah yang berasal dari bahasa Arab seperti Gusti Allah (Allah), Kangjeng Nabi (Nabi Muhammad Saw), Susuhunan (Syaikh Mursyid), Kyai (Syaikh), Guru (ustadz), Santri (murid), Pesantren (tempat tinggal santri), Sembahyang (shalat), Puasa (shoum), Selam (khitan), Tajug atau Langgar (mushola), Swarga (jannah), Neraka (naar), Bidadari (hurin), Lila (ridla), andap-asor (tawadlu’), Ngalah (tawakkal), dan tradisi-tradisi keagamaan Kapitayan dan Syiwa-buddha yang tidak terdapat dalam ajaran Islam seperti Bedhug (tambur tengara sembahyang di sanggar atau vihara), Tumpeng, Tumbal, Nyadran (dari upacara Sraddha, yaitu berkirim doa kepada arwah leluhur), sesaji atau bebanten untuk arwah, dsb.
Pasang Naik Pesantren
Menjelang akhir Majapahit, pesantren-pesantren yang menggantikan asrama dan dukuh Syiwa-buddha telah tumbuh berkembang menjadi lembaga pendidikan tempat siswa menuntut ilmu. Menurut C.C. Berg (dalam Gibb, 1932:257) kata santri berasal dari istilah sashtri, yang di dalam bahasa Sansekerta bermakna orang yang mengetahui kitab suci (sashtra). Sekalipun pondok pesantren berasal dari mandala Syiwa-buddha tetapi santri bukanlah para pendeta (Geertz, 1960:243). Namun demikian, siswa yang bukan pendeta itu dituntut untuk patuh dan setia kepada guru ruhani sebagaimana cantrik dalam padhepokan. Itu sebabnya, murid di Dukuh Islam tidak menggunakan kata sashtri, melainkan santri, perpaduan antara kata sashtri dengan cantrik.
Sejak kebangkitan Kesultanan Demak, praktis pesantren menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam tempat anak-anak masyarakat dididik. Para putera raja, bupati, nayakapraja, saudagar, pujangga, petani, nelayan, dan perajin jika menuntut ilmu pengetahuan, akan dikirim ke pesantren-pesantren yang ada dewasa itu. Dari pesantren-pesantren lahirlah tokoh-tokoh pemimpin dan cendekiawan serta filsuf termasyhur. Sejarah mencatat bahwa tokoh Raden Patah, Sultan Trenggana, Sultan Adiwijaya, Sultan Agung, Patih Jugul Muda, Pangeran Kajoran, Sultan-sultan Yogyakarta, raja-raja Surakarta, raja-raja Mangkunegaran, Sultan-sultan Banten, Sultan-sultan Cirebon, pujangga Yosodipuro, Pakubuwono IV, Pangeran Diponegoro, filsuf Ronggowarsito adalah tokoh-tokoh lulusan pesantren. Karya-karya besar di bidang hukum seperti Angger Surya Ngalam (KUHP Demak), Jugul Muda (KUHP Pajang), Angger Pradata Dalem dan Angger Arubiru (KUHP Mataram) lahir sebagai fakta sejarah keberhasilan pesantren dalam mencetak lulusan berkualitas. Selain itu lahir pula karya-karya besar di bidang pemerintahan seperti Serat Nitipraja, Serat Nitisruti, Serat Tripama, Serat Wulangreh, bahkan karya-karya filsafat dan metafisika seperti Sastra Gending, Serat Jatimurti, Suluk Wujil, Wirid Hidayat Jati, Suluk Linglung, Serat Kalatidha, dsb.
Sebagaimana akar nilai-nilai asrama dan dukuh yang bersifat agamis, pesantren pun tumbuh berkembang di dalam nilai-nilai agamis yang ditopang akhlak Islami. Pesantren mencetak siswa-siswa yang selain memiliki pengetahuan mendalam tentang kitab suci juga mengembangkan pengetahuan di bidang ilmu hukum, ilmu pemerintahan, ilmu kalam, ilmu falak, metalurgi, ilmu nujum, ilmu manthiq, ilmu tasawuf, dengan ditambah adat-tradisi yang terpengaruh masyarakat muslim Campa dan India Selatan. Bahkan sejak selesainya Perang Diponegoro, pengaruh pesantren tumbuh pesat di berbagai tempat akibat pengungsian para pengikut Pangeran Diponegoro ke luar wilayah Mataram, yang ditandai tumbuh tegaknya pesantren-pesantren baru.




* Oleh: K Ng H Agus Sunyoto
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul