Header Ads

Sosok Gus Dur bagi Penganut Ahmadiyah, Syiah dan Konghucu

lesbumi-nu.net | Delapan tahun silam, tepatnya pada 30 Desember 2009, Presiden RI ke-4, Abdurahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur tutup usia. Sudah delapan tahun mantan Ketua Umum PB Nahdlathul Ulama itu berpulang, namun kiprahnya tetap dikenang. Termasuk oleh penganut Ahmadiyah, Konghucu, dan Syiah.

“Bicara tentang Gus Dur, selain pemimpin dia juga negarawan. Negarawan itu dia berpikir untuk kemanusiaan, entah keputusan itu populer atau tidak di ruang publik. Kita masih bisa hidup nyaman di Indonesia juga karena usaha dan pemikiran-pemikiran Gus Dur,” papar Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Manado, Muhamad Yaqub dalam acara Sewindu Haul Gus Dur yang diselenggarakan oleh Gusdurian Manado, Kamis 28 Desember 2017.
Bagi Yaqub, sosok adalah bapak bangsa yang menyatukan anak Indonesia tanpa melihat perbedaan. Asri Rasjid dari Jamaah Syiah berharap, Gusdurian bisa memperjuangkan apa yang pernah dilakukan Gus Dur.
“Syiah, saat ada Gus Dur tidak terusir dari tanah sendiri di Sampang. Mudah-mudahan Gusdurian bisa memperjuangkan hal ini,”ujar Asri.
Bahkan Asri menyebut Gus Dur sebagai malaikat yang diutus membela kaum yang terdiskriminasi.
Sementara itu, Jimmy Sofyan Yosadi dari Jemaat Konghucu mengatakan, Gus Dur adalah bapak Tionghoa. “Kalau bagi kami, Gus Dur adalah Bapak Tionghoa. Di jaman Gus Gus sebagai Presiden dia menghapus Inpres Nomor 42 tahun 1967, yang memulihkan hak-hak sipil warga Tionghoa. Jugapengakuan Konghucu sebagai agama,” papar Ko Sofyan, sapaan akrabnya.
Acara yang dikemas dengan nuansa keberagaman serta diselingi dengan pentas seni budaya ini dipandu Taufik Bilfaqih, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi) Sulut dan Ridwan Ahmad.
Kabarmanado.com
Editor: Ady Putong
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul