Header Ads

Sejarah Perang Rakyat; Sebuah Pembukaan

Jauh sebelum kedatangan Kolonialis Eropa yang diawali kedatangan Bangsa Portugis yang menaklukkan Malaka pada 10 Agustus 1511 M di Nusantara telah terbentuk kekuasaan yang menurut Anthony Giddens (1984) bisa disebut Nation State yang didasarkan pada kekuatan senjata, di mana kekuasaan berada di dalam genggaman golongan aristokrat yang bersifat otoriter sebagaimana tercermin pada keberadaan Kerajaan Kutei, Tarumanagara, Sriwijaya, Sunda, Mataram, Singasari, Majapahit, dan Demak.
Sebagaimana lazimnya kekuasaan di wilayah kepulauan yang berorientasi maritim, kerajaan-kerajaan di Kepulauan Nusantara sudah mengenal perdagangan jarak jauh atau long distance trade, yang oleh sumber Cina yang dicatat Wan Zhen menggambarkan bahwa sejak akhir abad ke-3 kapal-kapal berukuran besar dari negeri orang-orang Kunlun di selatan yang disebut Po, kata yang sepadan dengan kata Tamil Padao dan kata Melayu Perahu, telah berniaga hingga ke Nanking dengan upeti berupa kayu cendana, rotan, tanduk badak, burung nuri, kain katun, dan senjata (Lombard, 2005).
Sumber Arab yang ditulis Ibnu Lakis bertahun 334 H/ 945-946 M menyebutkan bahwa kira-kira seribu perahu yang dinaiki orang Waqwaq yang sampai di pantai Mozambik yaitu orang-orang yang tinggal di kepulauan yang berhadapan dengan Negeri Cina untuk mencari bahan perniagaan yang cocok untuk negeri mereka dan untuk negeri Cina seperti gading, kulit kura-kura, kulit macan tutul, ambar, dan terutama budak Zanggi, yang menurut Gabriel Ferrand (1904, dalam Lombard, 2005) Waqwaq dari kata Malagasi whoaka yang bermakna rakyat, hamba, yang dikiranya berasal dari bahasa Bantu, meski kata whoaka itu sepadan dengan kata Jawa Kuno Wka atau Weka yang bermakna anak, orang, hamba (Zoetmulder, 1997) atau menurut Otto C. Dahl (1951, dalam Lombard, 2005) kata itu berhubungan dengan etimologi Nusantara, yakni bahasa Maanjan.
Perdagangan jarak jauh dari kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara itu didasari prinsip-prinsip universal perniagaan yang tercermin pada konsep Mitreka Satata yang dianut Kerajaan Majapahit, yaitu persahabatan yang sederajat di mana tidak ada satu pun negara yang merasa paling berkuasa atas negara lain, sebagaimana ditulis Prapanca dalam Negarakretagama bahwa Majapahit bersahabat dengan negara-negara yang jauh di Asia Tenggara dan Asia Selatan seperti Syangka, Ayudaputra, Dharmanagari, Marutama, Rajaputra, Campa, Kamboja, dan Yawana (Pramudito, 2006; Muljana, 2006; Riana, 2009).
(* diambil dari buku "Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta 10 November 1945" karya KH. Agus Sunyoto, yang insyaallah akan diterbitkan Lesbumi PBNU pada awal tahun 2017.)
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul