Header Ads

Puisi Amato Assegaf Pada Sewindu Haul Gusdur di Manado


INDONESIA JERNIH
(mungkin) sebuah laporan setelah sewindu kepergian Gus Dur

Hari ini aku begitu merindukanmu, Gus...
Di antara Jakarta dan, kampungku, Manado... bayangkan, Gus, Indonesia ternyata masih ada. Padahal aku tidak lagi yakin, setidaknya hari ini, apakah seperti ini Indonesia yang diinginkan oleh Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka.

Beberapa tahun yang lalu, ketika kau masih ada, Gus... aku pernah punya Indonesia atau, tepatnya, harapan tentang sebuah Indonesia. Lalu, seperti setiap orang baik lainnya, kau pergi dengan damai... dan aku mulai kehilangan gambaran tentang Indonesia. Harapan itu memang masih ada tapi Indonesia sepertinya terus menjadi kabur. Maka aku tak malu untuk mengaku bahwa hari ini, Gus, aku begitu merindukanmu.
Dua hari yang lalu, sepupuku menelpon dari jauh. Kami bicara tentang Indonesia yang terus mengabur dari kesanggupan kami untuk membicarakannya dengan akal sehat. Kami mencoba untuk menengok kembali ke belakang, mencari sepenggal Indonesia yang barangkali masih tersisa dalam kabut pikiran kami.
Tapi yang kami temukan hanya orang-orang yang keranjingan Tuhan, Gus... beserta petaka yang mereka ciptakan dengan kalap dan mengepulkan debu ke udara negeri ini. Berdiam di situ seperti kabut yang panas dan menyesakkan paru-paru, membuat Indonesia perlahan mengabur.
Satu jam ngobrol lewat telpon genggam hanya memberi kami harapan namun, tetap saja, tanpa Indonesia yang jernih. Lalu sepupuku terdengar menghela napas dengan keras sebelum mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sungguh wajar meski, tak jarang, terasa sia-sia untuk diajukan: “Akankah kelak ada orang seperti Gus Dur?”
Kenapa dia menanyakan itu, Gus? Kenapa setiap kali ada anak bangsa yang kehilangan akal sehat, kami selalu merasa kamu terlalu cepat pergi? Kenapa kami seketika berubah menjadi orang-orang yang tak rela menerima kenyataan bahwa kamu sudah pergi? Tapi maafkan kami, Gus... mungkin hanya itu cara orang kecil seperti kami menjaga akal sehat, sekaligus menjaga harapan kami akan sebuah Indonesia yang jernih.
Hari ini, Gus, aku begitu merindukanmu...
Setelah sewindu kepergianmu, ibu pertiwi masih terdengar isaknya. Anak bangsa tinggal wajah tanpa rupa, dan semesta Indonesia tercecer dalam kebencian dan fanatisme yang entah berasal dari mana. Karena aku tak perlu menggali terlalu dalam untuk menemukan bahwa lapis-lapis tanah republik ini tidak pernah menyuburkan akar pohon yang angkuh dan garang terhadap sesama saudara sebangsa atas nama tuhan apapun atau kitab suci manapun.

Tapi apa yang terjadi, Gus, adalah kepedihan yang lebih dalam. Pedih bukan karena ribut-ribut itu, bukan karena kegaduhan yang mereka ciptakan, bahkan mungkin bukan karena kepulan debu yang menyesakkan udara itu. Tapi pedih karena, seperti yang selalu kau ajarkan, Indonesia pasti mengabur jika akal sehat dan kejernihan pikiran akhirnya melenyap.
Ada yang berteriak khilafah, Gus, dan ada yang berteriak Pancasila. Tapi yang berbeda dari mereka hanya apa yang mereka teriakkan. Selebihnya adalah kemarahan yang sama, kesangaran yang sama, keganasan yang sama atau, dengan kata lain, fanatisme yang sama-sama buta.
Aku tidak hanya sedih oleh mereka yang meneriakkan khilafah, karena ketololan punya warna yang sama dengan fanatisme buta. Dan itu sudah sama kita pahami. Aku justru sedih ketika ada seorang lelaki muda dengan kaos bertulis “aku Pancasila” dan memaki orang Papua sebagai monyet yang tak tahu diuntung hanya karena mereka berbeda paham dan keyakinan.
Indonesia luluh, Gus, bukan karena kita punya musuh tapi karena kita punya sekutu yang siap membunuh hari esok atas nama kemarin dan hari ini. Indonesia mengabur tidak hanya karena ada yang ingin menghancurkan Pancasila tapi juga karena ada yang menggunakan Pancasila untuk memaki dan mempersekusi sesama anak bangsa.
Indonesia itu, Gus, antara Jakarta dan kampungku Manado memang masih ada. Tapi hanya dalam kenangan ketika, delapan tahun yang lalu, aku menonton televisi yang mengabarkan kepergianmu. Indonesia itu, Gus, kini sudah jadi kapling-kapling kepentingan politik, ideologi jumud, dan ajaran agama instan dari google dan youtube. Indonesia itu, Gus... Indonesia yang pernah kau jaga dengan pikiranmu yang jernih, itulah Indonesia yang kini mengabur.
Atau apakah mungkin aku telah salah membaca Indonesiamu, Gus? Aku mungkin sudah terlalu percaya padamu bahwa sebuah bangsa bisa dijaga dengan akal sehat dan harapan akan masa depan. Bahwa kemarahan, kesangaran, dan keganasan itu hanya pantulan dari kurangnya pendidikan rakyat, jatah makan orang miskin yang terus berkurang, negara yang semakin menjadi leviathan, dan para intelektual yang berubah menjadi demagog atau, setidaknya, aktivis partai dengan kemampuan berpikir yang tidak pernah jauh dari momentum pileg dan pilkada.
Tapi sungguh ini bukan keluhan, Gus, ini adalah laporan tentang Indonesiamu dan Indonesiaku setelah sewindu kepergianmu. Ini adalah apa yang bisa aku renungkan setelah tak ada lagi yang tersisa untuk aku renungkan dengan rasa bangga. Dan jika aku membacakannya dalam irama yang sendu dan terdengar seperti mengeluh, itu karena napasku sudah sesak oleh debu kedangkalan pikiran dan empati atas orang lain yang memenuhi udara republik ini hari ini.
Indonesia yang kamu tinggalkan, Gus, masih Indonesia yang sama dengan hari ini. Maksudku, masih ada bau busuk itu, Gus. Masih ada dan masih juga sengit. Aku pernah sebentar berkeliaran di gedung-gedung parlemen pusat dan daerah dan mencium bau busuk itu. Aku pernah sebentar singgah di kantor-kantor pemerintah pusat dan daerah dan mengendus bau busuk itu.
Dan, seperti yang pernah kau peringatkan, Gus... aku juga mengendus bau busuk itu di ruang-ruang kelas perguruan tinggi dan sekolah-sekolah, di markas-markas organisasi massa dan mahasiswa, di rumah-rumah ibadah dan gedung-gedung kesenian. Ketika sedang tak ada keributan, Gus, bau busuk itulah yang menyebar.
Dan sementara ada mereka yang penciumannya tak lagi peka pada bau busuk itu, bergaul di dalam lingkungannya dan menularkan bau busuk yang sama ke dalam rumah-rumah mereka, ke ruang-ruang pribadi mereka. Ada pula beberapa yang terlalu peka pada bau busuk itu, muntah-muntah dan menjadi terlalu lemah untuk membersihkan udara Indonesia dari bau busuk itu.
Dan, ini laporan terakhirku, Gus, ada beberapa yang lain yang mulai berpikir bahwa bau busuk itu datang dari tanah air republik ini, dari asas-asas berbangsa dan bernegara yang telah ditetapkan sejak awal oleh para pendiri republik ini, dari detik demi detik yang telah kita lewati bersama sebagai sebuah bangsa demi sebuah masa depan Indonesia yang jaya. Mereka itulah yang kini bikin ribut, Gus, karena ingin mengganti semua yang telah kita bangun dengan sebuah ideal antah berantah yang, katanya, telah ditetapkan tuhan mereka.
Tuhan yang mana, Gus, aku juga tidak tahu. Yang pasti bukan tuhan yang pernah aku dengar kau bicarakan. Karena jika kita mengendus bau dengan akal sehat dan pikiran jernih, aku yakin kita bisa mencium bahwa tuhan mereka juga menyebarkan bau busuk yang sama. Dan sepertinya kita tidak bisa mengambil pengharum dan menyebarkannya ke udara republik ini untuk mengusir semua bau busuk itu. Karena yang harus kita lakukan adalah mencari sumber bau busuk itu dan membuangnya jauh-jauh. Tapi, seperti yang pernah kau ajarkan, kita tidak bisa melakukan semua itu tanpa akal sehat dan harapan akan sebuah Indonesia yang jernih.
Hari ini, aku begitu merindukanmu, Gus...
Dan jangan tanya kenapa aku masih merindu. Karena merindukanmu, bagiku dan bagi banyak saudaraku yang lain, sesungguhnya hanyalah satu cara untuk merintihkan kerinduan kami pada sebuah Indonesia yang jernih.

Manado, Desember 2017
Amato Assagaf
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul