Header Ads

Sahur Bersama di Yayasan Assalam, Rukmina Ceritakan Sejarah Pendirian


Manado – Sahur bersama yang diselenggarakan oleh beberapa elemen masyarakat di Manado, Jumat (01/06/2018), tergolong unik. Tak hanya kalangan umat Islam saja yang hadir, tetapi juga tokoh agama lain termasuk tokoh adat hadir di Pondok Pesantren Assalam, Bailang, Manado.

Ternyata semangat toleransi dan keberagaman di Pondok Pesantren Assalam ini bukan hanya terjadi saat Jumat subuh itu. Melainkan sejak puluhan tahun silam, saat pesantren itu mulai dibangun. “Pesantren ini memang berdiri di tengah – tengah umat Kristiani. Bahkan ada beberapa gereja di sekitar pesantren,” ungkap Dr Rukmina Gonibala, dalam testimoninya saat acara sahur bersama itu.
Rukmina adalah Sekretaris Yayasan Assalam. Dia sudah sejak lama tinggal di kompleks pesantren itu. “Pesantren ini dibangun tahun 1990, di tengah – tengah komunitas umat Kristen,” tutur Rukmina.

Rukmina mengisahkan, kawasan itu dulunya berupa rawa, yang kemudian ditimbun dan dibangun pesantren. Bahkan mesjid dan rumah kiay di kompleks pesantren itu dulunya adalah kandang babi. “Pemilik tanah yang berdiri kandang babi itu mewakafkan tanahnya untuk membangun mesjid,” papar Rukmina yang juga adalah Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado ini.

Dia mengungkapkan, awal berdirinya pesantren itu orang mungkin akan bingung melihatnya. Karena banyak hewan peliharaan babi yang masuk ke halaman pesantren. “Dulu di halaman pesantren ada (hewan) peliharaan yang berkeliaran. Kalau di tempat lain mungkin kelihatan aneh, tapi itulah awal –awal berdirinya pesantren ini,” ujar dia.

Sejak berdiri hingga keberadaannya saat ini, komunikasi antara penghuni dan pengasuh pesantren dengan lingkungan masyarakat sekitar selalu terjaga dengan baik. “Ada di sini yang kami panggil tuan tanah. Kami selalu berkomunikasi dengan baik. Juga dengan masyarakat sekitar,” tandas dia.

Sikap toleransi dan saling menghargai juga ditunjukan umat Kristen maupun Islam yang hidup berdampingan melalui komunikasi yang baik. “Bahkan saat ada warga dari umat Islam yang meninggal, ibadah di gereja dipersingkat. Saya tidak tahu ayat apa yang dipakai sehingga ibadahnya singkat,” ujar Rukmina setengah bercanda.

Di akhir testimoninya, Rukmina kembali mengingatkan semua pihak tentang komitmen untuk menjaga NKRI. “Kita semua elemen bangsa harus tetap menjaga NKRI,” pungkas dia.

Acara sahur bersama ini sedianya akan dihadiri tokoh pluralisme Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid, isteri Presiden RI ke-4, Abdurarahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Sayangnya karena kondisi kesehatan, Shinta batal berkunjung ke Manado.

Koordinator Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), Nia Sjarifudin mengatakan, meski tanpa kehadiran ibu Shinta namun semangat menjaga perdamaian selalu bergelora termasuk di bumi Sulawesi Utara.

Meski demikian, acara itu tetap berlangsung semarak dengan dihadiri ratusan anak panti asuhan, serta dimeriahkan dengan penampilan para pegiat seni dari Lesbumi NU Sulut dibawah pimpinan Taufik Bilfaqih.


Penulis: Yoseph E Ikanubun
Sumber; kabarmanado.com
Posting Komentar
Kirim Feedback
×
_

Kirim Feedback kepada Admin,... Terima kasih.

×
Judul