Header Ads

Catatan Sang Pengacara Tionghoa Tentang Gus Dur


Kami merindukanmu Gus ...
Hari ini, 8 tahun lalu, tepatnya hari Rabu, 30 Desember 2009 Pukul 18.45 WIB di rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, ketua Tim Dokter yg merawat Gus Dur yakni dr. Yusuf Misbah yang didampingi Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengumumkan meninggalnya Gus Dur panggilan akrab KH. Dr. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia, Bapak Bangsa, Pahlawan, Bapak Pluralisme & Multikulturalisme, Bapak Tionghoa Indonesia ...
Kami merindukanmu Gus ... 
Sewindu sudah kepergianmu, namun bangsa ini masih tercabik-cabik oleh kepentingan politik yang kemudian diwujudkan dengan sikap intoleransi, radikalisme bahkan NKRI yang didirikan bersama terancam perpecahan, apalagi pasca pilkada DKI Jakarta dan ditahannya Ahok membuat semakin ngeri keadaan ini. Berita hoax, fitnah dan ancaman disintegrasi bangsa semakin memperburuk keadaan dan situasi negeri.

Untunglah ada kegiatan yang mengobati kerinduan ini Gus. Hari Kamis lalu tepatnya tanggal 28 Desember 2017 Menghadiri undangan Sewindu Haul Gus Dur di Hotel JLES Kanaka Manado, membuat kerinduan akan sosok Dirimu Gus ditengah-tengah maraknya intoleransi, radikalisme dan terorisme sedikit terobati.
Ketika diminta sahabatku Syafieq Bilfagih ketua Lesbumi NU Sulut sebagai pembawa acara untuk memberikan testimoni maka dikesempatan yang baik tersebut saya menyampaikan beberapa hal :
saya bersyukur diundang dalam kegiatan tersebut karena sosok Gus Dur adalah tokoh yang sangat saya kagumi. Sambil bercanda saya katakan saya memakai baju khas Tionghoa karena menghormati Gus Dur yang mengakui bahwa beliau adalah keturunan Tionghoa bermarga Tan. Saya mendengarnya sendiri saat bertemu Gus Dur dalam berbagai kesempatan.
Saya mengklarifikasi pembicara sebelumnya yang menyatakan bahwa Gus Dur meresmikan agama Khonghucu saat menjadi Presiden RI keempat. Sesungguhnya, Gus Dur tidak meresmikan agama Khonghucu tapi memulihkan hak-hak sipil umat Khonghucu. Sebelumnya, agama Khonghucu sebagaimana amanat konstitusi dan UU No. 1 Pnps tahun 1965 dilayani oleh negara dan diberi bantuan pemerintah. Hal ini terjadi selama masa Bung Karno sebagai Presiden. Namun, ketika Soeharto dengan rezim orde barunya berkuasa justru melakukan diskriminasi terhadap agama Khonghucu terutama berbagai kebijakan politik hukum diantaranya menerbitkan Inpres 14 tahun 1967. Hambatan dan diskriminasi ini kemudian dicabut oleh Gus Dur ketika menjadi Presiden dengan menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000. Gus Dur telah “membuka keran” hambatan & diskriminasi panjang. Gus Dur memulai era perayaan tahun baru Imlek Nasional yang diselenggarakan oleh MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).
Presiden Megawati kemudian menerbitkan Kepres No. 19 tahun 2002 Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi Hari Libur Nasional. Selanjutnya, MATAKIN terus berjuang hingga mulai tahun 2006 pemerintah melayani & memberi bantuan terhadap agama Khonghucu di masa Presiden SBY. Umat Khonghucu bisa mencantumkan agama Khonghucu pada kolom agama di KTP. Catatan Sipil mencatatkan perkawinan Khonghucu, murid & Mahasiswa Khonghucu mendapatkan pendidikan agama Khonghucu, dilayani di Kementrian Agama, ikut dalam kepengurusan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) diberbagai daerah, dll.
Bagi Umat Khonghucu, Gus Dur adalah sosok pelindung bagi minoritas dan bapak Pluralisme, Bapak Tionghoa Indonesia, Pahlawan dan Bapak bangsa. Ketika menjadi Ketua umum PBNU, tahun 1993 Gus Dur turut berjuang bagi umat Khonghucu dan memberi dukungan bagi pasangan suami istri Khonghucu Lani Guito & Budi Wijaya asal Surabaya yang menggugat Catatan Sipil Surabaya ke PTUN karena tidak mencatatkan pernikahan mereka. Gus Dur beberapa kali hadir dalam persidangan. Saya masih ingat saat itu saya mendukung perjuangan tersebut melalui tulisan saya di surat pembaca Majalah Tempo (6 November 1993).
Saya mengenal Gus Dur pertama kali melalui Tulisannya tentang Nurcholis Madjid, Amien Rais & Buya Sfaii Maarif yang dimuat di majalah Tempo, pada bulan Maret 1992, dengan judul “Tiga Pendekar dari Chicago”. Sejak saat itu saya selalu mengikuti ulasan-ulasan Gus Dur di berbagai media massa dan mengklipingnya termasuk ulasan tentang sepak bola. Saya masih menyimpannya hingga saat ini.
Peristiwa bersejarah saat bulan Juli 1998 Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa dan pada tanggal 7 Februari 1999 PKB memutuskan Gus Dur sebagai calon Presiden. Saat itulah saya bertemu Gus Dur pertama kali di Manado pada pertengahan tahun 1999. Di Hotel Novotel Manado (kini hotel Aryaduta) diadakan dialog antara Gus Dur dengan pada tokoh agama & tokoh masyarakat pada malam hari, sayapun ikut hadir. Demikian pula keesokan harinya dialog serupa diadakan tapi khusus dengan tokoh-tokoh Tionghoa Sulut. Sayapun kembali hadir di kesempatan kedua ini dan menyampaikan pertanyaan dan pendapat yang dijawab lugas oleh Gus Dur.
Saat itu saya bertanya apakah yang akan dilakukan Gus Dur seandainya terpilih sebagai Presiden RI atau jika tidak terpilih sebagai Presiden berkaitan dengan eksistensi agama Khonghucu di Indonesia. Gus Dur menjawabnya dengan lugas dan sambil guyon “apapun keadaannya, saya tetap bersama umat Khonghucu. saya siap bela mati-matian agar umat Khonghucu bisa merasakan kebebasan beragama & beribadat di Republik ini”. Saat rehat ngopi dan berkumpul dengan teman-teman, saya masih ingat didekati Pak Alwi Shihab yang menyapa dengan ramah sambil mengajak diskusi yang intinya beliaupun memberi dukungan bagi perjuangan umat Khonghucu. Kelak, Pak Alwi Shihab menjadi Menteri Luar Negeri dan ketua PKB.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Oktober 1999 Gus Dur dilantik menjadi Presiden RI menggantikan Prof. Dr. BJ Habibie. Gus Dur menepati janjinya, langkah awalnya adalah dengan mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang ditandatangani Presiden kedua RI Soeharto dengan menerbitkan Keppres 6 tahun 2000. Ada banyak kisah menarik soal ini. Pasca diterbitkannya Keppres yang mencabut Inpres 14 tahun 1967 maka “keran kebebasan” bagi umat Khonghucu juga masyarakat Tionghoa telah dibuka oleh Gus Dur.
Banyak yang mengklaim bahwa atas jasa merekalah Gus Dur mencabut Inpres 14 tahun 1967 hingga Perayaan tahun baru Imlek bisa dirayakan secara terbuka bahkan kebudayaan Tionghoa bisa kembali diekspresikan. Saya telah beberapa kali menulis di media massa diantaranya di koran Komentar dengan judul “Gus Dur dan Tionghoa” yang merupakan penjelasan sejarah dibalik lahirnya Keppres 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres 14 tahun 1967.
Ketika Gus Dur menerima tokoh MATAKIN Ws. Budi S. Tanuwibowo dkk yang mengusulkan agar diadakan Perayaan tahun baru Imlek Nasional (Imleknas) dan disetujui Gus Dur sebagai Presiden, ada satu kendala yakni adanya Inpres 14 tahun 1967. Oleh Gus Dur langsung segera diproses dan dicabut Inpres buatan Soeharto tersebut. Hingga akhirnya MATAKIN mulai melaksanakan perayaan tahun baru Imlek Nasional hingga saat ini dan dihadiri Presiden RI Gus Dur dan diikuti kemudian oleh Presiden berikutnya.
Tahun 2000, saya beruntung bisa bertemu kembali dengan Gus Dur di istana Negara. Berkah Gus Dur kemudian saya bisa bertemu Presiden SBY tahun 2013 hingga Presiden Jokowi. Pada saat duduk bersama, sambil menepuk kaki saya dengan tangan kirinya, Gus Dur kemudian mengatakan teruslah semangat belajar agar kelak bisa menjadi seorang pemimpin. Berkah Gus Dur 17 tahun yang lalu semoga bisa terwujud kemudian nanti tapi yang pasti bukan sebagai politisi karena “passion” saya bukan menjadi seorang politisi.
Saat menjalankan tugas profesi Advokat, saya bolak balik ke tanah Jawa sejak tahun lalu hingga kini masih akan saya lalukan karena sedang menangani perkara tanah di Jawa Timur juga kepentingan perkara di Jakarta. Saya yang hobi naik kereta api, suatu saat singgah beberapa hari di kota Semarang Jawa Tengah. Betapa kagetnya saya ketika berkunjung ke tempat Perkumpulan Boen Hian Tong, salah satu perkumpulan Tionghoa tertua di Semarang, ada papan Sinci, bertuliskan nama Gus Dur yang disembahyangi. Sayapun langsung menaikkan dupa Tiam Hio menghormati Gus Dur. Syukur Gus Dur adalah Tokoh NU, saya membayangkan kalau saja diperlakukan bagi tokoh kaum radikal pasti sudah diserbu lokasi tersebut.
Saat pelaksanaan Acara Perayaan Nasional Hari lahir Nabi Kongzi ke 2567 (9 Oktober 2016) merupakan berkah tersendiri bagi saya karena bisa duduk satu panggung dengan Istri Gus Dur Ibu Sintya Nuriah di Jakarta saat acara Kirab di Taman Mini Indonesia Indah. Tanggal 21 November 2016, bahagia bisa bertemu dengan adik kandung Gus Dur, Ibu Lily Wahid di hotel Ibis Manado saat saya diundang pada acara Sarasehan Kepahlawanan sekaligus pelantikan Ikatan Keluarga Pahlawan Indonesia (IKPNI) Sulawesi Utara.
Sebagai seorang lelaki, saya jarang menitikkan airmata apalagi sampai menangis. Namun, ketika menonton acara Rosy di Kompas TV yang menayangkan kisah Gus Dur dan menghadirkan Istri dan anak-anak Gus Dur, sungguh membuat saya terharu dan menitikkan airmata. Sebagaimana juga hal yang sama tanpa saya sadari, menitikkan airmata saat Gus Dur dilengserkan dan meninggalkan istana dengan mengenakan celana pendek juga saat Gus Dur meninggal pada hari ini delapan tahun yang lalu.
Sewindu sudah Gus Dur telah pergi, saya yang sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Gus Dur, terus berusaha mengumpulkan buku-buku tentang Gus Dur dan membacanya seraya mengoleksinya di perpustakaan pribadi di rumah.
Acara Sewindu Haul Gus Dur kali ini memberikan kebebasan bagi kami untuk membawakan puisi, testimoni, bahkan saya bisa menyanyi karena dimintakan sahabat saya ketua Lesbumi NU Sulut. Selain saya, ada beberapa orang yang memberikan testimoni seperti sahabat tokoh Muhammadiyah hingga para sahabat syiah dan ahmadiyah. Demikian pula, Pendeta Nico Garao Gara, MA. dan Pastor Rein Saneba serta Ketua PWNU Sulut Pak H. Syaban Mauluddin mantan kepala kantor Kemenag Sulut. Mendengarkan syair Urdu dari penganut Ahmadiyah. Demikian pula Nyanyian khas sang Habib Taufiq Bil Faqih yang menggugah rasa seni.
Bahagia pula bisa bertemu kembali dengan sahabat teman satu sekolah di SMA budayawan Amato Assagaf putera tercinta Alm. KH. Arifin Assagaf dan mendengarkan pembacaan puisi yang katanya laporan kepada Gus Dur.
Sungguh, acara yang luar biasa. Terobati dengan hadir dalam acara Sewindu Haul Gus Dur. Terima kasih sahabat Rusli Umari (ketua Gerakan Pemuda Anshor Manado) Lesbumi NU Sulut, Rahman Mantu (Koord. Gusdurian Manado)  dkk semua.
Gus kami merindukanmu. Pemikiran dan gagasanmu tentang Republik ini, tentang Pluralisme dan multiKulturalisme hingga perdamaian dan perlindungan bagi sesama manusia, sungguh masih banyak yang harus saya pelajari dan semoga anak-anakku dapat turut pula mempelajarinya Gus ...
Gus, masih ada hasrat dan niatku yang belum kesampaian. Saya ingin berziarah ke makammu suatu saat, seraya berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena kami bersyukur ada seorang Gus Dur dan NU yang selalu menjadi penjaga negeri dan pelindung kaum minoritas ...
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul