Header Ads

ASTADASA KOTTAMANING PRABHU: Sebuah Warisan Konsep Kepemimpinan Adiluhung

2018-2019 menjadi tahun "panas" kontestasi politik dimana warga bangsa Indonesia akan memilih pemimpin-pemimpinnya, baik di level daerah maupun nasional. Ada baiknya bangsa ini merefleksi konsep kepemimpinan untuk menjaga spirit dan orientasi mengapa pemimpin tetap dibutuhkan dan kriteria-kriteria apakah yang semustinya menjadi acuan bagi warga untuk memilih, sehingga yang disebut "pesta demokrasi" memilih pemimpin tidak justru menjadi ajang dan tangga bagi naiknya orang-orang jahat untuk duduk di tampuk-tampuk kepemimpinan dan selanjutnya menimbulkan petaka-petaka baru bagi masyarakat dan warga bangsa secara keseluruhan. Tulisan K Ng H Agus Sunyoto berikut menggali dan mengetengahkan konsep kepemimpinan yang pernah dimiliki oleh Nusantara sebagai warisan sejarah yang sudah pada tempatnya kita jaga dan adaptasi selama nilai-nilai tersebut dapat memberi manfaat bagi keberlangsungan bangsa.
***
ASTADASA KOTTAMANING PRABHU:
Sebuah Warisan Konsep Kepemimpinan Adiluhung
*Oleh : K Ng H Agus Sunyoto
Di tengah kecarut-marutan kehidupan masyarakat Indonesia akibat melimpah-ruahnya konsep-konsep yang mengalir dari fenomena liberalism telah menimbulkan kemandegan dan kebekuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap kali orang membincang soal pemerintahan – dari tingkat desa sampai ibukota – yang muncul dalam stigma pemikiran adalah keberadaan uang sebagai panglima, yang disebut money politic. Akibat fenomena itu, orang seorang di antara anak bangsa ini hanya mungkin menjadi pemimpin di tingkat desa, kabupaten, propinsi, dan bahkan nasional jika didukung kekuatan uang.
Akibat langsung dari fenomena ‘uang sebagai panglima’ adalah kejungkir-balikan nilai-nilai kepemimpinan yang selama ratusan tahun telah menjadi gagasan, konsep, pandangan, ide-ide, dan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia. Akibat kemenangan berbasis uang, lahir pemimpin-pemimpin bodoh, curang, tidak jujur, licik, bahkan kurang waras. Masyarakat pun tidak lagi memiliki parameter untuk menetapkan kriteria pemimpin yang pantas memimpin mereka, karena citra pemimpin dewasa ini sudah identik dengan uang. Siapa yang memiliki uang – meski tidak waras dan sangat tolol – akan dipilih menjadi pemimpin oleh rakyat.
Lepas dari pertimbangan penting dan tidak penting, mengetahui dan memahami gagasan, pandangan, ide-ide, wawasan, konsep-konsep, dan nilai-nilai kepemimpinan yang pernah diletakkan oleh leluhur bangsa adalah sebuah keniscayaan. Dengan memahami konsep kepemimpinan leluhur, anak-anak bangsa akan mengetahui bagaimana kebesaran dan keagungan bangsanya di masa silam yang tidak saja berkuasa dan berdaulat di negeri sendiri melainkan berhasil pula memakmurkan dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyat negerinya. Di antara gagasan kepemimpinan yang pernah diterapkan di Indonesia masa silam adalah yang dikenal dengan sebutan Astadasa Kottamaning Prabhu, yang paparan ringkasnya sebagai berikut:
1.Wijaya
Seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan, karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan. Hanya pemimpin bijaksana yang akan memenangkan segala macam permasalahan.

2.Mantriwira
Seorang pemimpin harus berani membela dan menengakkan kebenaran dan keadilan, tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun. Pemimpin tidak boleh sarat pamrih karena pamrih akan menimbulkan tekanan dan rasa takut atas sesuatu.

3.Natangguan
Seorang pemimpin harus bersifat amanah sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut, sebagai tanggungjawab dan kehormatan.

4.Satya Bakti Prabu
Seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tiggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa dan negara.

5.Wagmiwak
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan, serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.

6.Wicaksaneng Naya
Seorang pemimpin harus bijaksana dan pandai berdiplomasi serta pandai mengatur strategi dan siasat.

7.Sarjawa Upasama
Seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, bersikap mentang-mentang menjadi pemimpin dan tidak sok berkuasa.

8.Dirotsaha
Seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum.

9.Tan Satresna
Seorang pemimpin tidak boleh memihak dan pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasai segala paham golongan. Sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk menyukseskan cita-cita bersama.

10.Masihi Samasta Buwana
Seorang pemimpin harus mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Tuhan dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat.

11.Sih Samasta Buwana
Seorang pemimpin harus dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin harus mencintai rakyatnya.

12.Negara Gineng Pratijna
Seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarganya.

13.Dibyacita
Seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan inspiratif).

14.Sumantri
Seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa.

15.Nayaken Musuh
Seorang pemimpin harus dapat menguasai musuh-musuhnya, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri (nafsunya/sadripu).

16.Ambeg Parama Arta
Seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum. Pemimpin tidak diperkenankan mengutamakan kepentingan diri pribadi.

17.Waspada Purwa Arta
Seorang pemimpin harus selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan dari kelemahan dan kekerangannya.

18.Prasaja
Seorang pemimpin harus berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya, bermegah-megah, hidup serba gemerlap.

[ PANCA TRIDHARMANING PRABHU ]
Sekalipun seorang pemimpin sudah memenuhi 18 kriteria kepemimpinan tetapi masih harus dilengkapi dengan lima ilmu kepemimpinan yang wajib dijalankan seorang poemimpin. Dalam Serat Rama disebutkan bagaimana Prabu Arjuna Sasrabahu dalam memimpin Negara merumuskan ilmu kepemimpinan yang dikenal dengan sebutan Panca Titi Darmaning Prabu, yang bermakna lima kewajiban sang pemimpin, yang meliputi:
1.Handayani Hanyakra Purana
Seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan, motivasi dan kesempatan bagi para generasi mudanya atau anggotanya untuk melangkah ke depan tanpa ragu-ragu.

2.Madya Hanyakrabawa
Seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya senantiasa berkonsolidasi memberikan bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah dan mufakat yang mengutamakan kepentingan rakyat.

3.Ngarsa Hanyakrabawa
Seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri tauladan bagi masyarakatnya.

4.Nir Bala Wikara
Seorang pemimpin tidaklah selalu menggunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya. Namun berusaha menggunakan pendekatan pikiran dan lobi, sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesaingnya.

5.Ngarsa Dana Upaya
Seorang pemimpin sebagai seorang kesatria harus senantiasa berada di depan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakatnya.

[ [SAD AWYAKTA DHARMANING PRABHU ]
Selain Astadasa yang ditambah Panca Tridharma sebagai kriteria dan kewajiban yang harus dimiliki seorang pemimpin, terdapat pula beberapa kriteria yang harus dimiliki dalam kepemimpinan yang lebih sempurna, sehingga semakin menunjang keberhasilan dari seorang pemimpin maupun mereka yang dipimpin. Di antara hal terkait kepemimpinan itu dikenal sebagai Sad Awyakta Dharmaning Prabhu, yang penjelasannya sebagai berikut:
1.Abikamika
Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi ke bawah dan mengutamakan kepentingan rakyat lebih banyak dari pada kepentingan pribadi atau kepentingan golongan.

2.Prajna
Pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana, menguasai agama, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dapat dijadikan panutan bagi rakyatnya.

3.Usaha
Pemimpin harus proaktif, berinisiatif, kreatif dan inovatif (pelopor pembaharuan) serta rela mengabdi tanpa pamrih untuk kesejahteraan rakyatnya.

4.Atma Sampal
Pemimpin harus mempunyai kepribadian: berintegritas tinggi, moral yang luhur serta obyetif dan mempunyai wawasan yang jauh ke masa depan demi kemajuan bangsanya.

5.Sakya Samanta
Pemimpin sebagai fungsi kontrol harus mampu mengawasi bawahan (efektif, efisien dan ekonomis) dan berani menindak secara adil bagi yang bersalah tanpa pilih kasih (tegas).

6.Aksudra Pari Sakta
Pemimpin harus akomodatif, mampu memadukan perbedaan dengan jalan permusyawaratan dan pandai berdiplomasi, menyerap aspirasi dari bawahan dan rakyatnya.

Memperhatikan apa yang pernah diterapkan oleh para pemimpin di antara leluhur bangsa kita pada masa lalu, terutama yang diterapkan Mahapatih Mangkubhumi Pu Gajah Mada, menjadi terang dan jelaslah bahwa ajaran kepemimpinan itu sangatlah penting. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana seseorang mampu memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin yang baik di mana dia dituntut keharusan fundamental untuk memiliki strategi dan kemampuan yang sangat baik, sebab seorang pemimpin harus sadar bahwa untuk berhasil mencapai tujuan dari suatu gagasan ideal sangat tergantung kepada kemampuan diri sendiri dalam mewujudkannya dalam kenyataan, yang hal itu mudah diucapkan tetapi sulit diamalkan dalam kehidupan nyata.

Sumber: Fanspage Lesbumi PBNU
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul