Header Ads

'Tradisi' Bunuh Diri, Antara Gangguan Jiwa dan Kehilangan Makna Hidup


Banyak yang penasaran, mengapa seseorang bahkan mungkin berkelompok, rela menghilangkan nyawanya sendiri (bunuh diri) karena alasan-alasan yang kadang tidak rasional.
Di Jepang, istilah Harakiri begitu familiar. Bahkan bunuh diri yang dilakukan karena kesetiaan kepada majikan dan menanggung rasa malu ini telah menjadi tradisi yang sakral bagi masyarakat di Negeri Matahari tersebut. Dalam catatan sejarah, bunuh diri di Jepang pun dilakukan secara masal seperti aksi para serdadunya yang menghadang pasukan Amerika.
Di Amerika Selatan, era 70-an, hampir 1000 orang meninggal dunia akibat bunuh diri massal. Menariknya, ini karena pidato berapi-api seorang yang dianggap berpengaruh.
Di Indonesia, meski tergolong kecil, gerakan bunuh diri hampir menghiasi pemberitaan. Motifnya, Anda bisa memprediksinya sendiri. Mulai dari atas nama jihad, putus asa, dan beragam alasan lainnya.
Banyak lagi kasus-kasus bunuh diri yang bisa Anda temukan dari catatan-catatan sejarah. Bahkan mungkin, beberapa saat lagi, Anda akan mendengar peristiwa serupa disekitar.
Selain ingin mengetahui hal yang melatar belakangi seseorang tekad melakukan bunuh diri, alangkah baiknya kita mempelajari dari sisi medisnya. Sore ini, seperti biasa, Kedai Kopi Shaad akan menggelar diskusi rutin yang mendatangkan pakar untuk membahas tema-tema menarik.
Kali ini, diskusi akan fokus pada masalah Bunuh Diri Antara Gangguan Jiwa dan Kehilangan Makna Hidup. Mubahis yang akan menjelaskan materi tersebut adalah seorang Psikiater; dr. Anita Dundu, SpKj (Kepala Staf SMF Penyakit Jiwa RSUP Prof. Kandou).
Sebagai Pembanding, Dr. dr. Taufiq Pasiak, ahli otak dan perilaku manusia sekaligus aktivis ini pastinya akan mengupas melalui sudut pandang neurosains dan spritualitas terhadap tindakan seseorang yang melakukan bunuh diri.
Selain keduanya, akan banyak pakar yang hadir dengan beragam latar belakang. Mereka akan memberi sumbangsih pemikiran dan gagasan terkait masalah ini.
Kedai Kopi Shaad, berada di depan kantor Kementerian Agama Manado, Jl. WR. Supratman. Anda bisa datang pada pukul 15.00 Wita, Sabtu, 14 Oktober 2017. Namun perlu kami sampaikan, bahwa tempat ini tidak besar. Sehingga hanya bisa menampung kurang lebih 20 orang. Kegiatan ini gratis. Tapi, alangkah baiknya Anda membeli Kopi Khas di kedai ini.
Bagi yang tidak sempat datang, Anda bisa membuka akun Haryanto Anthosebagai owner Kedai Kopi Shaad. Biasanya yang bersangkutan melakukan dokumentasi siaran langsung FB.
Mari lanjutkan tradisi diskusi, baca buku, tabayyun, dan yang utama NGOpi...
Hormat Kami,
Syafieq Bilfagih
Ket. PW Lesbumi NU Sulut
Fasillitator
Reiner Emyot Ointoe
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul