Header Ads

Islam Pancasila; Diskusi, Nada dan Buka Puasa Lesbumi NU Sulut.

dr. Taufiq Pasiak saat memberikan pemaparan
lesbumi-nu.net | Manado, Membincang ulang Islam Pancasila; Kemanusiaan, Kebudayaan dan Keindonesiaan oleh Lesbumi PWNU Sulut pada Minggu (10/06) dihadiri oleh beberapa tokoh Sulawesi Utara. Diantaranya adalah Hb. Muhsin Bilfaqih selaku pendiri Yayasan Alhikam Cinta Indonesia, Dr. dr. Taufiq Pasiak (pakar Otak dan prilaku manusia), Reiner Oeintoe (Budayawan Sulut) dan Irvan Basri (Lesbumi PBNU). Selain mereka, yang juga didaulat sebagai pemantik diskusi, hadir pula al Munawar bin Rusli (Dosen IAIN Manado), Mardiansyah Usman (Lesbumi PWNU Sulut), Link Bachtiar (pegiat Muda NU Sulut) juga Yulanie Frece (Pendeta). Termasuk para peserta diskusi lainnya yang turut aktif dan eksis dalam mengikuti kegiatan. Kajian kali ini dirangkaikan dengan live musik religi bersama Akhyar Hamzah dan Rizky Hamzah, artis ibu kota sekaligus keluarga Lesbumi NU Sulut. Acara tersebut juga dilanjutkan dengan buka puasa bersama hingga shalat berjamaah. 

Dalam diskusi, Irvan Basri (Ibas)) sebagai pemantik awal menyampaikan gagasannya menyebutkan bahwa eksistensi Pancasila bagi bangsa dan negara ini adalah perwujudan dari nilai-nilai kehidupan manusia Indonesia. Menurut Ibas, setidaknya sebagai sebuah ideologi, Pancasila meski benar-benar menjadi way of life setiap manusia Indonesia. "Seharusnya, implementasi nilai-nilai pancasila ini dapat membuat kita semakin percaya diri dalam berbangsa dan bernegara. Melalui ideologi ini, tidaklah boleh ada kelompok tertentu membuat kelompok lain merasa khawatir, terganggu apalagi mendapat intimidasi." Tegas Ibas.

Pancasila sudah sepantasnya menjadi alat pemersatu bagi segenap kehidupan berbangsa. Para pendiri negeri ini telah bersusah payah merumuskannya dengan beragam semangat dan motiv demi masa depan Indonesia. Sebaik-baik manusia Indonesia adalah mereka yang menjalankan pancasila sebagai spirit hidupnya. Dengan demikian, maka kekhawatiran dalam berbangsa di tengah keragaman akan terkikis secara tidak langsung.

Suasana diskusi dan buka puasa 
Hb. Muhsin, mengawali kalimatnya bahwa Pancasila dan Islam adalah paket. Sehingga itu, memisahkan keduanya adalah satu hal yang tidaklah tepat. "Mungkin, kita bisa sulit saling sepakat dalam pembahasan-pembahasan dengan orang yang berbeda agama. Karena setiap agama punya klaim kebenaran masing-masing. Maka, keberadaan Pancasila-lah yang dapat mempertemukan kita yang berbeda itu. Dalam Islam, semua rumusan pancasila adalah wujud dari nilai ajaran Islam itu sendiri. Oleh karenanya, kita mesti terus memegang teguh pancasila sebagai dasar dalam bernegara" Imbuh tokoh muslim Sulut ini. 

Problem mendasar ketika terjadinya seruan untuk mengganti ideologi negara ini oleh golongan tertentu adalah potret dari sebuah kritik oleh mereka terhadap pengimplementasian pancasila. Dari sini, yang sebenarnya bermasalah adalah warga negara yang masih belum mampu menjaga dan mengaksiomakan pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Diperparah dengan potret pejabat negeri yang sering mempertontonkan kelakuan-kelakuan yang jauh dari pancasilais. Maka akhirnya tak heran, datang golongan-golongan tertentu untuk mempertanyakan kesaktian ideologi ini. 

"Jadi yang keliru hari ini adalah kita sebagai warga negara yang gagal menjalankan kehidupan sosial dengan motivasi pancasila" tegas Habib.

Sementara itu, Taufiq Pasiak melihat ada tiga hal mendasar yang perlu dikaji terkait pengaplikasian nilai-nilai pancasila ini. "Kognitif, Mental dan Personality. Ketiga ini akan merubah prilaku seseorang. Nah, problemnya, kita masih pada tahap Kognitif dan seting mental dalam menjalankan nilai-nilai pancasila. Belum masuk hingga personality. Padahal, jika ketiganya telah berjalan dengan baik, maka Pancasila akan menjadi way of life yang dapat mengubah prilaku kita secara total dalam mengelola bangsa." Ujar dosen UNSRAT tersebut.

Taufiq Pasiak melihat bahwa sesungguhnya Nabi Saw pun ketika mensosialisasikan tauhid kepada umat melalui tiga fase tersebut. Setelah umat dengan penuh kesadaran mampu melanjutkan cita-cita Islam sebagai agama yang damai, maka di saat yang bersamaan Islam menjadi jalan hidup bagi para penganutnya. "Dari sini, sepantasnya pancasila harus kita lestarikan sebagai ideologi hidup warga negara" lajut dokter.

Reiner saat menyampaikan gagasan
Selanjutnya diskusi dihentikan sejenak untuk persiapan berbuka puasa. Forum pun menikmati iringan musik religi oleh Akhyar dan Rizki. Pada sesi setelah buka puasa dan shalat berjamaah, diskusi ini dilanjutkan dengan mendengarkan pemaparan Reiner Oeitoe. Bagi fiksiwan ini, sesungguhnya pancasila dari sisi tertentu belumlah final. Masih ada banyak hal yang perlu dikritik. Meski demikian, pancasila sebagai sebuah dasar negara adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa ditawar lagi. "Yang harus jangan kita lupakan, bahwa pancasila tidak luput dari pembahasa sejarah kehadirannya dengan segenap motivnya. Situasi politik, tawar menawar kemerdekaan, serta posisi pancasila sebagai produk filsafat adalah simbol dari betapa pancasila begitu kompleks" papar penulis novel Manado 1930 ini.

Selanjutnya, Reiner mengingatkan dalam butir-butir pancasila tersebut terdapat ragam bahasa dari luar Indonesia. "Coba kita perhatikan dari sila satu hingga ke lima. Hampir semua sila terdapat adopsi bahasa dari luar. Mulai dari Arab, Cina bahkan Sansekerta dan Melayu. Maka pancasila adalah kumpulan dari ide bangsa-bangsa yang majemuk" sahutnya.

Diskusi yang dipandu langsung oleh Ketua Lesbumi PWNU Sulut, Taufik Bilfaqih ini kemudian memberikan kesempatan kepada audiens untuk ikut merespon. Baik dari segi pernyataan maupun pertanyaan. Setidaknya hampir semua peserta yang hadir turut menanggapi. Acara pun berakhir pada 21.32 Wita. (Adm)
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul