Header Ads

Dukung Program Kajian Anak Muda NU, Lesbumi Serahkan Novel Calabai



lesbumi-nu.net | Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Sulawesi Utara, Taufik Bilfagih, menyerahkan 4 buku novel Calabai karya Syaprillah Syahrir kepada Pengurus Cabang PMII Metro Kota Manado. Sumbangan buku ini dilakukan setelah kegiatan Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR) Syari'ah Komisariat PMII IAIN Manado yang digelar di Markas Lesbumi NU Sulut. 

Pada kesempatan tersebut, Taufik memberikan pesan kepada kader-kader PMII untuk dengan konsisten melanjutkan tradisi diskusi. "Novel Calabai adalah karya anak muda NU, bang Peppy. Ia bisa menulis, apalagi buku ini masuk kategori novel terbaik tahun 2017, adalah hasil dari tradisi membaca dan diskusi yang intens. Untuk itu, pemberian buku ini memiliki pesan khusus kepada sahabat-sahabat untuk terus konsisten berdiskusi." Ujar dosen IAIN Manado ini.

(Diskusi Lesbumi tentang Calabai bersama Penulisnya, buka di http://www.lesbumi-nu.net/2017/09/catatan-utama-diskusi-novel-calabai.html )

Sejak awal, Lesbumi NU Sulut memberikan apresiasinya kepada kader-kader muda NU yang mau merawat gerakan kebudayaan. "Tidak hanya PMII, terhadap siapa saja yang mau dengan serius untuk melakukan kajian kebudayaan, aksi-aksi melanjutkan tradisi bahkan program-program seni budaya, maka Lesbumi akan bekerja sama. Sebab, di tengah arus globalisasi yang kencang seperti sekarang ini, dibutuhkan kerja-kerja sosial dan kebudayaan dalam rangka meneguhkan semangat beragama dan berbangsa dengan baik" tambah Bilfagih. 

"Terkait dengan novel Calabai" Taufik melanjutkan, "Lesbumi pernah mengadakan bedah novel tersebut bersama dengan penulisnya. Namun, kami masih menganggap belum maksimal. Sehingga, kami mendistribusikan ke sahabat-sahabat kemudian nanti akan ada diskusi khusus terkait buku ini. Tidak menutup kemungkinan kita akan mengundang Bang Peppy. Bagi Saya, novel ini sangat bagus. Ini kisah nyata bagaimana seorang pria tetapi bergaya wanita namun ia justru merupakan seorang pemangku adat, Bissu. Ini bukan LGBT. Tapi ini adalah gerakan kebudayaan berbasis lokal. Semoga kelak kita akan mengupasnya lagi lewat kajian. Saya juga berharap mereka yang diberikan buku mau membacanya dengan serius." tutup Ketua Lesbumi tersebut. (Adm)


Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul