Header Ads

Nobar Film Menolak Diam, Ketua Lesbumi Ingatkan Mahasiswa Untuk Lebih Kritis


lesbumi-nu.net | Manado - Suara Parampuang (Swapar) Sulawesi Utara bekerjasama dengan Transparansi International Indonesia (TII) menyelenggarakan pemutaran film layar lebar berjudul Menolak Diam, Rabu (14/2/2018).

Film yang di produksi langsung TII ini mengangkat tema tentang korupsi yang terjadi di lingkungan sekolah. FILM ‘Menolak Diam’ merupakan karya Production House Nightbus Pictures yang menjadi media kampanye anti korupsi.

Dalam pemutarn film yang berdurasi 40 menit ini, menyajikan tayangan tentang siswa dan siswi yang berhasil membongkar indikasi korupsi di tempat ia sekolah.

Wawan Suyatmiko dari Transparency International (TI) mengatakan bahwa film menolak diam ini telah mendapat respon dari masyarakat. 

"Film ini kami luncurkan pada 8 Desember 2017. Alhamdulillah hingga saat ini, banyak sekolah yang meminta agar film ini di adakan pemutaran di sekolah. Kemarin kami di IAIN kita nobar bersama dan kali ini dengan teman-teman budayawan" katanya. 

Ketua Lesbumi, Taufik Bilfagih sedang memberikan tanggapannya
Sementara Direktur Swapar Lily Djenan membeberkan, pihaknya tak hanya tergerak dengan kasus terkait perempuan dan anak. “Mengatasi isu korupsi tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada LSM lain yang secara bersama berjejaring memberantas korupsi. Isu korupsi harus menjadi kepedulian semua orang,” tukasnya.

Penulis Skenario Rahabi Mandra yang ikut hadir mengatakan, film ‘Menolak Diam diangkat dari kisah nyata. “Saya pernah menjadi ketua Osis. Sesungguhnya banyak peristiwa-peristiwa korup yang terjadi di sekolah. Tapi Saya dan teman-teman waktu itu tak kuasa melakukan apa-apa. Barang melalui film ini Saya mendidik generasi berikut untuk menolak diam,” sebut Rahabi.

Taufik Bilfaqih selaku Ketua Lesbumi NU Sulut, turut memberikan tanggapannya dalam pemutaran film tersebut. Menurutnya, yang perlu diapresiasi dari film menolak diam adalah kritiknya tidak hanya pada prilaku korup melainkan juga sebagai motivasi bagi mahasiswa untuk bangkit melawan. 

"Sebab film ini dilakoni adik-adik siswa. Sementara gerakan kemahasiswaan belakangan bungkam terhadap tindakan korupsi di lingkungan kampus mereka. Maka film ini kiranya mengetuk jiwa kritis agen-agen perubahan" papar Taufik. 

Selain itu, Fredy Wowor selaku seniman Minahasa melihat film Menolak Diam sebagai sebuah pelajaran penting bagi perbaikan mental bangsa. "Meski demikian, harus juga ada defenisi khusus tentang prilaku korupsi. Karena ada tindakan-tindakan yang secara normatif bisa dianggap korupsi namun dalam konteks budaya tidak. Begitupun sebalikya." Papar Seniman sekaligus dosen Unsrat ini. (adm)

Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul