Header Ads

Diskusi Buku

Apakah "pengasingan" tokoh-tokoh Islam oleh Kolonial ke Tondano (Minahasa) benar-benar "membungkam" gerakan mereka???

Bagaimana proses pembentukan peradaban yang dikelola oleh kelompok "buangan" ini di tengah-tengah masyarakat lokal yang berbeda tradisi dan keyakinan?

Dalam catatan sejarah, eksistensi tokoh-tokoh yang dituduh pemberontak oleh rezim penjajah itu nyatanya telah mampu memproduksi kebudayaan baru.

Jawa Tondano (Jaton), terlahir dari perjumpaan sekaligus benturan identitas-identias yang berbeda. Kelompok pendatang (yang diasingkan) dengan kaum pribumi membaur sekaligus membentur.

Islam, Kristen, Minahasa, Jawa, dan beragam suku etnis serta kepercayaan bergumul dalam satu wadah yang akhirnya melahirkan budaya, bahasa, dan karya baru. Jaton.

Lepas dari apapun konstruksi sejarah, saat ini, potret cara manusia Jaton mengelola keragaman menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji, direkonstruksi bahkan ditulis ulang.

Roger Allan Christian Kembuan telah berhasil melakukan penelitian serius untuk mengungkap tabir-tabir yang masih tersembunyi tentang kisah Jaton ini. Ada temuan-temuan segar yang perlu dishare ke ruang publik sebagai amunisi pengetahuan sejarah Islam (di) Minahasa. Hasil penelitian inipun menjadi tesis penting bagi khazanah kesejarahan di Sulawesi Utara.

PW Lesbumi NU Sulut pernah mengadakan diskusi khusus dengan beliau untuk membedah fakta-fakta sejarah Jaton. Kala itu, mener sejarah ini belum lama menyelesaikan studi S2-nya di Yogyakarta. Kini, bekerja sama dengan Yayasan Kyai Modjo dan Kerukunan Keluarga Indonesia Jawa Tondano (KKJI) Manado, kembali menggelar diskusi terbatas yang secara fokus membedah buku Sang Mener. Diharapkan, diskusi ini bisa merekomendasikan program kerja keummatan yang senantiasa melek sejarah dan sanggup berkehidupan sosial sebagai wujud dari mandat sejarah itu.

Kami akan meminta kesediaan penulis untuk membahasnya dan akan tandem dengan Prof. Ishak Pulukadang sebagai ketua Yayasan Kiai Modjo untuk memaparkan sejarah dan fenomenologi Jaton.

Sementara Dr. dr. Taufiq Pasiak yang belakangan konsen pada isu-isu sosial budaya ini bertugas untuk menanggapi buku sekaligus melemparkan opini kesejarahan Jaton, apalagi beliau bagian dari Kerukunan Keluarga Indonesia Jawa Tondano Manado. Sedangkan Budayawan Reiner Moh Yusuf Ointoe akan mewarnai diskusi dengan tambahan-tambahan referensi bacaannya tentang sejarah dan kebudayaan di Sulawesi Utara, khususnya Islam Minahasa. Ditambah pensiunan dosen jebolan Jerman ini baru saja menerbitkan buku fiksi sejarah Manado 1830.

Melalui diskusi ini, setidaknya kita mencoba untuk mengimplementasikan apa yang disebut Sri Margana "tiga unsur penting" yang membentuk keindonesiaan, yaitu pendidikan, pengetahuan dan pengalaman sejarah. Jika pendidikan memeberikan dasar, maka pengetahuan dan pengalaman sejarah memperkuatnya.

Saya akan memandu diskusi ini untuk lebih terarah pada fokusnya. Kami akan mengagendakan diskusi publik setelah agenda terbatas ini terselenggara.

Kami hanya bisa mengundang beberapa tamu pembahas lainnya untuk ikut menjadi penambah amunisi dan modal pengetahuan dalam diskusi ini. Iya, hanya 25 orang. Insya Allah pelaksanaannya di Markas Kebudayaan Wale Kaleosan Kediaman Dr. Taufik Pasiak, Jl. Camar II, Perkamil-Malendeng, Kota Manado.

Diskusi bertajuk "Jawa Tondano; Antara Sejarah, Politik Identitas dan Pluralisme" ini digelar pada Rabu, 19 Juli 2017 pukul 19.00 Wita Hingga selesai.

Setiap peserta akan diberi buku yang akan didiskusikan. Serta akan mencicipi hidangan sederhana, Ubi - Ikang Bakar - Gahwa dan Gohu Gusao !!!

Sekali lagi maaf, kami hanya membatasi diskusi ini sebanyak 25 peserta. Kami pastikan akan membentuk kepanitiaan yang akan menggelar diskusi publik terkait tema-tema seperti ini.

Untuk yang ingin bergabung silahkan menghubungi saudara Muhammad Iqbal Al-Musthafa (+62 813 56713542) sebagai fasilitator kegiatan.

Mari cintai sejarah ... !!!

Hormat Saya,
Syafieq Bilfagih
Ketua PW Lesbumi NU Sulut.
Moderator Diskusi.
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul